Bila kita perhatikan siapa dan bagaimana Tuanku Tambusai, tentunya sebuah pengakuan dalam diri kita tentang eksisnya di Nusantara ini. Pantas Tuanku Tambusai diberi julukan “Harimau Padri dari Rokan†De Padri Esche Tiger Van Rokan di mana beliau berjuang bertempur melawan penjajah di masa itu wilayah Riau, Tapanuli dan Minangkabau bagian Utara, beliau memiliki semangat dan militansi perjuangan yang sangat kokoh, siap menghunus pedangnya, memimpin peperangan, tidak pernah mengalah pada penjajah.
Di saat serangan Belanda ke Dalu-dalu yang dikenal dengan Benteng 7 lapis yang di bangun oleh Tuanku Tambusai dan pengikutnya 1834 M di mana penyerangan oleh Belanda dilakukan dari dua penjuru yaitu dari arah Pasir Pengeraian dan arah Mandailing terjadinya di awal tahun 1838, namun dalam menghadapi penjajahan Belanda, Tuanku Tambusai tetap tegar dan yakin dengan kebenaran.
Bila menyikapi jati diri Tuanku Tambusai yang mempunyai karakter seperti dipaparkan dalam buku Tuanku Tambusai Pahlawan dari Riau oleh Prof Dr Amir Lutfi menyatakan bahwa Tuanku Tambusai adalah sosok lemah lembut lebih memperlihatkan ingin mencapai persetujuan bukan streng, berani dan keras hati sanggup mendaki Bukit Barisan untuk berguru agama ke Minangkabau, tegas dan konsekuen seperti berusaha menghabisi orang-orang murtad yang membela Belanda, merupakan ulama besar, cendikiawan dan merupakan panglima perang dan patriot sejati, maka sudah sepantasnyalah sosok Tuanku Tambusai ini dapat ditauladani bagi masyarakat dan khusus lagi pemimpin-pemimpin di Riau.
Masyarakar Riau tentunya bangga dan bersyukur salah satu pejuang dari daerah Riau yang bernama Tuanku Tambusai yang di daerah kelahirannya Dalu-dalu Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu lebih dikenal dengan nama Pakih Saleh telah dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional. Mudah-mudahan tentu seharusnya berkolerasi positif pula dengan telah dinobatkan Tuanku Tambusai sebagai Pahlawan Nasional dengan daerah basis perjuangannya Benteng 7 Lapis yang saat itu seakan-akan tidak pernah dijamah oleh pembangunan upaya pemugaran.
Namun masyarakat Rohul lebih khusus lagi yang lahir di bumi Tuanku Tambusai yakin dan optimis upaya pemugaran Benteng 7 Lapis basis pejuang Tuanku Tambusai akan terealisasi di masa Pemkab Rohul. Bila semangat kita mundur selangkah dalam membangun pemugaran benteng 7 lapis berarti itu merupakan awal menghianati diri. Untuk itu mari tetap kita berikan semangat kepada pemimpin daerah ini , tidak penuh ke atas minimal penuh ke bawah, tetap “ sediakan bedil “ itu kata Tuanku Tambusai.***