Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Perilaku Pacaran di Tempat Umum

Rindra Yasin • Kamis, 28 Mei 2015 | 09:05 WIB
SELAIN  narkoba, prostitusi online ataupun prostitusi terselubung yang marak dan menjadi berita hangat menjadi ancaman bagi generasi muda. Persoalan lain seperti porno aksi dan juga seks bebas yang semakin hari juga semakin menggejala juga menjadi ancaman serius.

Porno aksi adalah sebutan yang digunakan bagi remaja atau pasangan muda-mudi dalam berpacaran yang mendekati mesum hingga berujung kepada hubungan seksual atau seks bebas. Fenomena porno aksi atau gaya pacaran yang melebihi batas atau susila ini di Kota Pekanbaru dapat kita jumpai di beberapa titik antara lain di Stadion Utama Riau, di samping MTQ di Jalan Sudirman  ataupun di tepi-tepi jalan di dekat terminal Payung Sekaki.  Remaja putra-putri melakukan pacaran yang melebihi batas ini dapat kita jumpai hampir setiap malam. Namun jumlah paling banyak pada malam Ahad.

Berpacaran di tempat umum hingga mendekati porno aksi seperti berciuman, meraba pada bagian-bagian yang sensitif pada pasangan adalah perbuatan yang tidak tahu malu, melewati batas kesantunan dan kesopanan apa lagi hal tersebut dilakukan di tempat umum dan terbuka. Hal ini merupakan ancaman serius buat remaja dan generasi muda di Kota Pekanbaru khususnya dan Provinsi Riau umumnya.

Perilaku pacaran yang mengarah kepada porno aksi akan membawa seseorang terutama remaja untuk berperilaku seks bebas dan juga hubungan seksual di luar nikah. Sementara hubungan seksual  di luar nikah akan menghasilkan kehamilan yang tidak diinginkan dan hal ini juga memicu adanya aborsi yang tidak diinginkan atau aborsi yang tak aman yang akan mengancam jiwa ibunya.

Beberapa data menunjukkan ancaman pada remaja yang disebabkan oleh perilaku seksual remaja dari pornografi, pornoaksi, berpacaran hingga kepada seks bebas yang hasilnya cukup memprihatinkan. Data sensus nasional menunjukkan bahwa 48 persen-51 persen wanita hamil adalah remaja. Komnas Perlindungan Anak yang melakukan penelitian di kalangan remaja SMP dan SMA terhadap 4.726 responden menemukan hasil 97 persen remaja pernah menonton pornografi, 93,7 persen mengatakan sudah tak perawan dan 21,26 persen sudah pernah melakukan aborsi. Sementara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menyebutkan bahwa 64 juta remaja di Indonesia rentan terhadap seks bebas.

Meskipun ancaman perilaku dari perbuatan porno aksi dan seks bebas pada remaja sudah begitu nyata namun hal ini bukan sepenuhnya merupakan kesalahan dari remaja tersebut. Dalam dunia pendidikan kita sering mendengar istilah mengenai tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah, dan juga masyarakat. Tri pusat pendidikan ini memiliki peran yang demikian besar terhadap penanaman nilai-nilai budi pekerti kepada remaja.

Sebelum memasuki remaja atau memasuki bangku sekolah anak lebih berada di lingkungan keluarga. Semasa di lingkungan keluarga ini seharusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang tua untuk menanamkan sifat dan sikap anak dalam pergaulan di luar rumah dengan sesama jenis, beda jenis dengan yang lebih tua ataupun dengan yang lebih muda. Di dalam lingkungan keluarga inilah seharusnya orang tua membekali anak dengan etika, sopan santun dan tata cara pergaulan yang tepat, benar tidak melanggar etika dan susila.

Namun perlu kita sadari bersama bahwa saat ini banyak orang tua yang menitipkan anaknya ke tempat penitipan anak atau diserahkan kepada pembantu. Kedua orang tua anak tersebut sibuk dalam memburu kebutuhan hidup yang semakin hari semakin mahal dengan tingkat persaingan semakin tinggi. Ini menyebabkan perhatian orang tua pada anak semakin berkurang sehingga peran orang tua atau keluarga dalam menanamkan nilai-nilia etika dan kesusilaan dalam pergaualan di luar rumah berkurang dan hal ini terus terjadi dan berefek ketika anak menjadi remaja.

Dunia pendidikann kita yang seolah lebih menekankan ilmu eksakta dan juga pengetahuan dibandingkan dengan penanaman budi pekerti yang berguna untuk membimbing anak-anak bersikap santun, sopan dan toleran serta menjaga akhlah dan juga perbuatan dalam pergaulan juga kurang ditanamkan. Sehingga sering kali yang tercipta orang-orang cerdas secara akal namun secara etika dan susila kurang berkembang. Hal ini juga mengakibatkan remaja-remaja sekarang suka melanggar etika dan susila salah satu contohnya melakukan porno aksi atau pacaran yang berlebihan di tempat umum dan juga melakukan hubungan seksual di luar nikah.

Perkembangan teknologi nformasi yang demikian cepat seperti internet yang bisa diakses hanya melalui handphone juga bisa menjadi katalisator dalam perilaku porno aksi dan perilaku seksual remaja. Memang benar kemajuan teknologi informasi bisa memberi manfaat yang luar biasa bagi remaja yang bisa menyaring informasi-informasi yang bermanfaat namun bagi yang tidak bisa menyaring informasi yang bermanfaat kemajuan teknologi informasi ini menjadi bumerang. Banyak remaja-remaja kita mengakses informasi yang seharusnya tidak perlu diakses seperti informasi yang berasal dari website yang memuat atau berisi tentang pornografi.

Lemahnya kotrol sosial dari masyarakat juga membuat porno aksi dan perilaku seks bebas bagi remaja ini makin berkembang. Warga sekitar atau tetangga terkadang bersikap acuh tak acuh terhadap remaja yang sedang melakukan pacaran di luar batas kewajaran di lingkungan mereka atau di tempat-tempat umum. Mereka terkadang beranggapan bahwa yang penting yang melakukan pacaran atau porno aksi tersebut bukanlah anak atau keluarga mereka. Jika bukan anak atau keluarga mereka, biasanya warga hanya akan menjadi penonton saja.

Untuk itu agar prono aksi dan seks bebas bagi remaja ini tidak semakin menjadi-jadi maka tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat harus lebih menitikberatkan pada peningkatan budi pekerti bagi anak-anak dan juga remaja. Orang tua harus lebih memperhatikan anaknya dan menanamkan nilai-nilai budi pekerti, etika, susila dan sopan santun dalam pergaulan dengan sesama jenis, beda jenis maupun kepada yang lebih tua. Sesibuk apapun orang tua, mereka harus menyediakan waktu luang untuk anak-anak mereka agar mereka tumbuh menjadi insan yang cerdas dan juga bermoral.

Dunia pendidikan seharusnya juga lebih menekankan pendidikan budi pekerti dengan porsi yang lebih banyak. Jika selama ini pendidikan budi pekerti hanya ada pada pendidikan agama dan juga ditempelkan pada mata pelajaran yang lainnya dengan jumlah jam pelajaran minim maka ada baiknya jika jam pelajaran untuk mata pelajaran- mata pelajaran yang berhubungan dengan budi pekerti ditambah.

Masyarakat juga harus berperan aktif dalam menyikapi fenomena pacaran remaja di luar batas ini. Masyarakat harus berani menegur pasangan remaja  yang berpacaran di luar batas atau melakukan porno aksi ini.

Pemerintah daerah juga bisa berperan dengan melakukan penertiban pada pasangan remaja yang melakukan aksi berpacaran melebihi batas ini. Petugas satpol PP bisa melakukan operasi teratur di tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat favorit para remaja yang berpacaran. Semoga dengan kerja sama semua pihak, remaja-remaja di Kota Pekanbaru terhindar dari perilaku porno aksi dan juga seks bebas yang berpotensi merusak moral generasi muda penerus bangsa. Semoga.***


Supriyadi
PNS Perwakilan BKKBN Provinsi Riau
Editor : Rindra Yasin