Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Gaya Hidup Berkelanjutan

Redaksi • Rabu, 5 Juni 2024 | 10:18 WIB
Adnan Kasry, Profesor dan Dosen Ilmu Lingkungan PPs Unri
Adnan Kasry, Profesor dan Dosen Ilmu Lingkungan PPs Unri

RIAUPOS.CO - Sebagaimana lazimnya, setiap tahun PBB memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada setiap tanggal 5 Juni dengan tema yang berbeda sesuai kondisi lingkungan hidup yang menjadi perhatian masyarakat di seluruh dunia. Hari Pembukaan Konferensi Stockholm yaitu 5 Juni 1972 dinyatakan sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Badan PBB khusus untuk masalah lingkungan didirikan dengan nama United Nation Environmental Prograamme (UNEP) yang bermarkas besar di Nairobi, Kenya.

Acara peringatan lingkungan hidup tahunan adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya melestarikan dan meningkatan fungsi lingkungan kita. Hari lingkungan hidup ini berfungsi sebagai platform global untuk mendorong tindakan lingkungan dan melibatkan masyarakat dalam kehidupan berkelanjutan.

Pada tahun 2024 ini, PBB menetapkan Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia ke-52: “Perjalanan Menuju Masa Depan yang Lebih Ramah Lingkungan.” Pada tahun 2024 ini pula, Kerajaan Arab Saudi akan menjadi tuan rumah World Environment Day (WED). Tema dan fokus WED 2024 ini oleh Arab Saudi secara khusus ditekankan pada restorasi lahan atau desertifikasi, ketahanan terhadap kekeringan dan penggurunan. Tema dan fokus WED tersebut sejalan dengan peringatan 30 tahun UN Convention to Combat Desertification.

Pentingnya Hari Lingkungan Hidup Sedunia secara global pada tahun 2024 ini difokuskan pada meningkatkan kesadaran, mendorong partisipasi, mempromosikan kehidupan berkelanjutan, praktik ramah lingkungan, transportasi berkelanjutan, efisiensi energi, konservasi air, dan berkebun berkelanjutan. Oleh PBB beberapa masalah tersebut dipandang memainkan peran penting dan menentukan perjalanan menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan.

Hal ini didasarkan pada keprihatinan masayarakat global saat ini terkesan kuat lebih mementingkan kehidupan yang semakin menduniawi tanpa peduli akan ketersediaan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup yang semakin tergerus bagi generasi mendatang, yang kehidupannya juga tergantung pada jasa lingkungan yang sama yaitu di bumi yang sama. Hari Lingkungan Hidup Sedunia berperan penting dalam meningkatkan kesadaran tentang pentingnya lingkungan hidup yang kita hadapi, seperti perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Menyoroti isu-isu ini bertujuan untuk menginspirasi individu, komunitas, dan pemerintah serta swasta untuk mengambil tindakan dan mengadopsi praktik-praktik yang lebih berkelanjutan. Melalui Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, masyarakat dari semua lapisan didorong untuk berpartisipasi dalam upaya pelestarian lingkungan dengan berbagai cara seperti penanaman pohon, kampanye pembersihan, dan lokakarya pendidikan. Semua orang harus diberi kesempatan untuk berpartisipasi demi masa depan yang lebih hijau.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga menampilkan solusi inovatif dan praktik ramah lingkungan dengan mempromosikann kehidupan berkelanjutan dan mendorongn individu untuk membuat pilihan sadar yang berdampak positif terhadap lingkungan. Hal ini dapat dicapai melalui praktik ramah lingkungan dengan menerapkan minimal tiga R (kurangi, gunakan kembali, dan daur ulang).

Tiga R ini (Reduse, Reuse dan Recycle) merupakan landasan kehidupan berkelanjutan, antara lain dengan mengurangi konsumsi, menggunakan kembali barang-barang, dan mendaur ulang sampah. Melalui 3R ini kita dapat meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan melestarikan sumber daya yang berharga. Masyarakat saat ini dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya yang semakin meningkat memerlukan pergerakan yang cepat dan seringkali menggunakan transportasi pribadi untuk memudahkan usahanya, khususnya di perkotaan. Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dunia yang telah melebihi delapan miliar jiwa, akan diikuti oleh pertambahan jumlah kendaraan bermotor.

Hal ini dapat dipastikan akan berdampak pada kemacetan dan ketersediaan bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan. Pada masa depan, masyarakat perlu lebih diarahkan untuk menggunakan transportasi berkelanjutan yang ramah lingkungan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum yang saat ini semakin banyak menggunakan kendaraan listrik (energy vehicle) sehingga dapat mengurangi emisi karbon dan polusi udara secara signifikan karena tak menghasilkan gas buang.

Sejalan dengan upaya menurunkan dampak lingkungan, masyarakat juga disiapkan untuk meningkatkan efisiensi energi dalam memenuhi kehidupan rumah tangga sehari-hari untuk membantu jejak karbon dan dapat menghemat tagihan listrik. Hal ini juga dapat dilakukan pada perkantoran dengan tindakan sederhana seperti beralih ke lampu LED dan peralatan hemat energi, mematikan lampu dan peralatan yang tidak sedang digunakan. Saat ini, secara global penggunaan bahan bakar fosil (BBF) untuk memenuhi kebutuhan energi secara masif harus dibatasi.

Masyarakat dunia sedang dipacu menggunakan berbagai sumber energi non-BBF seperti tenaga uap panas (PLTU), tenaga air (PLTA, Mini hidro), angin (PLTB), cahaya matahari (solar system) dan lain-lain. PLTU ber BBF secara bertahap akan dipensiunkan guna memenuhi kesepakatan pada Perjanjian Paris 2015 dalam upaya menahan kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 1,50C.

Sebagaimana sudah diketahui semua orang, kehidupan hanya dapat berlangsung bila ketersedian air, baik kualitas maupun kuantitasnya memnuhi persyaratan dan mencukupi. Air tidak saja diperlukan untuk kebutuhan harian makhluk hidup, khususnya manusia, tetapi juga untuk pertanian, perkebunan, perikanan, industri, olah raga, dan lain-lain. Karenanya, air adalah sumber daya yang sangat berharga, untuk itu wajib dilestarikan ketersediannya guna menjamin kehidupan masa depan yang berkelanjutan.

Hal ini hanya dapat dicapai apabila sumber airnya terjaga dan terlindungi agar tetap berfungsi, penghematan dalam penggunaannya, kuantitas dan kualitasnya memenuhi persyaratan bagi kehidupan. Kita patut mencontoh upaya masyarakat Eropa dalam memperbaiki memburuknya kualitas air sungai Rhein akibat tercemar oleh limbah industri bertahun-tahun dapat diperbaiki kualitasnya sehingga ikan bisa hidup dan menjadi sumber air bersih bagi masyarakatnya.

Guna menjamin keberlangsungan kehidupan, masyarakat juga didorong untuk melakukan berkebun berkelanjutan. Berkebun berkelanjutan melibatkan penggunaan metode organik (hindari penggunaan metode kimiawi), menanam spesies asli dan bahan obat-obatan, dan menciptakan habitat bagi satwa liar. Berkebun berkelanjutan dapat dilakukan dalam skala kecil (rumah tangga), sedang maupun besar tergangtung pada kondisi lahan yang tersedia.

Praktik berkebun berkelanjutan dapat membantu meningkatkan kualitas udara dan tanah, memperbaiki iklim mikro, mendukung keanekaragaman hayati, dan mendorong ekosistem yang lebih sehat. Berkebun berkelanjutan skala rumah tangga/kecil, selain untuk memberikan manfaat ekonomi juga merupakan sarana bagi kesehatan, estetika dan bermanfaat bagi kenyamanan kehidupan berkelanjutan bagi pemilik dan masyarakat sekitarnya.

Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan kesempatan bagi kita untuk bersatu dan berupaya menuju masa depan yang lebih hijau. Melalui peningkatan kesadaran dan mendorong kehidupan berkelanjutan, bermakna kita telah ikut memberikan dampak yang berarti terhadap planet Bumi kita ini. Seyogianya kita sebagai manusia tidak termasuk dalam peringatan Allah SwT: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (S.Ar Rum, 30:41). Untuk itu, manusia harus berubah dalam menyikapi keperduliannya terhadap alam dan lingkungan.

Menarik untuk disimak pendapat Prof. Dr. Amin Abdullah, mantan Wakil Ketua PP Muhammadiyah dan Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam (Tempo, 21/4/2024) dalam memahami surat Surat Ar Rum tersebut. Terus terang, katanya, bahwa agama tak peduli pada lingkungan. Materi yang disampaikan da’i dan ulama cuma hubungan manusia dengan Tuhan serta sesama manusia. Hablum minallah dan hablum minannas. Mereka tak pernah menyentuh hablum minal alam, hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Pengajian-penyajian itu sama sekali tak menyentuh perkara sampah, air, dan lain-lain. Jika dalam otak kita cuma ada perspektif hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia, ya sulit. Revolusi ilmu pengetahuan Islam sudah memasukkan kajian hukum antara manusia dan lingkungan.

Pemuka agama harus mendengarkan para ilmuwan karena mereka tak bisa meneliti atau mengkaji masalah ekologis. Ilmuwan harus terbuka untuk mendengarkan dan memanfaatkan pengaruh ulama untuk guna membantu mengingatkan serta mendorong aksi nyata menyelamatkan lingkungan. Tak boleh ada tembok tebal antara ilmu pengetahuan dan agama. Untuk itu pula, bagi Amin, diperlukan pemahaman fikih lingkungan demi menyelamatkan alam. “Fikih lingkungan itu faith in action, iman dalam tindakan nyata,” katanya.

Untuk itu diperlukan tafsir baru terhadap Al-Qur’an untuk merespon kerusakan lingkungan karena tafsir merupakan karya manusia sehingga konteksnya selalu terkait dengan periode ketika tafsir itu ditulis. Ia perlu pembaharuan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan kondisi zaman, termasuk merespons kerusakan lingkungan.

Akhirnya, saat kita merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 ini, mari kita terapkan praktik ramah lingkungan, menerapkan gaya hidup berkelanjutan, dan bergabung sebagai relawan dalam gerakan lokal, nasional, dan global menuju masa depan yang lebih sehat, berkecukupan, dan berkelanjutan untuk semua. Gaya hidup berkelanjutan harus dimaknai sesuai kemajuan zaman dan peduli terhadap keberlanjutan jasa lingkungan seiring dengan kebutuhan manusia yang terus berubah dan beragam.***

Oleh: Adnan Kasry, Profesor dan Dosen Ilmu Lingkungan PPs Unri

Editor : RP Arif Oktafian
#opini #hari lingkungan hidup sedunia #gaya hidup berkelanjutan