Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Hari Buku, Cinta Buku

Rindra Yasin • Selasa, 17 Mei 2016 | 12:02 WIB
RIAUPOS.CO - Pemerintah Republik Indonesia mendirikan lembaga dan institusi penting di bumi Indonesia dalam mengarungi perjalanan sejarah dan eksistensi negara Indonesia. Lembaga penting itu bernama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) yang didirikan pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Perpusnas RI diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) saat itu yaitu Daoed Joesoef pada 17 Mei 1980. Daoed Joesoef pada usia tuanya saat ini, bagi para pecinta buku dikenal masih produktif menghasilkan karya tulis yang berkualitas serta cerdas.

Perpusnas RI yang saat ini sudah berusia 36 tahun memiliki beragam fungsi antara lain yaitu tempat untuk menyimpan berbagai data dan informasi dalam bentuk buku, majalah, jurnal, manuskrip, arsip, dan lain sebagainya yang dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat untuk bermacam-macam kepentingan. Salah satunya yakni kepentingan dalam dunia akademik atau perkuliahan.

Sejak Perpustakaan Nasional berdiri, di berbagai daerah di Indonesia telah banyak berdiri perpustakaan-perpustakaan untuk menunjang dan memfasilitasi minat masyarakat luas yang besar terhadap buku dan berbagai hal yang mengiringinya. Akhirnya, setiap tahun pada 17 Mei dalam perjalanan kalender sejarah Republik Indonesia tercinta diperingati sebagai Hari Buku Nasional.

Ide Hari Buku Nasional ini dicetuskan oleh golongan masyarakat pecinta buku. Tujuan mereka ini sangatlah mulia yaitu untuk menumbuhkan minat masyarakat terhadap buku serta membangkitkan gairah masayarakat terhadap membaca. Dua kata yaitu buku dan baca memiliki korelasi erat melahirkan masyarakat yang selalu haus dan dahaga terhadap ilmu pengetahuan. Suatu hal yang mesti selalu ditingkatkan bersama-sama.

Mari Mencintai Buku
Republik Indonesia yang jaya telah menghasilkan tokoh-tokoh bangsa yang besar minatnya terhadap buku, buku, dan buku. Contoh yang paling terkenal adalah dwitunggal Soekarno-Hatta. Kedua anak bangsa yang fenomenal ini memiliki minat sangat besar dan tak ada habisnya terhadap benda berharga nan prestisius bernama buku.

Dwitunggal Soekarno-Hatta sangat gandrung terhadap buku dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang menjadikan mereka maestro berharga dalam eksistensi Republik Indonesia ini. Soekarno-Hatta berdua sejak usia muda telah mempunyai minat terhadap buku dan membaca yang luar biasa. Dari goresan pena dan curahan pemikirannya telah menghasilkan karya tulisan fenomenal yang sampai dengan detik ini, tetap abadi walaupun pemerintahan datang silih berganti.

Soekarno, sang orator andal dan singa podium, terkenal dengan salah satu buah karyanya yaitu Di Bawah Bendera Revolusi. Sedangkan Hatta, sang idealis sejati dan tokoh sederhana, terkenal dengan salah satu buah karyanya yaitu Demokrasi Kita. Kedua buku ini selalu menjadi bahan pegangan oleh masyarakat lintas profesi di negeri ini untuk mengarungi kecerdasan Soekarno dan Hatta dalam melakukan kiprahnya yang abadi dalam tinta emas sejarah negara yang kita banggakan ini bersama-sama.

Dengan adanya contoh teladan dari dwitunggal Soekarno Hatta di atas maka dapat menjadikan kita semua dari berbagai daerah yang datang dari Sabang sampai dengan Merauke untuk selalu mencintai buku dan kemudian menghayati apa yang telah kita baca untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Memang, masih ada saja dalam beberapa masyarakat kita yang (masih) belum memiliki minat terhadap buku apalagi dengan yang namanya membaca. Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap buku dan baca. Salah satunya yaitu melalui tulisan sederhana yang penulis hadirkan ini sebagai tanggung jawab moral seorang pendidik yang masih perlu belajar dalam banyak hal karena pembelajaran adalah proses pendewasaan diri dari waktu ke waktu tanpa mengenal kata lelah apalagi menyerah.

Ada hal aneh dalam beberapa masyarakat kita yang belum mencintai buku ini. Contoh yang paling nyata dan sebenarnya sederhana serta banyak terjadi adalah adanya masyarakat yang rela menghamburkan uangnya untuk membeli gadget-gadget terbaru daripada membeli buku untuk tujuan mulia dan jangka panjang.

Penulis pernah mengetahui informasi maha penting bahwa Indonesia dengan jumlah penduduknya lebih dari 200 juta orang, sangat jelas sekali merupakan pangsa pasar empuk untuk berbagai jenis produk dari negara-negara luar termasuk berbagai gadget keluaran terbaru. Makanya, ada guyonan telak yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia paling pandai dalam hal konsumerisme namun soal produktivitas, sangatlah menyedihkan.

Hal di atas merupakan ironi dan dalam banyak hal tragedi sehingga kita ketinggalan dalam hal membaca apalagi menghasilkan buku dari negara-negara tetangga dekat seperti Malaysia dan Singapura. Bahkan, Vietnam sekarang beberapa tingkat, sudah mampu melampaui Indonesia. Suatu hal yang sudah seharusnya menjadi refleksi bersama buat kita semua demi anak cucu tercinta.

Di negara-negara maju, buku merupakan salah satu hal yang fundamental atau mendasar dari eksistensi bangsa dan negara sehingga masyarakat di negara-negara maju memiliki minat terhadap buku serta rasa cinta terhadap baca yang sama baiknya. Jangan heran di negara-negara maju sering kita saksikan, di tempat-tempat umum, banyak yang membawa buku untuk dibaca dan dihayati karena mereka tahu bahwa yang namanya waktu tidak bisa kembali sehingga mereka menghabiskan waktunya untuk hal bermanfaat demi menambah khazanah informasi mereka.

Bahkan, penulis pernah menyaksikan di televisi, para orang tua luar biasa di negara-negara maju telah mendidik anak-anaknya sejak usia dini untuk memiliki minat terhadap buku dan baca. Salah satu hal yang sederhana adalah setiap malam sebelum tidur sang buah hati diberikan dongeng pengantar tidur oleh ayah dan bundanya sehingga secara psikologis hal ini sangat baik bagi perkembangan anak.

Kemudian, ada lagi yang membuat kita terenyuh dan tersenyum. Anak-anak menggemaskan ini bersama orang tuanya yang hebat, juga dibiasakan untuk turut menghadiri berbagai diskusi buku termasuk sama-sama mengantre sewaktu sesi meminta tanda tangan dan foto bersama dengan penulis buku andal tersebut. Sungguh sebuah pemandangan yang menyejukkan dan sangat patut untuk dicontoh bagi para orangtua yang kelak anak-anaknya menjadi generasi penerus pemegang tampuk kepemimpinan di negara Indonesia ini.

Semoga tulisan sederhana ini dapat menyadarkan kita bersama-sama mengenai luar biasa pentingnya kesadaran menyayangi buku dan mencintai bahan bacaan. Menutup tulisan ini, penulis ingin mengutip perkataan dahsyat dari Cicero, negarawan besar pada era Romawi Kuno yaitu ‘’A room without a book just like a body without a soul’’. Kalimat ini memiliki arti magis yaitu ruangan tanpa buku seperti tubuh tanpa jiwa. Mari perkaya jiwa kita dengan buku-buku! Selamat Hari Buku Nasional!***
Editor : Rindra Yasin