Memaknai Tak Melayu Hilang di Bumi
Rindra Yasin • Kamis, 21 Juli 2016 | 10:35 WIB
RIAUPOS.CO - Kalimat di atas merupakan visi yang diwariskan oleh Legenda Tanah Melayu Laksamana Hang Tuah. Kalimat ini sudah sangat tidak asing di bumi Nusantara, apatah lagi di Bumi Melayu Riau ini. Kalimat ini mengandung rasa optimisme yang sangat tinggi oleh Laksamana Hang Tuah akan jayanya Melayu di masa yang akan datang.
Seakan tersadar, terutama setelah reformasi bergulir di Indonesia belasan tahun silam, tokoh dan masyarakat Riau khususnya, mulai mengembalikan jati diri sebagai tanah Melayu.
Sekarang sudah lazim dijumpai di masyarakat yang menggunakan pakaian Melayu, munculnya orkes dan band yang bertema musik Melayu, festival-festival budaya Melayu, penggunaan sastra Melayu, bangunan-bangunan yang memasukkan unsur-unsur Melayu dan yang terakhir slogan daerah yang menjatidirikan tanah Melayu. Semuanya merupakan cerminan masyarakat Melayu untuk memenuhi visi Laksamana Hang Tuah.
Namun apakah yang telah disebutkan diatas sudah sesuai dengan visi dari Laksamana Hang Tuah? Terlepas dari perdebatan bahwa Laksamana Hang Tuah ini adalah sekadar legenda atau memang benar-benar wujud di masa silam, pertanyaan di atas belum terjawab sama sekali. Apakah Melayu itu hanya sekadar pakaian? Atau apakah Melayu itu hanya sekadar musik?
Atau apakah Melayu itu hanya sekadar tarian? Atau apakah Melayu itu hanya sekadar bangunan? Atau Melayu itu hanya sekadar sastra? Atau Melayu itu adalah suatu budaya yang akan terus dikembangkan dan akan diwariskan kepada anak cucu Melayu nantinya?
Harus diakui, Tak Melayu Hilang di Bumi belumlah dipahami secara utuh. Pemahaman yang tidak utuh ini disebabkan masyarakat Melayu hanya sekadar mengucapkan kalimat tersebut tanpa mencoba mencari tahu apa makna dari kalimat tersebut. Pada saat ini, masyarakat Melayu sudah menganggap sebuah acara sudah ada unsur Melayu jika sebuah acara dibuka dengan tari persembahan dan membawa tepak sirih, atau masyarakat Melayu sudah menganggap bahwa sebuah bangunan sudah bercirikan Melayu jika dibangunan tersebut terdapat ukiran selembayung, atau masyarakat Melayu sudah berunsurkan Melayu ketika misalnya sudah berpantun di khalayak ramai. Jika hanya sedemikan sudah kita anggap sebagai Melayu, hal ini tentu masih jauh dari visi yang diinginkan oleh Laksamana Hang Tuah.
Melayu akan hilang di bumi jika Melayu hanya sekadar melakukan kegiatan yang tersebut di atas. Walaupun semua budaya tersebut tetap dilakukan, tetapi hanya sekadar seremonial yang tidak memilki makna. Lantas apa yang harus dilakukan untuk menjaga visi Laksamana Hang Tuah tersebut? Pemerintah Provinsi Riau harus memulainya dengan menggalakkan peneliti-peneliti dunia Melayu. Sebagai provinsi yang menggunakan slogan The Homeland of Melayu, Riau harus memiliki peneliti-peneliti yang diakui kepakarannya dalam bidang budaya Melayu dan diakui secara internasional. Apakah saat ini Riau memiliki seorang profesor yang kepakarannya di bidang dunia Melayu? Belum ada. Jika belum, bagaimana mungkin Riau bisa mengklaim sebagai tanah Melayu? Memang Riau memiliki sekian banyak budayawan Melayu yang bisa dijadikan rujukan, akan tetapi, hal tersebut belumlah cukup.
Jika kita coba ajukan pertanyaan, apakah ada generasi muda Melayu yang sekaliber dengan Alm Tenas Effendi? Tidak ada. Oleh sebab itu, sebagai guardian of Melayu, Provinsi Riau sudah harus memikirkan dan membuat visi untuk mencetak doktor-doktor bahkan profesor yang memiliki kepakaran dalam bidang dunia Melayu.
Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan adalah: pertama, menjaring generasi muda Riau yang memiliki ketertarikan dengan kebudayaan Melayu; kedua, memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa yang memilih kebudayaan Melayu sebagai kepakarannya hingga ke jenjang doktoral, dan ketiga, memberdayakan atau membangun institute kebudayaan Melayu skala internasional sebagai wadah para pakar dan budayawan melakukan penelitian dan mengembangkan budaya Melayu. Dengan demikian in-put dan out-put dalam bidang budaya Melayu tetap terjaga.
Dengan adanya para pakar, tentu penelitian-penelitian terhadap budaya Melayu akan terus ada, dan secara tidak lansung, eksistensi Melayu akan terus bisa dijaga. Mereka inilah yang diemban tugas untuk terus menggali nilai-nilai budaya Melayu dan mencari formula yang efektif untuk disinergikan dengan kehidupan bermasyarakat modern seperti saat ini. Dengan adanya para doktor dan profesor yang memiliki kepakaran dalam bidang budaya Melayu, mereka bisa mencetak generasi-generasi akademis untuk terus mewujudkan visi dari Laksamana Hang Tuah. Lebih jauh, masyarakat dunia yang ingin mempelajari Melayu atau hanya sekadar ingin mengetahui Melayu, mereka bisa merujuk ke Provinsi Riau. Bahkan ini sudah melampaui visi dari Laksamana Hang Tuah, Melayu bukan hanya tidak hilang, tetapi menumbuhkan tunas-tunas yang kembali akan menumbuhkan tunas-tunas selanjutnya.
Memang hal yang di atas belum cukup, tetapi dengan berbuat demikian, paling tidak Riau telah memberikan inspirasi kepada tanah-tanah Melayu lainnya sehingga tanah Melayu lainnya melakukan hal yang serupa dan pada saatnya nanti Riau dapat menyaksikan kejayaan Melayu seperti apa yang di cita-citakan oleh Laksamana Hang Tuah. Dan memang, iven-iven serta berbagai festival tetap dilaksanakan supaya masyarakat dapat merasakan kebudayaan secara langsung. Dengan demikian, sesuailah Provinsi Riau mengklaim dirinya sebagai The Homeland of Melayu. Selain memiliki budaya yang secara realita bisa dilihat secara nyata melalui iven-iven yang telah ada, Riau juga memiliki banyak akademisi dan peneliti-peneliti dan naskah-naskah penelitian tentang dunia Melayu kekinian.*** Editor : Rindra Yasin