Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kelebihan Puasa Arafah

Rindra Yasin • Rabu, 28 Juni 2023 | 10:15 WIB
Photo
Photo

Zulhijjah merupakan bulan yang memiliki banyak kelebihan bahkan salah satu ibadah yang dianjurkan pada bulan tersebut puasa sunat. Selain puasa Tarwiyah di hari kedelapan Zulhijjah, puasa sunat lainnya yang dianjurkan puasa Arafah tepatnya tanggal kesembilan bulan Zulhijjah. Diantara hadist yang menguraikan fadhilah atau keutamaan berpuasa hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah yaitu:  ‘’Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat’’. (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qatadah).

Menurut para ulama bahwa dosa-dosa yang dihapus sebab puasa Arafah adalah dosa-dosa kecil, sebagaimana diterangkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muslim juz 3 (h. 113). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah.

Keutamaannya dapat menghapuskan dosa setahun lalu dan setahun akan datang. Masyarakat muslim di Indonesia saat ini ada perbedaan terkait dengan lebaran Idul Adha ada yang menyebutkan hari Rabu (28 Juni 2023) versi Muhammadiyah dan ada juga yang mengatakan hari Kamis Idul Adha versi Pemerintah (Nahdhatul Ulama).

Terkait hal ini tentunya ada perbedaan dalam melaksanakan puasa hari Arafah. Sebenarnya Umat muslim di Indonesia tak perlu bingung dan ragu kapan melaksanakan Puasa Arafah 9 Dzulhijjah tahun ini. Sebagian kalangan berpuasa Arafah dengan mengikuti jadwal Wukuf jamaah Haji pada Selasa 27 Juni 2023. Sebagian lagi tetap mengikuti waktu Indonesia pada Rabu 28 Juni 2023.

Terlepas dari perbedaan di atas, kita sebagai muslim sangat dianjurkan puasa Arafah dan tentunya mengikuti sesuai dengan petunjuk ulama meskipun ada perbedaan sesuai dengan pemahaman masing-masing ulama. Fadhilah puasa Arafah sangat banyak diantaranya: Dibebaskan dari Api Neraka. orang yang berpuasa pada hari Arafah juga dibebaskan dari segala macam siksa neraka.

Sebab, sebagaimana disebutkan Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya, bahwa Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka pada hari Arafah dibanding hari-hari lainnya. Hal ini sesuai dengan hadist : ma min yaumin aksara min aiyu’tiqallahu fihi ‘abdan minannari min yaumil arafah: “Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api neraka lebih banyak daripada pada hari Arafah,” (HR Muslim).

Keberadaa puasa Arafah juga merupakan perkara yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah Saw. Ini sesuai dengn hadist: : “Ada 4 perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah yaitu puasa Asyura, puasa hari Arafah, puasa 3 hari setiap bulan dan salat 2 rakaat sebelum subuh,” (HR. An Nasa’i dan Ahmad).

Selanjutnya keberadaan hari Arafah merupakan sebagai hari yang paling baik dan doa serta permintaan juga maqbul di hari tersebut.  Memperkuat argumen ini sebagaimana disebutkan dalam hadist: “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan, sebaik- baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan, ‘La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli sya-in qadir’ (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Allah semata; tidak ada sekutu bagi-Nya, miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu)” (HR Tirmidzi). Puasa Arafah sebagai puasa sunat meskipun tidak sempat sahur dan berniat malam hari, masih ada kesempatan untuk berpuasa di siang hari sebelum tergelincir matahari dan melakukan hal yang membatalkan puasa dengan berniat siang harinya.

Hal ini didasarkan pada beberapa hadist, diantaranyaari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata; Pada suatu, Nabi Saw menemui dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” kami menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” (H.R. Muslim). Dalam hadits di atas, Rasulullah Saw berpuasa sunnah. Ketika niat puasa Rasulullah Saw ternyata dilakukan di siang hari, yakni setelah terbut fajar karena beliau tidak mendapati makanan di rumahnya yang bisa dimakan, maka hal ini menunjukkan puasa sunnah boleh diniatkan di siang hari.Sejumlah sahabat seperti Abu Ad-Darda’, Ibnu Abbas, Hudzaifah, Abu Thallah dan Abu Hurairah juga memiliki kebiasaan seperti Rasulullah Saw ini. Yakni berniat puasa sunnah di siang hari jika tidak mendapatkan makanan yang bisa di makan di rumahnya. Bukhari meriwayatkan;Ummu Ad-Darda’ berkata: Kebiasaan Abu Ad-Darda’ jika bertanya: Apakah ada makanan?, lalu kami menjawab: Tidak, maka beliau berkata; Aku puasa hari ini. Abu Tholhah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Hudzaifah juga melakukan kebiasaan ini. (H.R. Bukhari).

Keberadaan Puasa Arafah hanya disunnahkan untuk yang bukan jamaah haji, sedangkan untuk yang sedang menunaikan ibadah haji tidak disunnahkan, Meskipun kuat melaksanakannya. Alasannya, karena ittiba ‘untuk sunnah Nabi. Jika tetap melakukan puasa, maka hukumnya khilaful aula. Hal itu berbeda dengan pendapat Imam Nawawi yang menganggapnya makruh.


Namun, jika sudah tiba di Arafah pada malam hari, maka tidak dimakruhkan, disetujui asy Syafi’i dalam kitab al-Imla’ . ( Asnal Mathalib , V, 385). Puasa Arafah sangat dianjurkan, untuk turut membantu kenikmatan yang diterima oleh para jamaah haji yang sedang menjalankan ibadah di tanah suci. Hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa.

Ibnu Abbas ra meriwayatkan Rasulullah saw bersabda:“Tidak ada perbuatan yang lebih penting dari Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah! Bagaimana jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad di jalan Allah selain lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid ), ” (HR Bukhari)

Beranjak dari paparan di atas, hendaknya kita sebagai muslim, kesempatan dan waktu yang masih diberikan hingga saat ini dan dengan memahami keutamaan hari Arafah  yang melimpah itu, ada yang bisa kita lakukan puasa Arafah. Pahala kita akan bertambah, dosa-dosa kita dihapus, dan diperoleh ridla Allah. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang mendapat keberkahan di hari yang mulia dan berkah itu. Lantas apakah kita juga bagian dari kelompok orang tersebut? ***

Editor : Rindra Yasin