Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Memaknai Balik Kampung

Rindra Yasin • Rabu, 21 Juni 2017 | 11:01 WIB
RIAUPOS.CO - Perjalanan jauh tak ku rasa/Kerna hati ku melonjak sama/Ingin berjumpa sanak saudara/Yang selalu bermain di mata/Nun menghijau gunung ladang dan rimba/Langit nan tinggi bertambah birunya/Deru angin turut sama berlagu/Semuanya bagaikan turut gembira/ Balik kampung oh oh..., balik kampung oh oh.., balik kampung/Hati girang

Bait di atas adalah petikan dari lagu "Balik Kampung" dendangan penyanyi legendaris Malaysia, Sudirman Haji Arshad. Nyanyian tersebut sudah akrab di telinga penulis dan anak-anak Melayu sejak dulu, terlebih menjelang Idul Fitri datang. Suara merdu Sudirman seakan menusuk relung hati kita untuk balik ke kampung, bergembira menikmati indahnya suasana kampung dan berjumpa sanak saudara.

Balik kampung atau sebagian besar masyarakat menyebutnya mudik menjadi idaman bagi semua perantau di negeri ini. Balik kampung seakan menjadi ritual wajib yang harus dilakukan. Saking wajibnya, manusia terkadang berada di ambang batas nalar yang tidak rasional. Bayangkan saja, mereka rela berjejal penuh semangat di kereta api, berjubel antre di terminal, berjam-jam terjebak macet di jalanan. Semua itu dilakukan demi satu tekad dan niat untuk balik ke kampung halaman.

Kuatnya dominasi aura romantisme masa silam dan tarikan untuk kembali ke tanah kelahiran telah mengalahkan pertimbangan apa pun. Tak ada variabel materi yang mendasari seseorang untuk balik kampung. Uang habis tidak masalah asal bisa sampai ke kampung halaman dan merayakan Idul Fitri bersama sanak keluarga dan teman-teman. Ritus-ritus itu terus diulang dan terpampang terang tiap akhir Ramadan jelang Idul Fitri datang.

Begitulah antusiasnya manusia untuk balik kampung, menjumpai sanak keluarga dan handai tolan. Sembari menikmati hembusan angin, menapaktilasi kehidupan semasa di kampung. Penulis masih ingat, bagaimana indahnya berenang di Sungai Kampar nan jernih, berlari meniti pematang sawah sambil menanti kail dimakan ikan, bermain sepak ola menjelang petang, pergi mengaji dengan suluoh (alat penerang) ke surau, membantu emak memasak masakan khusus jelang Idul Fitri. Ikatan silaturrahim begitu kuat di masyarakat, nilai agama dan tradisi masih dijunjung tinggi. Sungguh keindahan itu tidak bisa dilukiskan dengan kata. Ternyata kampung memberikan sumbangsih berarti bagi diri. Kampung mengajarkan manusia akan hakikat kehidupan, menyadarkan diri dari mana berasal. Perjalanan panjang manusia semuanya bermula dari titik kampung. Perantauan hanyalah proses “jeda” manusia sebelum kembali pulang, agar kelak manusia  tidak seperti kacang lupa kulitnya.

Hanya saja, balik kampung dipahami setakat kulit, tidak mencungkil isi dalamnya. Balik kampung sesungguhnya adalah gambaran untuk kita kembali ke kampung abadi kita, yakni akhirat. Dalam ranah agama, kita sedang menjalankan teologi “ilaihi rojiun”, kembali kepada sang Khalik. Kerinduan untuk kembali kepada sang pemilik diri inilah yang menjadi tarikan yang tak tertahankan. Seperti yang dilukiskan oleh Jalaluddin Rumi, bahwa kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Lengkingan pilu suara seruling itu adalah jeritan merdu manusia untuk kembali kepada rumpun sejatinya.

Balik kampung sejatinya menyimpan nilai transenden yang amat penting dalam mengingatkan manusia dalam perantauannya. Sejauh apapun kita merantau, sebanyak apapun harta dan teman di rantau, kita pasti ingin pulang ke kampung halaman. Sebab di kampunglah kita berasal dan mengenal awal nilai-nilai kehidupan. Rajutan kehidupan di kampung tidak akan pernah koyak dalam ingatan. Sebab jahitan itu terpatri kuat dalam jalinan terdalam memori kita. Betapapun debu-debu kehidupan rantau menempel, tapi kilauan intan hidup di kampung tak pernah tertutup lama. Hembusan-hembusan Ramadan dan Idul Fitri meniup debu-debu tersebut dan menampilkan kembali kilauan kehidupan kampung serta mengajak kita untuk kembali pulang.

Bekal Balik Kampung
Hasrat balik kampung sesunguhnya fitrah yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.Hasrat untuk merindukan asal kehidupannya. Manusia ingin kembali kepada yang menciptakan dirinya. Ingin pulang ke kampung sejatinya dengan penuh suka cita. Suka cita itu hanya akan didapat kalau perantau memiliki bekal yang cukup. Sebab, dengan bekal yang cukuplah perjalanan balik kampung akan terasa indah dan menyenangkan. Namun bila bekal untuk pulang tidak memadai apalagi tidak cukup. Tentu akan menjadi perjalanan pulang yang panjang dan menyiksa menjelang hari perhitungan (baca: kiamat). Persis seperti balik ke kampung dunia.

Ironisnya, mencari bekal untuk balik ke kampung dunia tidak berjalan seimbang dengan bekal untuk balik ke kampung akhirat. Ramadan sebagai sarana berlipat ganda yang disediakan Allah untuk manusia dalam mempersiapkan bekal untuk balik ke kampung akhirat, ternyata tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh manusia. Manusia lebih sibuk dengan persiapan balik ke kampung dunia, sehingga di ujung-ujung Ramadan, pusat-pusat perbelanjaan lebih ramai di banding masjid. Bonus yang dijajakan oleh pusat perbelanjaan lebih menarik ketimbang bonus yang ditawarkan Allah. Padahal bonus Allah tidak hanya 30 persen, 50 persen atau 70 persen, tapi setara dengan usaha manusia selama 83 tahun.

Kerinduan untuk balik kampung, sesungguhnya kerinduan diri untuk kembali hidup dalam tatanan alamiah dan ilahiah. Semoga balik ke kampung dunia menjadi kegembiraan diri untuk mengambil nilai transendennya dan selanjutnya melakar dalam ingatan kita untuk mempersiapkan bekal yang cukup untuk balik ke kampung halaman yang abadi. Alhasil,  perjalanan panjang balik kampung penuh dengan keriangan. Balik kampung oh oh..., balik kampung oh oh.., balik kampung/ hati girang.***
Editor : Rindra Yasin