RIAUPOS.CO - BOLEH disebutkan, kalau Caltex dan Chevron itu adalah satu kesatuan. Manajemennya sama. Sama-sama dikendalikan oleh pemilik dan pemegang sahamnya di California Texas, Amerika Serikat. Bagaikan Garuda dengan Citilink. Caltex dan Chevron 11, 12.
Lalu, apa itu YPC? YPC adalah, Yayasan Pendidikan Cendana. Yaitu lembaga pendidikan yang didirikan oleh Caltex dari TK, SD, SMP dan SMA, plus SLB. Gunanya untuk mendidik anak-anak karyawan yang bekerja di tambang minyak tersebut.
Dengan mendirikan sekolah ini, para karyawan merasa aman bekerja di ladang minyak. Sebab, anak-anak mereka berada di lingkungan pendidikan yang menjamin keamanan, dan mendapat pendidikan terbaik dari guru-guru yang berkualitas. (Buku Melintas Cakrawala, Julius Tahija)
Ketika Chevron ini masih bernama Caltex, semua berjalan baik. Pembayaran honor guru dan dan tunjangan setelah pensiun diatur dengan baik. Guru-guru yang mengajar, tidak mau tahu, apakah gaji mereka dibayar dengan dana bagi hasil 88 persen atau yang bagian Caltex yang 12 persen. Mereka/kami tidak mau tahu dengan hal tersebut. Kami hanya mengajar dengan memberikan pengabdian terbaik untuk anak bangsa. Seandainya pun diambil dari 88 persen (milik negara), apakah kami tidak boleh mencicipi uang negara? Mentang-mentang kami tidak PNS/ASN?
Nah, setelah Caltex berganti dengan Chevron, segalanya berubah tanpa sosialisasi.
Guru-guru yang tadinya mendapat pensiun dengan rumus, 1,5 persen x gaji x masa dinas, diganti dengan sistem pesangon, tanpa dijelaskan apa rumusnya. Guru yang pensiun sejak tahun 2008, mendapat pesangon berbeda-beda. Perbedaan itu menimbulkan kebingungan.
Ada guru yang masa tugas dan golongannya rendah, mendapatkan pesangon lebih tinggi dan sebaliknya. Ini menimbulkan masalah bagi 80-an guru-guru yang pensiun setelah tahun disebutkan. Masalahnya telah/sedang dibicarakan di DPRD/Disnaker/Disbud/asuransi.
Pertanyaannya adalah, apakah manajemen Chevron di Jakarta dan Texas mengetahui masalah ini? Pengurus Yayasan menyebutkan, kalau Chevron tidak lagi bertanggung jawab perihal yayasan ini? Apa benar Chevron sebesar ini/ kelas dunia. yang prinsip perusahaannya adalah memberi keberuntungan bagi siapa saja di mana Chveron berusaha. Jika memang Chevron tidak akan lagi peduli pendidikan di Indonesia, jelaskan secara profesional kepada kami, guru-guru YPC! Jangan hanya di mulut pengurus yayasan saja.
Kata Bapak Ahmad Bambang, Direktur Pemasaran Pertamina, "Pertamina harus menjadi rahmatan lil alamin bagi rakyat Indonesia." Chevron mestinya melebihi itu. kami hanyalah guru, yang juga manusia. Tak elok kita berhitung untung dan rugi. kami hanya tak ingin dibodoh-bodohi. Jangan sampai kami bertindak di luar dugaan.***
Pandu Syaiful, syaifulpandu@yahoo.com Editor : Rindra Yasin