Sesungguhnya Islam benar-benar menaruh perhatian yang sangat besar kepada manusia di dalam segala urusannya —agama dan dunianya— di saat lapang maupun kesulitan, bangun maupun tidur, di kala bepergian maupun menetap, saat makan maupun minum, waktu bahagia maupun sedih. Singkat kata, tidak ada satu hal pun, baik kecil maupun besar, melainkan telah dijelaskan oleh Islam.
Malam hari adalah waktu terbaik untuk tidur. Hal ini bukanlah masalah kebiasaan saja bahwa orang-orang yang bekerja pada siang hari akan tidur pada malam hari, namun secara alamiah terlihat bahwa siang hari lebih cocok untuk bekerja dan waktu malam digunakan untuk beristirahat/tidur. Pelaksanaan diluar aturan alamiah ini akan menimbulkan suatu beban yang lebih besar dan menghasilkan kondisi yang tidak sehat. Sebagai buktinya adalah bahwa para penjaga malam, dan bintang-bintang sinema alias aktor dan artis yang bekerja di malam hari sebagai konsekwensinya harus tidur di siang hari, hal demikian dapat membuat suatu pengaruh yang dapat mengganggu kesehatannya.
Salah satu dari 12 adab tidur seorang muslim adalah, tidurlah seawal mungkin, jangan larut malam, berdasarkan hadis yang bersumber dari ‘Aisyah “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tidur pada awal malam dan bangun pada penghujung malam, lalu beliau melakukan salat.” (Muttafaq ‘alaih).
Mari kita contoh waktu tidur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ini. Beliau berangkat tidur di awal malam (setelah Isya) dan bangun pada awal seperdua malam yang terakhir. Setelah bangun beliau langsung bangkit untuk bersugi (sikat gigi), berwudu’ dan salat malam (tahajjud). Dengan demikian beliau mendapatkan kesegaran dan kekuatan sebagian dengan istirahat dan tidur; dan sebagian lagi dengan jalan berolahraga. Inilah cara pemeliharaan kesehatan jasmani dan rohani yang paling jitu untuk hidup dunia dan akhirat. Beliau tidak pernah tidur melebihi waktu yang diperlukan dan tidak pernah menahan rasa kantuknya untuk segera tidur.
Sekarang kita coba matematikakan waktu tidur seorang muslim sebagai mana mestinya, sesuai ala Rasulullah. Waktu tidur paling cepat pukul 20.00 WIB dan paling lambat pukul 21.00 WIB setelah Solat Isya, paling cepat bangun pukul 04.00 WIB dan paling lambat pukul 05.00 WIB pada subuh hari. Katakan durasi yang diperlukan salat malam adalah sekitar 1 jam. Maka paling cepat durasi tidur adalah 6 jam, yaitu tidur jam 21.00 WIB salat malam 1 jam dan bangun pukul 04.00 WIB. Sedangkan durasi tidur paling panjang adalah 8 jam, yaitu tidur pada pukul 20.00 WIB salat malam 1 jam dan bangun pada pukul 05.00 WIB. Kesimpulannya durasi tidur seorang muslim adalah 6-8 jam per hari.
Sejak 14 abad silam Islam telah mendahului penemuan ilmiah orang-orang pada zaman sekarang. Tema tulisan ini saya ambil setelah membaca sebuah judul pemberitaan di Riau Pos, “Awas, Tidur di Atas 8 Jam Berisiko Meningal Cepat”. Apa yang diinformasikan di Riau Pos, Ahad (5/4) ini adalah fakta ilmiah. Mari kita ambil cuplikan informasinya: “Kita harus waspada, pasalnya, sebuah penelitian dari University of Warwick menganalisa data tidur sejuta orang responden. Hasilnya, Professor Franco Capupucio menemukan bahwa orang yang tidur lebih dari 8 jam, memiliki risiko meninggal lebih cepat daripada orang yang memiliki waktu tidur enam sampai delapan jam per malam. Kesimpulan tersebut dibuktikan dengan mengumpulkan data yang dilakukan selama 10 tahun. 12 persen dari orang yang tidur kurang dari enam jam telah meninggal dunia. Tapi, lebih banyak mnereka tidur lebih dari delapan jam meninggal dunia atau tiga puluh persen dari hasil penelitian”.
Durasi tidur seorang muslim rupanya sesuai dengan hasil penelitian ilmiah yakni 8-10 jam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah menggoreskan buat kita melalui ucapan dan perbuatannya rambu-rambu adab yang seyogyanya ditempuh oleh setiap mukmin di dalam hidupnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah menjelaskan, siapa saja yang menghendaki kebahagiaan, hendaklah ia menempuh jalan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan meneladani adabnya.
Tidur mempengaruhi metabolisme tubuh dan merangsang daya asimilasi, itulah sebabnya jika tidur berlama-lama malah tidak sehat, karena tubuh kita menyerap/ mengasimilasi limbah dan uap-uap kotor lagi, sehingga jika kita tidur kelamaan maka akibatnya kita bukannya menjadi segar bersemangat tetapi malah loyo. Tidur pada siang hari dapat menimbulkan penyakit biri-biri, merusak mata, penyakit limpa, melemahkan urat, menurunkan dan melemahkan syahwat; kecuali tidur siang pada waktu musim kemarau ketika dalam perjalanan. Lebih buruk lagi tidur di awal siang dan di ujung waktu Ashar menjelang matahari terbenam.
Sebagian ulama Salaf (ulama sebelum abad II Hijriyah) mengatakan: “Barangsiapa tidur sesudah waktu Ashar, maka kecerdasannya akan berkurang. Tidaklah celaka orang itu kecuali atas akibat perbuatannya sendiri (tidur siang sesudah Ashar itu).” Tidur pada waktu subuh berarti menolak rezeki, karena pada waktu itulah semua makhluk mencari rezeki dan waktu itu adalah waktu dibagi-baginya rezeki. Maka tidur pada waktu itu sangat dicela, kecuali karena ada maksud tertentu atau karena sakit. Tidur pada waktu subuh memudaratkan bagi tubuh. Badan akan menjadi lemah, kelebihan makanan pada tubuh yang seharusnya keluar dengan olahraga akan merusak anggota tubuh. Walaupun tidurnya itu sebelum mandi, belum melaksanakan pekerjaan apapun, belum berolahraga dan tidak memakan atau minum sesuatu apapun. Penyakit yang diakibatkannya, termasuk penyakit yang sulit sembuh meskipun memakai bermacam-macam obat. Tidur sewaktu terbit matahari maupun tidur sebagian ujung malam dan sebagian lagi pada waktu matahari terbit, merusak jasmani.
Dan hadis berikut ini, menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melarang tidur pada waktu pergantian antara malam dengan terbitnya matahari maupun sebaliknya. Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Apabila salah seorang kamu tidur pada waktu matahari (masih bersinar), di mana hari beralih menjadi gelap (malam), maka tidurnya sebagian pada waktu matahari masih terbit dan sebagian lagi pada waktu sudah gelap (malam), maka hendaknya ia bangun.’” Ditakhrijkan oleh Hakim dalam kitab sahihnya.
Tidur yang berkualitas di malam hari merupakan upaya optimalisasi dalam detoksifikasi untuk menetralisir toksin yang mengontaminasi tubuh. Detoksifikasi tubuh, terjadi terutama pada hati, tercapai optimal saat tidur. Mekanisme tersebut berkaitan erat dengan diproduksinya antioksidan sebagai penetral toksin. Pada tidur yang berkualitas, detoksifikasi hati dapat berjalan optimal, khususnya dalam pembentukan asam amino glutathione sebagai antioksi dan yang menetralisasi stres oksidatif dan radikal bebas.
Untuk lebih detail dapat dilihat dalam artikel berikut ini: Jam Membuang Racun Tubuh, Penting agar hidup lebih sehat. Situs resmi UGM Fakultas Kedokteran Bagian Radiologi melansir penemuan terbaru tentang penyebab kanker hati. Dalam artikel berjudul Penemuan Terbaru Mengenai Kanker Hati! Jangan Tidur Terlalu Malam itu diungkapkan bahwa para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (GOT, GPT), tetapi ternyata diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm. Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index).***
Rony Ardiansyah
Peminat Sains Alquran. Dosen Pascasarjana Magister Teknik Sipil UIR Editor : Rindra Yasin