Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Jangan Lupakan Permainan Tradisional Anak

Redaksi • Senin, 29 Juli 2024 | 10:38 WIB
Dewi Ayu Larasati
Dewi Ayu Larasati

RIAUPOS.CO - Sejak digagas oleh Presiden Soeharto dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Presiden nomor 44 tahun 1984, tanggal 23 Juli resmi diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Walaupun kerap diperingati setiap tahun dengan tema yang berbeda-beda, namun pada intinya peringatan ini tak boleh sekadar seremonial belaka, karena kenyataannya pada saat ini anak masih banyak yang belum mendapatkan hak-haknya dengan baik. Seperti halnya hak bermain.

Kita ketahui, di era keberlimpahan informasi dan kecanggihan teknologi saat ini, kehidupan anak-anak justru tak seberuntung anak-anak yang hidup pada dekade sebelumnya. Anak zaman sekarang kurang memiliki waktu bermain efektif.

Desakan untuk berada di sekolah sepanjang hari dengan sistem full day school seperti yang dicanangkan pemerintah lewat peraturan Mendikbud No 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah, membuat anak-anak ‘tersandera’ dengan segala urusan akademis yang kerap menjadi tolak ukur keberhasilan dalam belajar.

Di samping itu, entah untuk menuruti ego, atau telah menjadi sebuah kebanggaan, banyak orang tua saat ini yang memutuskan untuk memasukkan anaknya ke sekolah saat usia anaknya masih sangat dini. Dengan jadwal belajar yang begitu padat di sekolah, serta adanya sikap orang tua yang terkesan terburu-buru untuk memasukkan anak ke sekolah di usia yang masih sangat muda tentunya berimbas pada perampasan hak anak untuk bermain. Mereka jadi kehilangan waktu untuk berinteraksi dan bermain di luar bersama teman-teman sebayanya.

Padahal sejatinya anak-anak harus memiliki waktu luang untuk bermain. Keceriaan dan bermain adalah ciri khas anak-anak di mana pun mereka berada. Sarah Ockwell Smith dalam bukunya Gentle Discipline (2019:20) berpendapat bahwa anak-anak, bahkan remaja, tidak seharusnya duduk diam dan berkonsentrasi selama berjam-jam sampai akhir. Mereka seharusnya bergerak dan menjelajah dunia di sekitar mereka. Bermain adalah hal penting. Anak-anak memahami dunia mereka melalui bermain.

Hak anak untuk bermain juga mendapat perhatian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam UN Convention on The Rights of the Child pasal 31 yang menyebutkan “That every child has the right to rest and leisure, to engage in play and recreational activities appropriate to the age of the child and to participate freely in cultural life and the arts” (Bahwa setiap anak mempunyai hak untuk beristirahat dan bersantai, untuk terlibat dalam permainan dan kegiatan rekreasi yang sesuai dengan usia anak tersebut dan untuk berpartisipasi secara bebas dalam kehidupan budaya dan seni).

Jika pun saat ini anak-anak memiliki kesempatan bermain, permainan yang sangat menarik perhatian mereka tentunya adalah permainan kekinian yang mengandalkan ponsel (telepon selular) atau gawai. Permainan yang dilakukan di luar rumah atau pun permainan tradisional yang dulunya sangat ngehits nyatanya sudah tidak diminati atau bahkan sudah dilupakan bersamaan dengan hadirnya game online (permainan daring) melalui gawai.

Lihat saja bagaimana Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 memaparkan data pengguna gawai di kalangan anak-anak. Sungguh luar biasa, seperti yang dikutip dari kemenkopmk.go.id (1/7/2024), BPS menemukan bahwa penggunaan gawai di kalangan anak usia dini di Indonesia telah mencapai 38,92 persen. Sementara anak usia dini yang bisa mengakses internet mencapai 32,17 persen. Ini artinya semakin banyak anak-anak Indonesia yang terintegrasi dengan internet serta menghabiskan lebih banyak waktu di dunia maya dibandingkan sebelumnya.

Bukan Hanya Masalah Inteligensi

Tidak ada yang salah sebenarnya bagi anak untuk beradaptasi dengan zaman. Saat ini anak-anak kita memang tengah hidup dalam gegap gempita teknologi terkini dan mereka pun dijuluki sebagai tech savvy (melek teknologi). Bahkan generasi yang paling akrab dengan teknologi digital ini diklaim sebagai generasi paling cerdas (Katoningsih, 2021: 177).

Jadi tidak heran jika saat ini setiap anak-anak sudah dibekali gawai oleh orang tuanya. Mereka pun merasa bangga jika anaknya mahir menggunakan gawai. Semakin high-tech, tentu terkesan semakin cerdas. Hal ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan mahasiswa psikologi Universitas Indonesia (dikutip dari kompas.com, 26/11/2016) bahwa preferensi orang tua memilih alat permainan, dalam hal ini memberikan gawai pada buah hatinya, didorong oleh keinginan supaya anak menjadi pintar.

Namun mengoptimalkan tumbuh kembang anak sebenarnya bukan hanya soal masalah kecerdasan inteligensi atau IQ. Kecerdasan emosional anak juga harus mendapat perhatian khusus, sebab kecerdasan emosional inilah yang membantu anak memiliki kontrol diri dan menjalani kehidupan sosial yang sehat. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Daniel Goleman dalam bukunya Working with Emotional Intelligence (2017:513-514) bahwa kecerdasan emosional meliputi kesadaran diri, kemampuan mengelola emosi dengan baik, kemampuan memotivasi diri untuk menuju sasaran hingga mampu bertahan menghadapi kegagalan dan frustrasi, kemampuan berempati, serta kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Game online yang banyak diminati anak sekarang, walaupun di satu sisi memiliki pengaruh positif pada perkembangan IQ anak, dilain hal kehadirannya juga cenderung meresahkan karena banyaknya konten-konten permainan yang mengandung unsur kekerasan yang intens, seperti perkelahian ataupun penggunaan senjata, yang tentunya akan berpengaruh buruk pada perilaku anak.

Terlebih game online sering membuat anak kecanduan sehingga akan sulit bagi anak untuk berhenti. Adiksi game online tersebut nyatanya merusak hubungan sosial mereka dengan orang sekitarnya. Anak menjadi sibuk dengan dunianya sendiri. Mereka pun semakin terisolasi dari lingkungan sosialnya dan menjadi pribadi yang individualis.

Hal inilah yang dikhawatirkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa dampak dari kecanduan game online akan menyebabkan anak menarik diri dari lingkungan, mudah kehilangan kendali, serta tak peduli dengan kegiatan lain di sekitarnya (dikutip dari sehatnegeriku.kemkes.go.id, 2/8/2018).

Keunggulan Permainan Tradisional

Zaman sejatinya boleh berubah. Namun permainan tradisional tidak semestinya disingkirkan dari kehidupan anak-anak. Banyak nilai-nilai positif yang bisa diambil dari permainan tradisional tersebut.

Jika pada masa dulu, di kala petang atau saat libur sekolah, anak-anak berkumpul bersama teman sebayanya untuk bermain gundu, petak umpet, lompat karet, congklak, engklek, atau layangan, tujuannya bukan serta merta hanya untuk berkompetisi menang atau kalah. Saat bermain yang dinanti-nanti oleh setiap anak tersebut merupakan cara mereka untuk mengembangkan keterampilan sosialnya. Dari sinilah mereka dapat membentuk karakter mereka, karena unsur kerjasama, sportivitas, saling menghargai, kegigihan serta kejujuran selalu diutamakan dalam permainan tradisional.

Di samping itu, aneka permainan tradisional yang banyak menguras tenaga tersebut tentunya juga dapat membantu meningkatkan kemampuan motorik anak. Gerakan berlari, melompat, melempar, menangkap, menggambar, menggoyangkan jempol dan aktivitas fisik lainnya dapat menstimulasi pertumbuhan anak jadi lebih maksimal.

Oleh karena itu, permainan tradisional ini sifatnya tidak hanya menghibur, tapi juga efektif merangsang pertumbuhan baik fisik maupun mental anak. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara dalam Harun dkk. (2020:118) bahwa permainan bagi anak, khususnya permainan tradisional, mempunyai dua manfaat, yaitu manfaat jasmani atau kesehatan anak dan manfaat rohani atau kesehatan mental anak.

Manfaat jasmani, permainan menjadikan tubuh atau badan anak menjadi sehat dan kuat serta membentuk kelenturan bagian-bagian tubuh, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya berjalan secara optimal. Manfaat rohani, bermain permainan tradisional melatih ketajaman pikiran, kehalusan rasa, serta kekuatan kemauan. Dengan kata lain, permainan dapat melatih anak-anak untuk memahami dirinya sendiri, memahami orang lain dan melakukan sikap yang bijak terhadap orang lain.

Seperti halnya engklek yang kerap menjadi permainan anak-anak tempo dulu, memiliki nilai filosofi yang tinggi. Permainan yang sangat khas Indonesia ini, yang dimainkan dengan cara menggambar sebuah pola di tanah, kemudian secara bergiliran tiap anak melempar dadu dan melompat di atas pola yang sudah digambar, memiliki filosofi yakni jika ingin mencapai kekuasaan atau cita-cita, maka kita harus berusaha dan gigih memperjuangkannya.

Dengan menghidupkan kembali permainan tradisional maka kita telah menyelamatkan nilai luhur budaya bangsa.***

Oleh: Dewi Ayu Larasati, Akademisi, Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya

Editor : RP Arif Oktafian
#permainan tradisional anak #opini #kecanggihan teknologi