Area perdagangan bebas seperti AFTA dapat memberikan peluang bagi perusahaan–perusahaan untuk mengembangkan pasar. Sebaliknya juga menjadi ancaman karena perusahaan-perusahaan lain juga mengembangkan pasar mereka. Apakah hal ini menjadi peluang atau ancaman sangat tergantung pada hasil persaingan yang dihadapi pasar.
Peter dan Waterman mengemukakan bahwa perusahaan yang unggul adalah perusahaan yang dekat dengan pelanggannya, tanggap terhadap mereka dan melayani mereka dengan baik. Memuaskan pelanggan merupakan salah satu faktor penting dalam persaingan bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Dan kepuasan pelanggan (customer satisfaction) telah menjadi alat strategis bagi perusahaan Jepang untuk memasuki dan penetrasi pasar.
Lean Production dan Sistem Produksi
Konsep Lean production yang dipopulerkan Womack Jones dan Roos telah diadopsi oleh Industri-Industri Automotive seperti Toyota yang merupakan gambaran kebiasaan terbaik (best practice) yang masih digunakan hingga saat ini. Lean Production dapat diartikan dengan melakukan lebih banyak dengan lebih sedikit (sedikit orang, persediaan, ruang gerak, waktu, dan lain-lain).
Sistim Produksi Toyota (Toyota Production System) yang juga merupakan dasar dari lean production mempunyai tujuan utama yaitu mereduksi biaya (reduction cost) yang dapat dicapai dengan menghilangkan aktivitas-aktivitas produksi yang tidak penting. Orang menurut mereka adalah sumber daya yang paling fleksibel yang mereka miliki. Jika proses manual belum dimanfaatkan secara efisien, tidak akan tampak jelas dimana kita memerlukan otomasi untuk mendukung proses.
Perusahaan-perusahaan Jepang juga sebelum menggunakan teknologi baru, mereka terlebih dahulu melakukan penyederhanaan-penyederhanaan proses yang dapat mereduksi biaya, menghilangkan pemborosan {waste-(muda-istilah Jepang)}, melakukan perbaikan berkesinambungan {Continuous Improvement- KAIZEN(Istilah Jepang)}, dimana kesemuanya itu merupakan sasaran dari Just in Time(JIT), Total Quality Management (TQM). Just in Time dapat diartikan dengan memproduksi hanya barang-barang yang dibutuhkan pada saat yang tepat dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dengan cara yang paling ekonomis.
Dan yang tak kalah pentingnya dalam mencegah kesalahan dalam produksi maupun aktivitas, Perusahaan Jepang telah menerapkan metode yang dikenal dengan istilah alat anti salah (POKA YOKE). Contohnya ada gembok dengan sejumlah anak kunci. Contoh sederhana ini dapat menghemat waktu untuk membuka gembok dari sekian banyak anak kunci yang kita pegang. Memberi warna yang tidak sama pada kunci dapat disebut juga dengan bekerja cerdas.
Pengenalan dan Pengaruh Teknologi Baru
Banyak perusahaan menggunakan teknologi baru untuk mendapatkan manfaat dalam proses pembikinan (manufacturing process). Salah satu manfaat dengan menerapkan teknologi baru adalah penghematan misalnya: penghematan tenaga kerja langsung (direct labor). Penghematan ini akan meningkatkan produktivitas, pengurangan biaya, peningkatan mutu, fleksibilitas, ketepatan waktu yang akan mengarahkan perusahaan memperoleh kesuksesan dalam persaingan.
Perkembangan teknologi dengan cepat dapat menyebabkan keusangan suatu produk setelah produk baru/ sejenis tampil dengan innovatif memasuki pasar. Untuk perusahaan yang dipengaruhi oleh penyusutan siklus hidup produk, fleksibilitas dan inovasi dapat menjadi strategi persaingan untuk mempertahankan pelanggan mereka dalam pasar.
Perkembangan teknologi baru yang telah digunakan dalam industri manufaktur antara lain:
Pertama, sistem: Manufacturing Resources Planning (MRP II). Kedua, Hardware: Flexibility Manufacturing System (FMS), Computer Integrated Manufacture (CIM), Automated Guided Vehicle(AGVs). Ketiga, Kombinasi dari sistim dan perubahan kultur:Just in Time&TQM
Fakto dan Strategi dalam Persaingan
Cara untuk mempertahankan produk yang unggul adalah dengan melakukan studi terhadap pelanggan kita secara terus menerus dengan maksud menyediakan penampilan produk yang inovatif. Alat untuk menganalisa dan mengendalikan level dari kinerja ini adalah Bench Marking dan QFD (Quality Function Deployment)
Faktor-faktor persaingan dalam manufaktur adalah opini dari Bolwjin dan Kumpe yang telah mengamati nya setiap dekade. Faktor–faktor persaingan yang dimaksud antara lain: Harga, Kualitas, Fleksibilitas dan Inovasi. Jepang telah menargetkan kualitas sebagai faktor dominan dalam bersaing dan dilanjutkan dengan meningkatkan keunggulan mereka dengan fleksibilitas, pengiriman tepat waktu serta faktor inovasi.
Hal ini telah menjadikan Perusahaan–perusahaan Jepang dengan mudah memasuki pasar dan menjadi pemimpin pasar (market leader) seperti:TV, Radio, Kamera, HiFi dan Mobil.
Salah satu unggulan produk Jepang yakni Toyota merupakan kualitas terbaik selama bertahun-tahun, penjualan tumbuh terus menerus. Profitabilitas yang konsisten, cadangan tunai yang besar. Hal ini tidak terlepas dari 14 prinsip manajemen (The Toyota Way) yang terkenal dan merupakan best practice hingga saat ini di Industri Automotive.
Kesimpulan
Kualitas yang jelek tidak hanya harus dihilangkan dari produk itu sendiri, tetapi juga dari semua aktivitas dalam perusahaan yang mempengaruhi daya saing produk itu dipasar secara efektif. Ide perbaikan terus menerus, dan prinsip pelanggan internal (internal customer) harus menjadi budaya dalam setiap aktivitas perusahaan. Dalam persaingan manufaktur, sumber daya manusia merupakan faktor kritis yang perlu diperhatikan untuk memungkinkan perusahaan bersaing dengan efektif.
Penerapan ISO (9001, 14001, 45000, dll); TQM; JIT; SIX SIGMA; Penggunaan proses yang dikontrol dengan computer; atau metode-metode baru akan menjadi sia-sia jika sumber daya manusia tidak mampu atau ketidak mauan mereka mendukung perubahan-perubahan ini. Serta pola kerja “Bekerja cerdas” dengan menerapkan pokayoke dalam seluruh aktivitas perlu menjadi budaya dalam pemikiran setiap orang yang bekerja dalam perusahaan.***
Editor : Rindra Yasin