MANUSIA memang bukan makhluk yang sempurna karena berbagai keterbatasan yang dimilikinya. Namun, bukan berarti manusia tidak dapat meraih kesempurnaan hidup. Kesempurnaan hidup bagaikan penciptaan alam yang serba berpasangan. Bila manusia tidak berkaca pada penciptaan alam, maka manusia tidak akan pernah meraih kesempurnaan dalam hidupnya.
Kesempurnaan hidup tatkala si kaya mampu membantu si miskin. Sempurnanya seorang ilmuan tatkala mampu mencerdaskan si bodoh. Kesempurnaan seorang pemimpin tatkala mampu mengayomi rakyatnya. Bahkan, kesempurnaan seorang ahli ibadah tatkala mampu membawa “kaum jahiliah” untuk dekat kepada Allah. Dengan demikian, kesempurnaan tatkala mampu berbagi dengan “pasangan kehidupan” yang diciptakan-Nya. Hanya dengan saling melengkapi, kehidupan akan terasa sempurna dan menjajikan kesejahteraan. Apatahlagi berbagai kesempatan berbuat baik tak pernah dapat berulang, maka bijaklah tatkala ada kesempatan bisa saling menyebarkan kebajikan, bukan menyebarkan kebencian dan kesengsaraan.
Kahlil Gibran pernah bertanya pada gurunya tentang makna kesempurnaan dalam hidup. Sang guru berkata, “berjalanlah lurus di taman bunga, lalu pentiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali ke belakang”. Lalu, Kahlil Gibran mengikuti nasehat gurunya. Ia berjalan dan sampai di ujung taman, namun ia tak memetik sekuntum bungapun. Gurunya bertanya, “kenapa kamu tidak mendapatkan bunga barang sekuntum?” Gibran menjawab, “sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun, ketika aku sudah sampai di ujung taman, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah bunga yang terindah, namun aku tak bisa kembali ke belakang lagi”. Sang guru berkata, “itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin kita tidak akan pernah mendapatkannya. Sebab, sebenarnya kesempurnaan yang hakiki tidak akan pernah ada. Kesempurnaan hanya ada dalam hati yang ikhlas untuk menerima kekurangan”.
Tatkala kita tidak mampu memberi, maka janganlah mengambil hak orang lain. Bila mengasihi sesama terlalu sulit dilakukan, maka jangalah membenci sesamanya. Bila hidup tak mampu menghibur dan menggembirakan orang lain, maka janganlah membuatnya sedih. Bila tak mampu meringankan beban orang lain, maka janganlah mempersulit atau memberatkannya. Bila tak sanggup memuji saudaramu, maka janganlah menghinan dan menghujatnya karena mungkin kamu lebih hina. Bila tak mampu menghargai orang lain, maka jangan pula mencelanya. Sesungguhnya, janganlah mencari kesempurnaan, akan tetapi berupayalah menyempurnakan apa yang telah ada pada diri.
Alangkah indah bila kata bijak tersebut terimplementasi dalam realitas, bukan sekadar tersimpan di bawah alam sadar atau sekadar mimpi belaka. Terutama ketika negeri ini memiliki manusia yang memiliki peradaban tinggi dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Namun sayangnya, kata bijak di atas agaknya semakin sulit ditemui dalam realitas kehidupan modern, meski semua sepakat bahwa idealnya ungkapan tersebut seharusnya menjadi acuan dalam seluruh aktivitas manusia modern. Bukankah seluruh elemen di negeri ini mencita-citakan kehidupan yang lebih baik dengan menonjolkan peradaban yang tinggi. Sebab, hanya manusia yang berperadaban yang mampu membangun kesejahteraan dan kedamaian, baik bagi kehidupan manusia maupun makhluk Allah lainnya. Sementara indikator manusia yang tidak beradab dan memiliki kualitas peradaban yang rendah tidak akan pernah memiliki mimpi untuk menyempurnakan diri karena yang dimimpikannya hanya memperkaya diri dan koleganya.
Kehidupan di dunia ini merupakan perjalanan singkat. Namun, bukan berarti menggunakan filosofi “aji mumpung” dengan berperilaku layaknya masyarakat tanpa peradaban dan kaum barbar yang lebih mengedepankan kepentingan sesaat, tanpa peduli dengan kepentingan orang lain.
Dunia ini sudah semakin “renta dan letih” bila di atasnya hidup manusia yang tidak menyempurnakan hidup secara benar. Dunia ini akan “merintih” bila manusia yang mendiaminya hanya pandai menebar kebencian dan kebejatan dengan sesama ciptaan-Nya. Dunia ini semakin “muak” dengan prilaku makhluk berperadaban, namun hanya pandai memunculkan pertikaian dan kesengsaraan layaknya makhluk yang tak beradab. Sebab, makhluk yang tak beradab, bagaikan mereka yang suka memakan bangkai saudaranya.
Mungkin semua ketidaksempurnaan dan tindakan tanpa peradaban yang dilakukan mampu ditutupi oleh sederetan kata puitis yang indah dan logika yang berlagak pintar, kekuatan dan kekokohan kekuasaan yang sedang digenggam, sejumlah materi yang menyilaukan, atau asesoris diri yang memukau namun menyimpan kepalsuan yang nyata. Kesemua itu tidak akan dapat menipu diri sendiri, apatahlagi Sang Pemilik Kehidupan.
Sudah saatnya setiap insan di negeri ini berkaca dengan kaca agama untuk menyempurnakan dirinya. Dengan kaca tersebut, manusia akan mampu menyempurnakan hidupnya dengan membawa kedamaian hidup bagi seluruh ciptaan Allah di muka bumi. Saling memahami, mengerti, dan membantu sesamanya adalah kunci bangunan kebahagiaan. Namun tatkala kebencian dan permusuhan yang disebarkan, maka kehancuran yang akan dipetik, semakin kokohnya tongkat estafet balas dendam antar generasi, dan hancurnya bangunan akhlak pada diri.
Meski tidak selamanya kesalahan merupakan kejahatan. Sebab, kesalahan tak selamanya berarti kejahatan, tapi setiap kejahatan pasti merupakan kesalahan. Kita mungkin saja salah, tapi jangan terjerumus pada kejahatan. Kesempurnaan hidup seyogyanya menjadi pilihan dengan membangun pola hidup damai dalam keberagaman, sembari menyempurnakan diri dengan bangunan keikhlasan dan persaudaraan. Pilihan selalu ada. Hanya saja, apakah mau memperbaiki atau justru semakin memperparah kondisi yang ada. Bila pilihan untuk memperbaikinya, berarti sudah menuju kesempurnaan hidup. Namun bila pilihan justeru untuk mempertahankan atau bahkan memperparah kesewenangan yang telah ada, maka berarti mengarahkan kehidupan menjadi “barbarian” yang menghancurkan peradabab atau “drakula” yang hanya tampil untuk menghisap darah dan menebar ketakutan.Wa Allahua’lam bi al-shawwab.***
Samsul Nizar
Guru Besar dan Ketua STAIN Bengkalis Editor : Rindra Yasin