Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Nara Singa II dan Perannya dalam Mempertahankan Eksistensi Kemaharajaan Melayu (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Rindra Yasin • Rabu, 7 Desember 2016 | 10:30 WIB

Nara Singa II adalah salah seorang sultan Kerajaan Indragiri, yang paling termasyhur. Bahkan jika direkonstruksi perjalanan sejarah Kerajaan Indragiri (1509-1912), maka Nara Singa ini dapat dianggap sebagai pendiri Kerajaan Inderagiri, sebagai penerus Kerajaan Keritang (1298-1509), meskipun ada pendapat lain yang mengatakan pendiri Kerajaan Indragiri adalah Maharaja Tuban, seperti tercatat dalam buku Tiga Lorong (Junaidi Syam, 2013).

Tetapi, untuk sementara ini saya tetap bersandar pada berbagai sumber yang terlebih dahulu ada, seperti Salalatus Salatin (Sejarah Melayu Tun Seri Lanang versi wg Shellbear, Sejarah Riau (Mukhtar Lutfi, dkk, 1977), Sejarah Melayu (Ahmad Dahlan, 2014), Sejarah Perjuangan Nara Singa ii (Kertas Kerja Suwardi ms, 2016), dan berbagai bahan lepas lainnya yang pernah saya baca, sebagai bagian dari riset saya ketika menulis buku semi sejarah Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu 1160-1946 (Rida K Liamsi, 2016).

Nama kecil Nara Singa ii adalah Raja Ibrahim. Dia putera dari Raja Merlang ii (raja terakhir Kerajaan Keritang yang wafat di Melaka), hasil perkawinan Raja Merlang ii dengan salah seorang puteri sultan Melaka yang termasyhur, Sultan Mansyursyah (1459-1477). Nama Nara Singa ii dipakai, karena ketika ayahnya wafat, dialah yang ditunjuk untuk menggantikanya.

Nara Singa ii itu adalah  gelar  penerus  Raja Keritang, Inderagiri, karena sebelum ayahnya jadi raja, ada raja terdahulu, kakeknya, yang bergelar Nara Singa i dan demikianlah tradisi pemberian nama gelar para penguasa dalam tradisi kemaharajaan Melayu. Dalam bentang sejarah dan proses pemahaman perjalanan sejarah kemaharaajaan Melayu, Nara Singa ii ini dapat dimasukkan sebagai raja-raja dari dinasti Melaka, karena darah ibunya

Kapan Nara Singa ii (Raja Ibrahim) lahir, belum ditemukan catatan yang pasti. Indikasinya, ketika dia masih kecil  sempat bertemu dan dipelihara kakek nya Sultan Melaka Mansyursyah, sampai usia 5 tahun. Kemudian diserahkan pada paman saudaranya Sultan Alaudin Riayatsyah i (1477-1488), Sultan Melaka pengganti Mansyursyah (Junaidi Syam,2013). Kemudian, ketika dia kembali ke Indragiri, dia masih muda (Suwardi ms, 2016). Berarti, Nara Singa ii lahir sekitar tahun 1472, dan kembali ke Indragiri, tahun 1508/1509, ketika berusia 30-an (35/36 tahun).

Belum ada catatan, apakah dia sudah beristeri atau belum, ketika kembali ke Indragiri. Hanya saja dikatakan dia pernah punya kekasih , bernama Tun (Puan) Gemala Puteri, namun tidak jadi menikah, karena kekasihnya itu diambil Sultan Melaka Mahmudsyah (1488-1528), yang memang terkenal flamboyan, dan masih termasuk sepupunya (Suwardi ms, 2016). Dia baru dikatakan menikah, tahun 1518 dengan Tun Khatijah, puteri Sultan Mahmudsyah.

Tun Khatijah adalah janda dari Sultan Pahang Mansyursyah (1475-1518) yang mati dibunuh. Dia menikah dengan Tun Khadijah di Bintan saat Mahmudsyah menyingkir dari Melaka ke Bintan, ketika diserang Portugis (Sejarah Kerajaan Lingga, M Amin Yacob, 2004). Kemudian setelah menjadi sultan di Indragiri, dia menikah lagi dengan puteri Raja Minangkabau, sebagai bagian dari diplomasi politik dan menikah dengan Dang Purnama (Suwardi ms, 2016).
***

Setelah kembali ke Indragiri, 1509, dia dilantik menjadi Raja Keritang oleh Datuk Patih Keritang, dan diberi gelar Sultan Alaudin Iskandarsyah. Gelar sultan ini, memakai tradisi Melaka, meskipun di Kerajaan Keritang sebelumnya, tetap memakai gelar raja. Setelah dilantik, Raja Nara Singa ii (Sultan Alaudin Iskandarsyah), memindahkan pusat pemerintahannya dari Perigi Raja, ke Pekantua. Kedua-duanya di pinggir Sungai Inderagiri (gabungan antara Batang Kuantan dan Batan Inderagiri). Pekantua, agak lebih ke hulu dibanding Perigi Raja, dan juga agak lebih kehulu dibanding Keritang, ibukota sebelumnya. Sekarang ini, Keritang dan Perigi Raja masuk Kabupaten Inhil), dan Pekantua (Kualacinaku) masuk Kabupaten Inhu.

Perjalanan Nara Singa ii menjadi sultan dan mendirikan Kerajaan Inderagiri, memang tidak mudah. Ayahnya Raja Merlang ii, meskipun menjadi menantu Sultan Melaka Mansyursyah, tetapi dia dituduh terlibat dalam konflik politik dan komplotan untuk menyingkirkan Sultan Melaka Alaudin Riayatsyah i dan akan memindahkan pusat Kerajaan Melaka ke Lingga (Suwardi ms, 2016), bahkan dia dikatakan terlibat upaya meracuni Sultan Alaudin Riayatsyah (Suwardi ms, Isjoni, 2007) juga dituduh bersekongkol dengan Sultan Pahang Muhammadsyah dan Ahmadsyah alias Sultan Syaih (abang Alaudin Riayatsyah i) yang tetap merasa merekalah yang paling berhak menjadi Sultan Melaka menggantikan ayahnya Mansyursyah, dan bukan adiknya Alaudin Riayatsyah. Muhammadsyah pernah mau menyerang Melaka dengan cara menghancurkan istana Melaka dengan pasukan gajah (Sejarah Melayu, wg Shellubear). Sultan Muhammadsyah, Pahang, adalah putera mahkota Melaka yang disingkirkan ke Pahang gara-gara membunuh Putera Tun Perak, bendahara Melaka. Sebab itu dalam beberapa catatan dan analisa tentang sejarah  Kerajaan Melaka, konflik politik inilah yang sering disebut sebagai dendam Tun Perak, dan dendam Pahang, yang sangat mewarnai perjalanan sejarah Kerajaan Melaka dan penerusnya, sampai ke Kerajaan Johor, Riau, dan Lingga, dan bahkan Inderagiri, Kampar dan Siak (Rida K Liamsi, 2016).

Dampak dari konflik politik itu, Raja Merlang ii telah ditahan/ditawan di Melaka, dan dilarang pulang ke Inderagiri. Karena itu pula, ketika dia wafat, dan puteranya Raja Ibrahim/Nara Singa ii, meskipun diakui Mahmudsyah i sebagai Raja Keritang, menggantikan ayahnya, tetapi tetap tidak diizinkan kembali ke Inderagiri dan tidak juga dilantik sebagai Raja Keritang.

Mahmudsyah sebaliknya memerintahkan Datuk Patih dan Maharaja Tuban (Tubano?), adik Raja Merlang ii, memerintah sementara Kerajaan Keritang.

Dalam sejarah Melayu diceritakan bagaimana orang-orang Indragiri, terutama para kaum kerabat Raja Merlang ii dan Nara Singa ii, diperlakukan secara semena-mena di Melaka dan dianggap orang-orang yang harus dimusuhi (disuruh menggendong anak-anak Raja Melaka dan bangsawan lainnya, jika melewati jalan yang becek, dan lainnya). Meskipun untuk bangsawan Inderagiri lainnya, tetap dihormati, seperti Tun Muhammad yang dianggap sangat perkasa karena berhasil menembus Gunung Ledang dan bertemu dengan Puteri Gunung Ledang itu, mengalahkan kehebatan Laksamana Melaka, ketika Sultan Mahmudsyah i tergila-gila dan ingin meminang Puteri Gunung Ledang. Nara Singa ii pernah menghadap Sultan Mahmudsyah i dan minta izin kembali ke Inderagiri, tetapi tetap tak diizinkan.

Nara Singa ii akhirnya bisa kembali ke Indragiri setelah melalui dua kejadian penting. Pertama, apa yang disebut cerita Rakit Kulim yaitu upaya yang dilakukan Datuh Patih Keritang bersama beberapa pembesar negerinya untuk menjemput Nara Singa ii kembali ke Indragiri secara diam-diam dengan menggunakan perahu bergandeng tiga (Rakit Kulim) menyeberang dari Kuala Inderagiri terus ke pulau-pulau kecil di sekitar Selat Melaka, sampai akhirnya ke Melaka dan kemudian berhasil membawa kembali Nara Singa ii ke Inderagiri (Suwardi ms, 2016). Kepergian Nara Singa ii kembali ke Indragiri, meskipun menimbulkan kehebohan di Melaka, tetapi tidak membuat Sultan Mahmudsyah i yang pemberang itu memerintahkan para pembesar dan hulubalangnya untuk mengejar dan mencari Nara Singa ii. Hal ini terjadi karena sebelum kepergiannya itu, Nara Singa ii dan Mahmudsyah i sudah bertemu, dan melakukan bargaining politik. Nara Singa ii bersedia melepas kekasihnya Tun Gemala Negeri menjadi isteri Mahmudsyah, dan Nara Singa ii diizinkan kembali ke Indragiri tidak akan dihukum, sepanjang Indragiri kelak tetap tunduk pada Melaka (Suwardi ms, 2016). Kisah Rakit Kulim dan Tun Gemala Negeri itu, menjadi jalan lapang Nara Singa ii kembali ke Indragiri, dan memulai kembali ambisinya membangun Keritang/Indragiri, kerajaan warisan ayahnya itu.
***

Tetapi, Indragiri/Keritang saat Nara Singa ii kembali, tahun 1508/1509  itu bukan lagi Inderagiri/Keritang saat ditinggalkan ayahnya Raja Merlang ii ke Melaka.  Ternyata Maharaja Tuban, adik ayahnya, yang ditunjuk sebagai penanggung jawab pemeritahan bersama Datuk Patih, telah memindahkan pusat pemeritahannya dari Keritang ke Perigi Raja. Dan ketika dia wafat, penggantinya adalah anaknya Maharaja Isap. Pemindahan ibukota dan pengangkatan Maharaja Isap sebagai Raja Inderagiri itu ditentang oleh Datuk Patih Keritang dan pembesar negerinya, seperti Tun Kecik dan Tun Ali.

Maharaja Isap tidak bersedia mundur dari jabatannya, meski tahu Nara Singa II sudah kembali ke Inderagiri. Nara Singa ii  marah, dan merasa dialah yang berhak atas tahta Kerajaan Keritang/Indragiri itu dan dialah yang sudah disetujui Sultan Melaka Mahmudsyah i menggantikan ayahnya Raja Merlang ii. Karena itu, dia mendesak Maharaja Isap yang sebenarnya masih saudara sepupunya itu untuk mundur dan menyerahkan tahta kerajan kepadanya. Karena Maharaja Isap menolak maka Nara Singa ii dengan bantuan para pembesarnya (Datuk Patih, Tun Kecik dan Tun Ali) menyerang Maharaja Isap dan mengusirnya dari Inderagiri. Akhirnya Maharaja Isap, melarikan diri menuju lingga kerajaan yang juga masih termasuk taklukan Melaka, dan sudah dikenalnya karena pernah lama bulak balik Inderagiri-Lingga sebagai pedagang.

Di Lingga, Maharaja Isap diterima Raja Lingga, Maharaja Megat dan kemudian dikawinkan dengan salah seorang puterinya. Bahkan, ketika Raja Lingga wafat, maka Maharaja Isaplah yang dilantik sebagai Raja Lingga, pengganti mertuanya. Raja-raja Lingga dikatakan keturunan raja-raja Jambi yang berasal dari Pangkalan Lama (M Amin Yacob, 2004). Meskipun ada juga yang mengatakan berasal dari Terengganu (Suwardi ms, 2016) dan dari Bintan (Rida K Liamsi, 2016).

Di Kerajaan Melaka, terjadi perkembangan politik yang luar biasa. Portugis di bawah pimpinan Laksamana Alfonso de Alberqueque berhasil menaklukkan Melaka, dan tahun 1511 itu, Mahmudsyah dan anaknya, Raja Muda Ahmadsyah, keluarga dan para pembesar Melaka harus menyingkir dari Melaka. Sambil terus melawan, mula-mula mereka ke Pagoh, lalu ke Muar, dan terus ke Johor dan Pahang. Sebelum akhirnya menyeberang ke Bintan.

Tak kurang dari 3 tahun mereka terus berperang menghadapi serbuan Portugis, dari satu negeri ke negeri lainnya, sebelum akhirnya pindah dan membangun pusat pemerintahan baru di Bintan, tahun 1513. Bintan adalah salah satu negeri taklukan Melaka. Sama seperti Kampar, Siak, Indragiri, Lingga, dan Jambi.

Tahun 1512, setelah menyelesaikan konflik politik di kerajaannya, Raja Nara Singa ii (Sultan Alaudin Iskandarsyah) mulai membangun Kerajaan Inderagiri dan kemudian memindahkan pusat pemerintahannya dari Perigi Raja, ke Pekanlama. Mulai mengangkat para pejabat pemerintahannya yang baru. Mengangkat Tun Ali sebagai Bendahara, dan Tun Kecik sebagai Temenggung, dan perangkat pemerintahan lainnya (Suwardi ms, 2016). Menjalin persahabatan dengan Kerajaan Minangkabau, membangun pusat angkatan perangnya di Reteh, Kuala Indragiri, dan bersiap untuk membantu Kerajaan Melaka menentang Portugis (Mengembalikan Kejayaan Melayu di Indragiri, Suwardi ms, Isjoni, dkk, 2007).

Sementara itu, Maharaja Isap, meskipun sudah menjadi raja di Lingga, tetap  tidak merasa puas atas perlakukan Nara Singa ii. Kemudian dia mengadu ke Sultan Melaka Mahmudsyah i di Bintan, menuduh Nara Si­nga ii telah merampas tahta Kerajaan Keritang dan melanggar perintah Mahmudsyah yang dahulunya menugaskan ayahnya Maharaja Tuban memerintah Keritang, ketika Raja Merlang ii ditawan di Melaka. Dan minta Mahmudsyah melantiknya sebagai sultan di Lingga.

Mendengar kabar Maharaja Isap mengadu ke Melaka dan menuduh dia melanggar perintah, maka Nara Singa ii memerintahkan pasukannya menyerang Lingga. Dia berhasil menawan semua keluarga Maharaja Isap, merampas harta bendanya, dan membawa semuanya ke Indragiri.

Begitu Maharaja Isap kembali ke Lingga, dia mendapati kedudukannya di Lingga sudah porak-poranda, dan harta bendanya sudah dirampas, maka Maharaja Isap sangat marah dan merasa malu atas perlakukan itu. Dalam sejarah Melayu dia diceritakan menconteng arang ke mukanya. Dan meminta semua rakyatnya di Lingga bersama-sama menghapus arang di mukanya, dengan membasuhnya dengan air Sungai Inderagiri. Balas dendamdan ingin menguasai Kerajan Inderagiri kembali.

Maharaja Isap mendapat kesempatan  membalas dendam, ketika mendapat kabar Nara Singa II pergi ke Bintan menghadap Sultan Mahmudsyah. Maharaja Isap dan pasukannya lalu menyerang Inderagiri. Seperti yang dilakukan Nara Singa ii ketika menyerang Lingga, maka dia pun merampas harta benda Nara Singa II, menawan isteri dan keluarga Nara Singa  II dan memerintahkannya membawanya ke Lingga. Sementara dia sendiri juga berangkat ke Bintan, dan melaporkan semua kejadian itu kepada Mahmudsyah.

Akhirnya Mahmudsyah memerintahkan mereka berdamai. Raja Nara Singa II tetap dianggap sebagai Sultan Inderagiri, bahkan dilantik dan diberi gelar Sultan Abdul Jalilsyah. Sementara Maharaja Isap tetap memimpin Lingga, dan diberi jabatan Laksamana.

Nara Singa II senang dengan jabatannya yang baru, dan mengaku akan tetap setia pada Melaka dan bersiap untuk membantu Melaka menyerang Portugis, namun Maharaja Isap  kecewa, dan tetap berniat untuk merebut kembali Inderagiri. Dia menganggap jabatan laksamana itu lebih rendah dari jabatan sultan, yang disandang Nara Singa ii.***

Makalah ini disampaikan dalam Seminar Kepahlawanan Nara Singa II, di Pekanbaru, 5-8 Desember 2016.

 

Editor : Rindra Yasin