Khazanah Benteng Tujuh Lapis
Rindra Yasin • Selasa, 18 Oktober 2016 | 10:01 WIB
RIAUPOS.CO - Menelusuri silsilah TuankuTambusai tidak bisa dipungkiri, beliau adalah asli Putra Riau yang keturunannya berasal dari daerah Rokan Hulu sekarang, sebagai mana asal muasal garis keturunan orang tua atau ayahnya berasal dari Luhak Rambah dan ibunya berasal dari Luhak Tambusai.
Tuanku Tambusai yang di kampung kelahirannya lebih dikenal dengan nama Muhammad Saleh atau Pakih Saleh dilahirkan di Negeri Lama Dalu-dalu pada 5 November 1784 dari pasangan Imam Khadi atau dipanggil Maulana Khadi dengan Munah.
Adapun Tuanku Tambusai atau Muhammad Saleh atau Pakih Saleh ayahnya berasal dari sebuah kampung kecil wilayah adat Luhak Rambah bernama Sungai Batang Kayuh yang sekarang ini.
Setelah otonomi daerah termasuk dalam wilayah Desa Pasir Agung Kecamatan Bangun Purba. Sebagai kakek dari Tuanku Tambusai adalah H Ibrahim lebih dikenal dengan nama Malim Kana sedangkan istrinya Kosum berasal dari Suku Kuti merupakan nenek dari Tuanku Tambusai.Orang tua dari Malim Kana juga berasal dari Luhak Rambah yang bernama Penghulu Jama.
Sebagai ibu dari Tuanku Tambusai atau Muhammad Saleh yang bernama Munah adalah berasal dari Suku Kandang Kopuh dan merupakan nenek dari Muhammad Saleh bernama Judah yang bersuamikan Paduko Lelo yang merupakan kakek Tuanku Tambusai sedangkan ibu dari nenek Pakih Saleh yang bernama Judah adalah Podi dengan nama suaminya Datuk Ulak yang juga berasal dari Luhak Tambusai di mana sekarang ini setelah pemekeran berada di wilayah Kelurahan Tambusai Tengah Kecamatan Tambusai sebagaimana di kutip dari Buku Tuanku Tambusai Pahlawan Nasional dari Riau karangan Prof Dr Amir Lutfi.
Tuanku Tambusai yang Bapaknya berasal dari Luhak Rambah sedangkan ibunya berasal dari Luhak Tambusai mempunyai satu orang istri dan dikaruniai dua orang anak terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Muhammad Saleh atau Tuanku Tambusai atau juga dipanggil Pakih Saleh di masa tuanya menetap di Jalan Rasah Gang Seremban Negeri Sembilan Malaysia dan meninggal di usia 98 tahun pada 12 November 1882.
Sejalan dengan pemikiran Presiden RI pertama Soekarno tokoh proklamator yang pernah diucapkan kembali oleh Rahmawati Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno mengatakan “Jangan sekali–kali kita meninggalkan sejarahâ€. Adanya benteng Tujuh Lapis peninggalan sejarah Tuanku Tambusai yang dibangun bersama pengikutnya tahun 1834, benteng ini terletak di tepian bibir Sungai Batang Sosah di Kelurahan Tambusai Tengah Dalu-dalu.
Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai terbuat dari tembok tanah yang sangat kokoh dan bangunan benteng ini dikelilingi parit sedalam 10 meter dan sebagai pelapis terluar ditanami rumpun aur berduri (bambu berduri).Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai adalah perlambang kegigihan dan potret semangat patriotisme bangsa Indonesia dan hususnya rakyat Rokan Hulu umumnya masyarakat Riau di masa lalu.
Sekarang ini Benteng Tujuh Lapis masih terdaftar untuk dijadikan Cagar Budaya Alam dan benteng tersebut meÂmiliki nilai yang tinggi karena merupakan warisan sejarah dan budaya.
Dalam melaksanakan pemugaran Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai sebagai warisan sejarah diperlukan karena merupakan salah satu objek penting perannya sebagai bagian sejarah Indonesia dan kekayaan budaya bangsa. Maka sudah seharusnyalah para stakeholder di Riau husus di Kabupaten Rohul yang merupakan kampung halamanTuanku Tambusai untuk menyegerakan semua pihak upaya pemugaran benteng tersebut.
Benteng Tuanku Tambusai merupakan aset nasional di mana akan berpengaruh secara signifikan bagi sejarah dan sosio-kultur kehidupan masyarakat.
Dengan dijaganya dan dilestarikan peninggalan sejarah tentu akan memperkaya khazanah kebudayaan bangsa Indonesia, menambah pendapatan negara karena sebagai objek wisata, menyelamatkan keberadaan benda peninggalan sejarah sehingga dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang serta membantu dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan dengan memanfaatkan untuk objek pendidikan.
Peninggalan sejarah sebenarnya tidak dapat dibantah kebenaranya seperti kita akan membantah bahwa nenek moyang kita bukanlah bangsa yang bodoh, kita adalah keturunan bangsa yang mempunyai daya cipta yang mengagumkan.Bila tidak ada buktinya kita akan disanggah orang. Dengan peninggalan sejarah itu kita dapat buktikan bahwa kita bukanlah bangsa yang bodoh dan lemah, tetapi kita bangsa yang gigih mampu berhatan di saat krisis.
Dengan dibangunnya benteng juga merupakan alasan pertahanan dan keamanan sebagai bukti bahwa kita selalu menentang penjajahan serta berkorelasi positif seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “...maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan…â€.Peninggalan sejarah benteng Tujuh LapisTuankuTambusai akan memberikan pelajaran yang sangat berguna bagi kita, bahwa kemerdekaan itu sungguh tidak ternilai harganya, sebagai bangsa yang pernah dijajah, bangsa Indonesia betul-betul menghargai kemerdekaan.
Jadi dengan adanya peninggalan sejarah menunjukkan suatu pengorbanan dan perjuangan yang besar dalam meraih kemerdekaan. Peninggalan sejarah dijadikan objek parawisata untuk menarik wisatawan baik domestik maupun manca negara yang tidak ternilai harganya. Khususnya bagi wisatawan manca negara, peningagalan sejarah kita dapat meningkatkan penghasilan devisa.
Masyarakat Rohul yang identik Negeri Seribu Suluk dan umumnya masyarakat Bumi Lancang Kuning yang kental dengan Islamnya akan dapat menikmati keindahan Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai sekaligus lebih mengetahui, lebih dekat tentang eksis Tuanku Tambusai di masa lalu dan menambah wawasan tentang para pejuang dari Provinsi Riau khususnya Kabupaten Rokan Hulu. Sudah barang tentu bila tertata rapi peninggalan sejarah Tuanku Tambusai yang bernama Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai di Dalu-dalu Kecamatan Tambusai yang merupakan daerah kelahiran Tuanku Tambusai.
Maka akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat kecil yang ekonomi lemah karena telah dapat pula dijadikan objek wisata yang dapat menambah PAD (pendapatan asli daerah) bagi Rohul dan sumber ekonomi bagi kehidupan, pedagang kecil. Dengan pemugaran Benteng Tujuh Lapis mudah-mudahan yang berkompoten tentang pemugaran akan memperhatikan dan mempertimbangkan sedetil-detilnya dari segala aspek sehingga terwujud pembangunan yang berkeadilan berkelanjutan (sustainable) tanpa menghilangkan nila-nilai sejarah pada Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai.
Dengan dinobatkan Tuanku Tambusai sebagai pahlawan nasional yang merupakan asli kelahiran Rokan Hulu merupakan kebanggaan tersendiri.
Mudah-mudahan para pejuang putra kelahiran Riau seperti Paduka Maulana Sri Sultan Alaudin Iskandarsyah Johan Fil Alam yang bergelar Raja Narasinga II yang berasal dari Indragiri Hulu, Mahmud Marzuki dari Kampar yang lahir di kampungnya Kumantan 1915 di mana dia memiliki pemikiran dan pandangan yang tajam baik dalam bidang politik maupun dakwah keagamaan di saat Indonesia melawan penjajahan Jepang, Panglima Besar Tengku Sulung dari Indragiri Hilir, Sultan Muhammad Zainal Abidin asal Rokan Hulu dan lain-lain dapat pula dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Dan daerah basis perjuangan pahlawan tersebut tetap menjadi perhatian pemerintah dan termasuk pihak swasta yang berusaha di daerah basis perjuangan pahlawan tersebut.
Perlu kita simak apa yang dikatakan seorang filosofi lingkungan Albert Schweittzer, orang yang benar-benar bermoral adalah orang yang tunduk pada dorongan untuk membantu semua kehidupan, ketika ia sendiri mampu membantu, menghindari apapun yang membahayakan kehidupan. Dalam hal ini kami yakin pemimpin-pemimpin di Riau dan pihak swasta punya kemauan tinggi untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat Riau khususnya dalam menÂdukung melestarikan peninggalan sejarah perjuangan di daerah Riau.
Dengan penuh semangat Tuanku Tambusai dan pengikutnya tetap berjuang melawan penjajahan Belanda secara tegar dan yakin dengan kebenaran.
Mengutip tulisan Dr Juni Syafrien Yahya, bahwa bertepatan 27 Nopember 1837 Gubernur Militer Kolonel Michiels yang baru diangkat untuk menghadapi Tuanku Tambusai terpaksa lagi minta bantuan pasukan dari Batavia. Empat kompi dari pasukan Bataliyon ke-6 dan dibantu oleh pasukan pribumi yang berpihak kepada Belanda dipersiapkan untuk melawan Tuanku Tambusai. Beberapa perwira lainnya yang membantu kolonel Michels; Mayor Bethoven bergerak dari Lubuk Sikaping sebanyak 1.500 orang pasukan; Mayor Westenberg bergerak ke Portibi beserta dua kompi dibantu pasukan pribumi. Diperkirakan menurut laporan dari pihak Belanda korban pemerintah kolonial sendiri dalam penyerangan ke Dalu-dalu adalah Mayor Bethoven (meninggal), Kapten Schaen (meninggal), Mayor Westenbenrg (luka-luka),dan Mayor Hoevel juga luka-luka. Jika di pihak tentara Belanda ada yang meninggal dan luka-luka maka dapat diperkirakan bagaimana dahsatnya dan heroiknya perang terjadi antara penjajahan Belanda melawan Tuanku Tambusai.
Adanya julukan yang diberikan atas kegarangan terhadap pahlawan seperti Bung Tomo dengan kata “Merdeka atau Mati†dan Tuanku Tambusai dengan kata “Sediakan Bedil’’ saat berhadapan dengan Kolonel Elout yang datang daÂri Padang ingin menyerang Tuanku Tambusai, saat itu Kolonel Elout ada berÂkomentar di mana kekuatan Belanda daÂtang di sana ia membuat kuburan. SaÂat itu Tuanku Tambusai tetap dengan keÂyakinannya bila mundur selangkah awal meÂnghianati diri.
Telah terukir sejarah perjuangan Tuanku Tambusai selaku Putra Riau yang berasal dari Rohul. Kita berharap pemerintah daerah mempunyai kemauan tinggi mengupayakan pembangunan pemugaran Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai yang menjadi harapan kita semua dan khususnya masyarakat Rokan Hulu.
Bertitik tolak dari pandangan bahwa sesuatu bangsa beranjak dewasa dan besar adalah bila bangsa itu mengenal dengan baik sejarahnya termasuk dari sejarah para pahlawannya.
Berdasarkan hal itu pulalah pembangunan pemugaran Benteng Tujuh Lapis basis perjuangan peperanganTuanku Tambusai yang terletak di Dalu-dalu Kecamatan Tambusai Kabupaten Rohul daerah kelahiran Tuanku Tambusai menjadi sangat penting demi menemukan dan mengangkat marwah dan jati diri bangsa.
Tuanku Tambusai yang diberi julukan De Padrische Tijger Van Rokan atau Harimau Padri dari Rokan di mana beliau berjuang bertempur melawan penjajah di masa itu wilayah Riau, Tapanuli dan Minangkabau bagian utara, beliau memilik semangat dan militansi perjuangan yang sangat kokoh, siap menghunus pedangnya, memimpin peperangan, tidak pernah mengalah pada penjajah.
Di sisi lain, Tuanku Tambusai adalah sosok lemah lembut lebih memperlihatkan ingin mencapai persetujuan bukan streng, berani dan keras hati sanggup mendaki Bukit Barisan untuk berguru agama ke Minangkabau, tegas dan konsekuwen seperti berusaha menghabisi orang-orang murtad yang membela Belanda, merupakan ulama besar, cendikiawan dan merupakan panglima perang dan patriot sejati.
Pada sosoknya terdapat pemikiran yang brilian, daya nalar yang terang menyala, perasaan yang bergelora,hati yang penuh limpahan berkah, jiwa yang dinamis nan cemerlang, lidah yang tajam dan berkuasa, kesungguhan dan tingginya cita-cita dalam menyebarkan pemikiran dan dakwah, dinamis yang sarat dengan cita-cita dan semangat yang senantiasa bergelora. Sepatutnya akhlak Tuanku Tambusai ini baik akhlaksosial ataupun akhlak spiritual dapat untuk diteladani bagi masyarakat dan lebih pantas lagi bagi pemimpin-pemimpin di Riau.
Upaya pemerintah dimana status Benteng Tujuh Lapis yang sekarang ini masih terdaftar sebagai cagar budaya alam pemerintahan pusat. Semoga dengan kerja keras pihak pihak terkait terutama dari Kabupaten Rohul dengan dukungan Pemerintah Provinsi Riau, Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai akan menjadi objek peninggalan sejarah yang mempunyai ciri khas keunikan tersendiri bagi Kabupaten Negeri Seribu Suluk yang kita cintai. Tentunya diharapkan pula masyarakat setempat senantiasa memelihara nilai-nilai sejarah yang harus dipertahankan secara berkelanjutan dan ini juga diharapkan masyarakat setempat merasa memiliki terhadap Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai dan sebuah harapan semoga Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai dapat menjadi destinasi sejarah yang diperhitungkan.
Semoga akan menggugah hati nurani yang paling dalam bagi kita terutama di Kabupaten Rohul bagi tiga pilar bangsa; pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk bergandengan tangan erat memugar kembali Benteng Tujuh Lapis di Dalu-dalu basis perjuanganTuanku Tambusai demi penghormatan kita kepada para syuhada yang telah syahid dalam mempertahankan Benteng Tujuh Lapis dengan jiwa, raga, darah dan air mata.
Haqulyaqin Pemkab Rohul yang di pimpin Pak Sukiman hal pembangunan pemugaran Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai akan terlaksana dengan baik akan mengupayakan merenovasi situs sejarah ini serta akan mengupayakan supaya nampak mendekati bentuk asliÂnya kembali.*** Editor : Rindra Yasin