RIAUPOS.CO - Beribadah itu tidak selalu dengan melakukan aktivitas atau amaliah keagamaan. Sangat banyak ibadah yang tidak nampak dalam bentuk aktivitas. Salah satunya beribadah via tafakkur. Kita mengetahui bahwa tafakkur merupakan proses sintesa ilmu yang meliputi dua tahapan. Tahapan pertama merupakan aplikasi akal muktasab yang aktifitasnya adalah proses-proses pembelajaran dalam sintesa ilmu-ilmu teoritis yang menitikberatkan kepada daya akal secara global dan tersusun dalam pola-pola tertentu.
Sementara tahapan kedua adalah merupakan aplikasi akal fitrah yang mempunyai akses ke hati (al-qalbu) yang menerima cahaya Ilahi dalam bentuk makrifat yang selanjutnya mendapat reinterpretasi oleh akal untuk disusun menjadi sebuah bentuk definitif. Berjalan dengan efektif jika komponen-komponennya telah tersucikan yang dicirikan dengan timbulnya kemampuan-kemampuan spiritual yang merupakan tolak ukur akhlakul karimah.
Tafakkur sejalan dengan maqamat-ahwal yang akan selalu mempengaruhi prosesnya dan akan selalu memberikan ciri representatif dalam penentuan kualitas dan kuantitas produk dari tafakkur. Diantaranya adalah laku-laku taat dan maksiat yang dominan dalam penentuan karakteristik sifat-sifat yang berpengaruh dalam penerimaan intensitas cahaya Ilahi.
Jika semua komponen telah berada di dalam posisi keseimbangan yang mana kaum sufi mengisyaratkannya dengan “jalan tengah” maka sebuah kemampuan suci akan diperoleh (ilmu Ladunni) yang merupakan puncak afiliasi tafakkur. Dalam prosesnya tafakkur mendapat impuls-impuls yang bersumber dari interaksi pasif dan aktif daya-daya luar seperti: daya-daya malaikat, setan, nafsu, emosi, amarah yang akan berpotensi memberikan penyimpangan dalam proses tafakkur.
Penyimpangan ini meliputi susunan formalitas struktural yang bisa bersifat positif dan negatif.Impuls-impuls ini terbagi dalam dua kategori. Kategori pertama adalah wujud pencitraan interaksi akal dengan daya-daya luar yang akan menafsirkan definisi-definisi secara simbolik dan cenderung pragmatis sesuai dengan kapasitas dan intensitas daya-daya luar yang mempengaruhinya.
Sedangkan kategori kedua adalah wujud pencitraan hati dengan daya-daya luar yang hanya menafsirkan definisi-definisi uluhiah yang cenderung dominan terhadap daya-daya luar. Imam Al-Ghazali menitikberatkan peran hati (al-qalbu) dalam proses tafakkur yang selanjutnya menghubungkannya dengan konsep-konsep penyucian hati. Pada tahap awal tafakkur adalah media dalam proses” tazkiyatun nafs” sebelum pada akhirnya menjadi interpretasi makrifat dalam mihrab kaum arifin.
Menurut beliau proses-proses tafakkur ideal adalah sebagai berikut: pertama, Tadzakkur yang merupakan upaya menghadirkan dua pengetahuan di dalam hati. Kedua, Tafakkur merupakan proses mencari pengetahuan baru dari proses tadzakkur. Ketiga, Hasilnya pengetahuan yang dicari dan bersinarnya hati dengannya.
Keempat, berubahnya keadaan hati dari apa yang telah ada disebabkan hasilnya cahaya makrifat. Kelima, pelayanan anggota-anggota badan bagi hati menurut keadaan yang baru baginya. Dalam sufisme, tafakkur adalah termasuk tingkatan spritual yang tinggi dan dilihat dari tujuannya sudah sewajarnya kita memupuk niat agar senantiasa bertafakkur dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita termasuk orang-orang yang bertafakkur.
Orientasi Tafakkur
Seseorang yang bertafakkur (merenung) tentang banyak hal yang bisa membuat kesadaran kita, keimanan kita dan semangat kita hadir kembali juga sebagaimana di ungkapkan dalam firman-Nya: “Maka Apakah mereka tidak mentadabburi (merenungi) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 4).
Prosesi dan hasil Tadabbur mampu menghanyutkan sang pentadabbur dan menerobos kerikil dan jurang hati yang telah berantakan dan ternoda oleh dosa menuju ke arah revolusi dan manajemen qalbu yang fitrah (suci). Ekses tadabbur mampu melahirkan singgasana kalbu kembali menjadi khusyu’, mutmainnah (tenang dan tentram).
Destinasi akhir dari tafakkur dan tadabbur ini bertujuan agar keimanan kita meningkat. Sedangkan objek tafakkur yang kedua adalah berupa alam atau ayat kauniyah. Terlebih kondisi sekarang dengan “demam” pilkada, sehingga sebagian saudara kita terbawa oleh hawa nafsu dan keegoisme sehingga menabrak dinding hukum Allah dan Rasul plus hukum ulil amri (pemerintah) sendiri yang telah dirancang secara khusus.
Berbagai fenomena dan sepak terjang kita juga menjadi sebuah renungan dengan mensikronisasi dengan ayat-ayat kauniah yang tidak tertulis. Dengan seringkali mengangkat fenomena ayat kauniyah, untuk membantu dan mendorong manusia agar bertafakkur dan merenung, muaranya sakan lahir rasa dan keyakinan tentang keagungan Allah Swt dalam dirinya. Dikala itu rasa itu telah terpatri dalam relung kalbu yang dalam, kita sandarkan dengan diri kita yang dilemuri dosa dan noda disertai untaian air mata penyesalan.
Air mata inilah sebagai penebus api neraka dan pada akhirnya lahir perasaan takut kepada-NYA. Akan lahir perasaan betapa lemahnya seorang manusia. Hal ini sebagaimana di gambarkan dalam surat Adz-Dzariyat, berbunyi: “Dan di muka bumi ada tanda-tanda (kekuasaan bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada diri kalian, apakah kalian tidak berfikir (merenungi).” (QS. Adz Dzariyat: 20-21).
Dalam ayat lain bahkan Allah juga menegur terhadap hamba-Nya yang tidak bertafakkur siapa yang tidak pernah berupaya untuk merenungi kekuasaan-Nya di alam semesta. Bunyi teguran tersebut yaitu: “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.” (Yusuf: 105).
Objektifitas tafakkur sebagaimana yang telah dijelaskan diatas adalah makhluk baik manusia dan alam sekitarnya. Pernyataan ini diperkuat dalam sebuah hadist disebutkan “ Berpikirlah kepada ciptaan Allah dan janganlah berpikir kepada zat Allah”. Tafakur (berpikir) menjadi kata kunci dalam hadist diatas. Bahkan disebutkan juga berpikir (tafakkur) itu lebih baik seperti sebuah hadis, “Bertafakur sesaat lebih baik daripada beribadah setahun.”***
Oleh: H Abdullah AR Kakankemenag Pidie dan Kandidat Doktor, UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Editor : RP Arif Oktafian