Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dampak Negatif Sikap Pemimpin

Rindra Yasin • Rabu, 20 Juli 2016 | 10:23 WIB
RIAUPOS.CO - Dalam perspektif Islam seseorang pemimpin harus memiliki dan memenuhi empat kriteria sebagai pemimpin, di antaranya: Pertama, Shiddiq, yaitu memiliki kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. 

Kedua, Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik baiknya apa yang diamanahkan kepadanya. Ketiga, Fathonah, memiliki kecerdasan, cakap dan andal dapat dan memiliki kemampuan menghadapi dan menanggulangi dari setiap permasalahan yang ada. Keempat, Tabligh, menyampaikan segala sesuatu secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya atau dengan kata lain wajib memiliki akuntabilitas dan transparansi.

Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia kepemimpinan berasal dari kata ”pimpin” yang memiliki makna dibimbing. Di mana kata pemimpin dan kepemimpinan merupakan bagian yang tak terpisah baik secara struktur ataupun fungsinya. Artinya kata pemimpin dan kepemimpinan mempunyai keterkaitan dari segi kata ataupun maknanya. sedangkan definisi pemimpin (natural leader) secara umum  adalah seseorang yang menggunakan kemampuannya, sikapnya, nalurinya, dan ciri-ciri kepribadiannya yang mampu menciptakan suatu keadaan, sehingga orang lain yang dipimpinnya dapat saling bekerja sama untuk mencapai tujuan.

Jadi jelas untuk memilih pemimpin tidak hanya sekadar suka atau kenal atau hanya untuk kepentingan tertentu saja. Seorang pemimpin yang bijak adalah mereka yang bekerja dan melaksanakan sesuatunya dengan niat dan hati yang tulus. Sangat sederhana memang, namun melaksanakan sesuatu dengan niatan yang baik dan ketulusan akan membawa hasil yang berbeda dari setiap tindakan manusia, dalam hal apapun itu.

Saat ini sosok pemimpin yang ada dan terlihat amat sangat berlawanan dari apa yang diharapkan. Seseorang yang memiliki dukungan dana besar setiap saat bisa menjadi pemimpin dan umumnya pemimpin saat ini lebih mendahulukan kepentingan pribadi, kelompok, daripada masyarakatnya dan menjadikan segala sesuatunya dengan nilai; uang, kehormatan, kekuasaan  dan sejenisnya. Dari sisi uang mari kita perhatikan dan lihat, pemimpin yang terpilih saat, misalnya gubernur, bupati, wali kota, DPR dan pada level yang lebih rendah sekalipun pada umumnya akan lebih makmur dalam sisi kesejahteraan setelah mereka dipilih atau terpilih menjadi pemimpin, walaupun ada beberapa yang juga amanah tapi persentasenya sangat kecil sekali.

Perhatikan juga pemimpin yang terpilih secara umum juga memiliki sikap yang jumawa, sombong, angkuh, ego dan gila disanjung dan dihormati. Dalam sisi kekuasaan lihatlah umumnya pemimpin yang terpilih akan menempatkan orangnya sendiri pada jajaran di bawahnya yang diangap strategis agar kebijakan dan kekuasaannya dapat berjalan dengan sangat baik. Bahkan sudah menjadi rahasia umum pemimpin sekarang juga memperjualbelikan posisi jabatan di bawahnya dengan nilai setoran tertentu. Jangan katakan ini fitnah ! Karena sesungguhnya apa yang disampaikan di sini sudah menjadi konsumsi dan rahasia umum. Berapa banyak kepala daerah yang terlibat masalah hukum, korupsi, penyalahgunaan wewenang, suap dan lainnya. Semua sudah jelas terang benderang, ada gubernur, wali kota, bupati, anggota DPR dan lainnya. Bahkan saat ini selalu saja ada yang bisa kita ketahui dari media massa banyaknya pejabat negara atau tokoh yang terlibat masalah hukum setiap waktu.

Pemimpin sekarang juga menjadi inisiator yang hebat, mampu memberikan ide-ide yang baik untuk dan demi kepentingan masyarakat, katanya. Sehingga para pemimpin sekarang berlomba-lomba menciptaan projek-projek besar bahkan banyak yang ”mercu suar”. Tapi sayangnya selalu dengan ending harus ada keuntungan pribadi atau kelompok dari kebijakan tersebut. Namun dari setiap kesalahan kebijakan yang terjadi, maka yang dapat kita lihat para pemimpin suka tidak bersikap jujur dan tidak bertanggung jawab dengan melemparkan masalah tersebut ke pihak lain ataupun pada bawahannya.

Sebagai motivator  mereka juga berhasil, di mana sering kita lihat para pemimpin menyakinkan masyarakatnya akan kepeduliannya. Misalnya dengan memberikan bantuan yang  dana bersumber dari pemerintah ataupun pribadi dan dari donatur kepada masyarakat.

Dengan pesan singkat agar masyarakat dapat memilih dia kembali pada Pilkada. Untung saja saat ini seseorang hanya boleh menjadi kepala daerah maksimum hanya dua kali. Jika belum cukup biasanya istri/suami/anak/ipar pun disuruh maju dalam Pilkada demi abadinya dinasti kekuasaan. Contoh kasus yang dapat kita lihat adalah dinasti kekuasaan keluarga Ratu Atut Chosiyah, mantan Gubernur Banten, yang terlibat masalah hukum di KPK , di mana adik beliau dan ipar beliau tetap bertahan menjadi kepala daerah di Provinsi Banten hingga sekarang. Karena secara hukum katanya tidak ada yang salah, maka kekuasaan dinasti keluargapun tetap ada dan bertahan hingga sekarang.

  Pilihlah pemimpin yang memiliki kompetensi akan kemampuan dan keahliannya, kapabilitas, akuntabilitas, memiliki keterbukan dan elektabilitas tinggi dimasyarakat. Jangan memilih karena uang dan menjadikan diri sendiri sebagai masyarakat transaksional. Jangan jadikan diri kita skeptis, pesimis dan hilang rasa percaya kepada pemimpinnya. Karena kemungkinan yang terbaik selalu saja ada.*** Editor : Rindra Yasin