Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pesan pada Tanda Baca Bahasa Arab

Rindra Yasin • Jumat, 20 Februari 2015 | 09:25 WIB
Gramatikal Bahasa Arab juga mengenal huruf hidup (vokal) dan huruf mati (konsonan). Untuk menjadi “hidup” atau “mati”, huruf-huruf Arab dibubuhi tanda-tanda baca. Jika dibenarkan, bahasa adalah tuangan pemikiran pengucapnya (di antaranya) pada simbol-simbol yang dia munculkan, maka tanda baca Bahasa Arab kaya dengan filosofi makna hidup.

Tanda-tanda Baca Hidup dan Mati
Huruf-huruf hidup diwakili oleh tiga tanda baca: Fathah, Dhammah, dan Kasrah. Huruf-huruf mati diwakili oleh satu tanda baca: Sukun. Tanda baca fathah  berbunyi vokal “a”. Tanda baca dhammah berbunyi vokal “u”. Tanda baca kasrah berbunyi vokal “i”. Bunyi vokal “e” inklud ke dalam vokal “i”, dan vokal “o” inklud ke dalam vokal “u”. Huruf mati berbunyi sebagaimana suara nama huruf tersebut. Huruf ba, misalnya, akan berbunyi ab ib ub bila kemasukan tanda sukun. Huruf sin  berbunyi as is us. Agar menjadi huruf “mati” yang bisa berbunyi, huruf-huruf yang kemasukan tanda sukun harus diawali oleh huruf hidup.

Makna Simbolik
Filosofi pertama yang didapat pada tanda baca Bahasa Arab: Tidak ada mati tanpa diawali oleh hidup. Hidup dan mati adalah pasangan yang keberadaan satunya melazimkan keberadaan yang lain. Pepatah Gontoriun: Takut hidup, mati saja. Takut mati, jangan hidup. Mengenai ini Alquran sudah menyinggung: “…Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan, agar Allah menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling bagus perbuatannya.” (Q.S. Al-Mulk[67]: 2). Allah memulakan menyebut mati, karena mati pasangan hidup dan ia begitu pasti. Filosofi makna hidup selanjutnya didapat dengan cara mengupas arti dari setiap nama tanda baca tersebut.  

Secara kamus, kata fathah berasal dari kata kerja fataha-yaftahu yang berarti (berikut kata bentukannya): Membuka, pembukaan, permulaan, pionir, pemula (yakni yang memulai perbuatan membuka), kunci pembuka (miftah), dan faatih; sang penakluk. Sesuai makna kamus tersebut, kata fathah dan semua kata bentukannya mengandung nilai positif. Karena itu tanda baca fathah diletak pada bagian atas huruf, pertanda kemuliaan. Bagi pemula (yang memulai perbuatan) baginya kedudukan mulia. Dalam terminologi fikih salat, memilih satu dari dua calon imam salat, dengan melihat siapa yang bermula hijrah ke tempat tersebut. Bagi para pionir, kemuliaan. Bagi para penakluk, kemuliaan. Keterbukaan (tranparansi) dari seseorang atau lembaga (union) melahirkan kepercayaan publik, dan kepercayaan adalah awal kemuliaan.

Pesan yang disampaikan: Bukalah dirimu, dunia akan membukakan dirinya untukmu. Ibda‘ binafsika, mulakanlah dari dirimu, jadilah teladan, engkau akan diikuti. Jadilah pionir, jangan hanya membebek. Jadilah penakluk, atau engkau akan takluk.

Tanda baca dhammah juga berkedudukan di atas, menandakan kemuliaan. Mengapa tanda baca dhammah dimuliakan? Secara kamus dhammah berasal dari kata kerja dhamma – yadhummu yang berarti (berikut kata bentukannya): Mengumpulkan, menggenggam, menyatukan, menggabungkan, merangkul, menambahkan, bersikap lunak, bersatu, kumpulan kuda pacuan, dan kawan. Semua makna yang dikandung kata dhammah bernilai positif.  

Pesan yang disampaikan: Jika menginginkan kemuliaan, bersatulah dan jangan bercerai- berai. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Jika ingin kuat, bangunlah persatuan. Pertolongan Allah ada pada jamaah. Sifat-sifat pemimpin adalah menyatukan, merangkul, gemar menambahkan dan bukan mengurangi, berkawan dan tidak bermusuhan, dan karena itu harus bersikap lunak tetapi kuat layaknya kuda pacuan. Pemimpin yang memecah-belah adalah pemimpin gadungan. Pemimpin ideal tampak pada diri Rasulullah SAW, lembut tetapi tegas dan toleran demi terciptanya kemajuan kolektif.

Tanda baca hidup ketiga adalah kasrah. Secara kedudukan tanda baca ini berposisi di bawah huruf. Dari kedudukannya, bisa dipahami kata kasrah bukanlah kata yang mengandung nilai positif. Jika tidak, mengapa di bawah?

Secara kamus, kasrah dari kata kerja kasara – yaksiru – kasratan (berikut kata bentukannya) mengandung pengertian: Memecahkan, meremukkan, kalah, hancur, menyalahi, melanggar, merusak, melipat (tidak membentang), membelokkan, memalingkan, menghilangkan, membiaskan (menjadikan rancu), mengecewakan, mengecilkan hati, mengaibkan, merapatkan kedua sayapnya untuk hinggap (lawan terbang), membagi menjadi bagian-bagian kecil, bercerai-berai, patah hati, menjadi lemas-lemah-encer, burung yang buas (thairun kaasirun), alat pemecah, yang pecah, dan remuk.

Pesan yang disampaikan: Bersatu padulah, bercerai kita runtuh. Jangan patah hati, dunia tak selebar daun kelor. Jangan kecil hati, besarkan hati, mendung pasti berlalu. Sungguh pada setiap kesulitan akan ada kemudahan, tegarkan hatimu. Jangan mengecilkan hati orang, hibur dan besarkan hatinya. Hadis Nabi: “Permudahlah, jangan dipersulit. Berikan berita gembira, dan jangan berita yang mengecilkan hati.” Jangan menjadi pemecah persatuan, atau engkau akan dihinakan.***



Muhammad Hanif
Alumnus Ittihadul Madaris Pakistan Editor : Rindra Yasin