Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Urgensi Refleksi Guru Terhadap Pembelajaran Berdiferensial

Rindra Yasin • Jumat, 29 Desember 2023 | 10:08 WIB
Photo
Photo

Proses pembelajaran semester ganjil tahun pelajaran 2023/2024 telah berakhir, ditandai dengan pembagian rapor hasil belajar. Pembagian rapor hasil belajar adalah momen penting dalam proses pendidikan karena memungkinkan guru, orang tua, dan siswa untuk menilai kemajuan belajar siswa. 

Apakah kita sebagai guru bangga melihat siswa kita mengalami kemajuan belajar? Pastinya sangat bersyukur dan bangga. Karena guru merasa puas dengan proses pembelajarannya. Bagaimana dengan siswa yang belum menunjukkan kemajuan dalam belajar mereka? Apa yang seharusnya dilakukan oleh guru? 

Dalam hal ini, penulis berpendapat bahwa guru masih harus melakukan refleksi diri untuk merencanakan perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran untuk semester genap yang akan dimulai pada Januari 2024, terlepas dari apakah siswa telah mencapai kemajuan dalam belajar mereka atau tidak. Berbicara mengenai kurikulum merdeka, tentunya tidak lepas dari salah satu aspek penting yaitu pembelajaran berdiferensiasi, yang mengakui perbedaan individual siswa dan memberikan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka. 

Dengan demikian, refleksi yang dilakukan oleh guru pada saat ini tentunya berkenaan dengan evaluasi pembelajaran berdiferensiasi yang telah dilakukan apakah ada hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan lagi agar menjadi pembelajaran yang lebih efektif. Salah satu komponen terpenting dalam strategi pembelajaran berdiferensiasi adalah kesiapan belajar. 

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep dan keterampilan baru. Agar kesiapan belajar itu terdeteksi dengan baik maka guru melakukan asesmen diagnosis kognitif di awal pembelajaraan untuk mengukur dan menemukan keunikan tingkat pemahaman siswa sehingga guru akan memberikan perlakukan yang berbeda-beda terhadap siswa di dalam kelas. 

Selain kesiapan belajar, ada komponen lainnya, yakni minat dan gaya belajar siswa. Gaya belajar terdiri dari pembelajar visual, auditori atau kinestetik. Untuk mengetahui hal ini, maka guru melakukan asesmen diagnosis non kognitif. Dengan guru mengetahui minat dan gaya belajar siswa, memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih efektif dan bermakna.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilaksanakan oleh guru melalui tiga acara, yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten melibatkan penyajian materi pembelajaran yang mempertimbangkan tingkat keterampilan, minat, dan gaya belajar yang berbeda dari siswa. 

Contohnya memberikan materi tambahan untuk siswa yang telah mencapai pemahaman lebih cepat atau menyediakan sumber daya tambahan untuk mendukung siswa yang memerlukan bantuan tambahan. Guru menyesuaikan bacaan, video, atau tugas untuk mencocokkan preferensi dan tingkat pemahaman siswa. Diferensiasi proses pembelajaran melibatkan penggunaan metode, strategi, atau pendekatan pembelajaran yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan preferensi siswa. 

Contohnya menggunakan pendekatan pengajaran yang berbeda seperti pembelajaran berbasis proyek, diskusi kelompok, atau pembelajaran mandiri. Guru menyesuaikan tugas atau penilaian agar sesuai dengan gaya belajar individu. Diferensiasi produk pembelajaran berkaitan dengan pengembangan atau penggunaan sumber daya pembelajaran yang unik, inovatif, atau lebih efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. 

Contohnya menggunakan perangkat lunak pembelajaran interaktif, aplikasi mobile, atau platform daring yang dirancang khusus untuk mendukung proses pembelajaran. Pengembangan buku teks yang disesuaikan dengan kurikulum atau kebutuhan belajar khusus. Dalam pembelajaran berdiferensiasi guru dapat melakukan penilaian formatif yang berfokus pada pemahaman individu siswa. 

Ini mencakup penggunaan berbagai pendekatan penilaian, seperti proyek, presentasi, dan ujian, yang memungkinkan siswa menunjukkan secara berbeda tingkat pemahaman mereka. Guru harus mempertimbangkan sejauh mana mereka telah berpartisipasi secara aktif dalam memahami kebutuhan belajar masing-masing siswa dalam pembelajaran berdiferensiasi. Dengan melakukan refleksi yang mendalam, guru dapat terus memperbaiki dan meningkatkan pendekatan berdiferensiasi mereka, menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan sesuai dengan semangat kurikulum merdeka.**

Helen Martanilova, S.Pd. Guru Matematika SMPN 1 Siak dan Mahasiswa Magister Pedagogi Unilak

Editor : Rindra Yasin