Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Mengenang Harimau Paderi dari Rokan

Rindra Yasin • Rabu, 12 November 2014 | 08:56 WIB
“ …Tiada pahlawan kita yang mati di atas ranjang, tetapi gugur berlumuran darah di medan perang adalah lebih mulia dari pada menutup mata di atas kasur yang empuk…” (Catatan Abdul Qohar dari buku ”Perjuangan Tuanku Tambusai” karangan Umar Ahmad Tambusai)

Di masa Kerajaan Tambusai yang diperintah Seri Sultan Ibrahim dengan gelar Duli Yang Dipertuan Besar Tambusai, agama Islam telah berkembang dengan pesat di sepanjang Sungai Rokan. Pemimpin agama disebut sebagai Wali Syarak, dengan panggilan Imam. Pada masa itu sebagai wali syaraknya bernama Imam Maulana Kali, seorang ulama yang berasal dari Rambah. Imam Maulana Kali adalah seorang yang bijak dan pandai membawa diri, sehingga ia disenangi oleh golongan bangsawan dan golongan adat yang pada mulanya tidak menyenanginya.

Imam Maulana Kali kemudian menjatuhkan pilihan hatinya untuk mempersunting gadis Tambusai, dan tak lama buah dari tali kasih yang terjalin lahirlah seorang bayi laki-laki pada 5 November 1784 dan diberi nama Muhammad Saleh, yang di kemudian hari akan mengisi lembaran sejarah Indonesia sebagai seorang pahlawan yang gagah berani, mengangkat senjata melawan penjajah Belanda.
Ketika Muhammad Saleh berusia tujuh tahun, ayahnya mulai mengajarkannya membaca Alquran dan pengetahuan agama lainnya.

Setelah Imam Maulana Kali merasa bahwa seluruh ilmu pengetahuan yang dimiliki telah diajarkan pada anaknya, maka Muhammad Saleh diantarkan oleh ayahnya berguru ke Sumatera Barat. Pada saat itu dikenal nama-nama H Miskin, H Sumanik, H Piobang, Tuanku nan Ranceh, dan lain-lain sebagai ulama-ulama yang baru pulang dari tanah suci. Pada mulanya, Muhammad Saleh berguru di Bonjol, yang kala itu adalah pusat gerakan ulama-ulama yang kembali dari Makkah, yang kemudian gerakan itu dinamakan Gerakan Paderi.

Setelah para gurunya merasa Muhammad Saleh telah dapat menguasai ilmu agama Islam, maka Muhammad Saleh pun diberi gelar Pakih. Dengan demikian ia dikenal dengan nama Pakih Muhammad Saleh yang biasa disingkat Pakih Saleh.

Setelah pemberian gelar Pakih, para ulama Paderi merasa bahwa Pakih Saleh harus memulai tugas baru yaitu wajib mengajar dan mengembangkan ajaran agama Islam. Pakih Saleh ditunjuk untuk melaksanakan tugasnya di tempat yang paling sulit,  ia dituduh sebagai pengacau yang ingin merombak tradisi dan adat istiadat, karena keselamatannya terancam ia kembali ke Rao.

Di daerah inilah Pakih Saleh meneruskan tugasnya untuk mengembangkan ajaran agama Islam, beliau rela keluar masuk kampung bersama sahabatnya Tuanku Rao untuk mengajarkan agama Islam. Suatu waktu Pakih Saleh kembali ke Dalu-dalu. Pada saaat itu sedang terjadi pertentangan dengan wakil kerajaan. Pakih Saleh kemudian menarik diri dan memilih suatu tempat di pinggir Batang Sosah, di tempat yang baru ini Pakih Saleh mendirikan surau, di sinilah beliau beribadah dan mengembangkan ajaran agama Islam kepada murid-muridnya.

Sementara itu Pakih Saleh mendengar kabar bahwa pertentangan antara pihak Belanda dan kaum Paderi kian meruncing. Perbuatan Belanda menindas penduduk pribumi sangat menggelisahkan dengan adanya kerja rodi yang amat berat. Terbayang olehnya guru-gurunya kaum Paderi yang telah mendidik dan melimpahkan kasih sayang kepadanya. Maka dengan ketetapan hati Pakih Saleh dan beberapa orang muridnya berangkat meninggalkan Dalu-dalu menuju ke Rao untuk memulai perjuangan baru menentang penjajah Belanda.

Tahun 1830 Tuanku Tambusai membangun benteng Rao. Benteng ini dibangun sebagai salah satu strategi perang. Selain itu benteng Rao merupakan pintu gerbang ke arah tiga jurusan Minang Kabau ke arah Barat, Tapanuli ke arah Timur dan Tambusai Riau ke arah Utara. Namun, benteng ini akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada bulan Oktober 1832. Tuanku Tambusai merebut kembali benteng Rao dari Belanda yang telah diganti namanya menjadi Fort Amerongen de Rao, tetapi gagal. Sementara itu tuanku Rao tertangkap dan dibunuh Belanda.

Tuanku Tambusai menjalankan siasat perang gerilya yang sangat menghalangi gerakan pasukan Belanda untuk namun karena bantuan yang terus mengalir guna memperkuat pasukan Belanda, lambat laun daerah kekuasaan dan benteng-benteng pertahanan Tuanku Tambusai satu per satu diduduki oleh Belanda.

Setapak demi setapak Laskar Tuanku Tambusai terpaksa mundur setelah berjuang mati-matian mempertahankan setiap jengkal tanah, dan setelah berlangsung perang yang seru selama 20 hari lamanya, akhirnya Belanda berhasil menduduki Benteng Aur Duri pertahanan terakhir Tuanku Tambusai. Akhirnya setelah melalukan perlawanan yang gagah perkasa, para pejuang Paderi yang berada di bawah kepemimpinan Panglima Medan Tempur Utara Tuanku Tambusai De Padriesche Tiger van Rokan itu menyelamatkan diri ke hilir Batang Sosah (salah satu anak Sungai Rokan) menghilir ke muara Sungai Rokan dan menyeberang ke semenanjung Malaysia. Beliau dan keluarganya menetap di sebuah kampung kecil “Resah” Negeri Sembilan Malaysia.

Pada 12 November 1882 pahlawan yang gagah perkasa, yang tidak mengenal menyerah menghembuskan nafas yang terakhir. Jasadnya terbaring di negeri orang, jauh dari tanah kelahirannya. Pada 7 Agustus 1995 dengan SK Presiden: Keppres No. 71/TK/1995 kepadanya dianugrahkan gelar Pahlawan Nasional. Mungkin tidak ada yang teringat membuatkan monumen untuk mengenang jasanya, namun pada peringatan Hari Pahlawan Nasional ini seyogyanyalah kita kembali mengenang perjuangan Tuanku Tambusai yang berjuang mempertahankan negeri ini. ***


Amrun Salmon
Seniman Pemangku Negeri, Anugerah Seni DKR 2003 Editor : Rindra Yasin