Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Umat Islam Bagaikan Buih

Rindra Yasin • Jumat, 8 Agustus 2014 | 09:18 WIB
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Thauban RA, Rasulullah SAW bersabda, “setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring (berisi makanan) dan mengajak orang lain makan bersama. Pada saat itu umat Islam justeru banyak, akan tetapi tidak banyak manfaat, tidak berarti, dan tidak ditakuti oleh musuhnya. Mereka ibarat buih di laut. Mereka lemah karena dihinggapi oleh penyakit wahn, yaitu cinta dunia dan takut akan kematian”.

Apa yang diprediksi oleh Rasulullah melalui sabdanya di atas, hampir semua orang tahu, tapi belum tentu semua orang mau tahu apatahlagi ambil tahu. Buktinya, apa yang dikatakan Rasulullah bukan membuat umat semakin mempererat silaturrahim, namun justeru membangun jurang pemisah antarsesamanya. Apakah jurang tersebut dengan bungkus kedaerahan, kelompok, partai, mazhab, kepentingan, materi, dan sebagainya. Padahal, silaturrahim telah diajarkan oleh Allah melalui semangat Idul Fitri. Namun sayangnya semangat silaturrahim pada Idul Fitri masih bersifat simbol yang belum terpatri dalam diri yang berbuah dalam prilaku.

Secara mikro, meski Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas rakyat di negeri ini, namun belum bisa disatukan dalam dimensi praktik berbangsa dan bernegara. Umat Islam acapkali tak mampu menyatukan perbedaan dalam kebersamaan. Bahkan dalam pelaksanaan ibadah haji/umrah pun acapkali bendera kedaerahan, ekonomi, dan status sosial selalu dikibarkan dengan tiang keangkuhan yang sangat tinggi.

Umat Islam selalu mudah terprovokasi dalam denyut nadi otak dan hati yang sangat lemah. Kepedulian dengan sesamanya selalu berada dalam bangunan yang rapuh. Padahal, Rasulullah pernah mengingatkan bahwa “umat Islam laksana sebatang tubuh. Tatkala ada bagian tubuh yang sakit, maka bagian yang lain akan merasakan dan memberikan pertolongan”.  

Tatkala hadis di atas mampu dihayati dan diimplementasikan oleh setiap insan muslim, maka kehidupan baldatun thaiyyibatun wa rabbun ghafur akan mampu diwujudkan. Perbedaan hanya sebatas memperindah kehidupan, namun tatkala bersentuhan dengan agama, maka perbedaan menjadi cair. Keindahan inilah yang dibangun oleh Rasulullah melalui bangunan negara Madinah al-Munawaarah.

Secara makro, sinyalemen Rasulullah semakin kentara wujudnya, sebagaimana yang terjadi di Palestina. Meski semua negara yang berpenduduk mayoritas muslim dianugerahkan Allah dengan kekayaan alam yang berlimpah ruah, namun sayangnya kekayaan tersebut justeru “dikuasai” dikendalikan oleh negara yang tak memiliki kekayaan alam. Bagaikan seorang hartawan yang didikte oleh seorang fakir, memang aneh. Akibatnya, negara Islam diporak-porandakan, baik peradaban, politik, bahkan kedaulatannya.

Apa yang terjadi di Jalur Gaza, seakan memperjelas apa yang dikatakan Rasulullah di atas. Palestina yang sejak awal merupakan negara yang berdaulat, dirampas dengan cara tak berkemanusiaan oleh Zionis Istrael. Meski tindakan kejam ini telah terjadi puluhan tahun lalu, namun negara-negara Islam seakan tak berdaya menahan kekejaman negara kecil seperti Israel.

Israel bahkan dengan lantang meneriakkan kekejamannya dan tak ingin menghentikan agresinya di Jalur Gaza, meski PBB meminta untuk menghentikan perang. Herannya, Amerika yang katanya menjunjung tinggi HAM dengan tegas melegitimasi tindakan Israel. Anehnya, apa yang dilakukan tidak dianggap pelanggaran HAM. Sementara negara Islam hanya terdiam menyaksikan saudara seimannya dibantai bagaikan binatang. Sungguh kebiadaban nyata yang dibiarkan dan dibenarkan.

Benar apa yang dinyatakan oleh Rasulullah sudah sangat jelas dan tegas. Atau kita memang sudah di penghujung zaman dan bangga dengan arogansi individualisme masing-masing.Pilihan selalu ada, bagi yang memiliki hati nurani dan ukhuwah yang dibungkus oleh iman.***


Samsul Nizar
Guru Besar pada Fakultas Tarbiyah & Keguruan UIN Suska Riau Editor : Rindra Yasin