Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Bulan Sya’ban dan Keutamaannya

Redaksi • Jumat, 10 Januari 2025 | 09:19 WIB
Dian Oka Putra
Dian Oka Putra

RIAUPOS.CO - Tidak terasa kita telah berada pada bulan Sya’ban, itu berarti Ramadan akan menghampiri tidak lama lagi. Sebelum Ramadan datang, bulan Sya’ban juga tidak boleh dilewatkan keutamaannya. Beberapa hadis juga menyebutkan akan keutaamaan bulan Sya’ban yang seharusnya tidak boleh kita lewatkan salah satunya hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Rah.A berkata:

Artinya: “Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.(HR.Bukhari-Muslim)

Hadis di atas menjelaskan tentang kemuliaan bulan Sya’ban sebagai salah satu bulan haram yang diprioritaskan untuk melaksanakan puasa sunnah. Maka bulan Sya’ban disebut juga sebagai bulan latihan karena setelah bulan Sya’ban kita akan memasuki bulan Ramadan di mana kita akan berpuasa 30 hari penuh selama Ramadan. Oleh sebab itu, di bulan Sya’ban kita mencoba latihan berpuasa sunnah agar ketika sesorang tidak terbiasa dalam berpuasa penuh dia bisa mencoba untuk latihan berpuasa sunnah di bulan Sya’ban.

Perbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, muraja’ah Al-Qur’an dan menguatkan hafalan Al-Qur’an merupakan sedikit dari latihan untuk mempersiapkan diri memasuki bulan Ramadan. Keistimewaan bulan Sya’ban adalah ketika kita bisa menjadikan Sya’ban sebagai bulan latihan yang bernilai pahala di sisi Allah SWT.

Adakah Ibadah pada Malam Nisfu Sya’ban?

Banyak kita temui berita-berita untuk melaksanakan ibadah khusus pada bulan Sya’ban terkhusus pada pertengahan bulan Sya’ban atau yang disebut dengan Nisfu Sya’ban. Dalil-dalil yang sandarkan tentang keutamaan beribadah pada nisfu Sya’ban juga sangat beragam, sehingga pada beberapa masjid dan kelompok jamaah tertentu melaksanakan ibadah pada nisfu Sya’ban.

Ibadah tersebut dikhususkan pada nisfu Sya’ban sebagai upaya dalam meraih pahala yang banyak dengan keutamaan beribadah pada nifu Sya’ban. Kegiatan tersebut dapat berupa tabligh akbar, pengajian yasin, undangan dari tokoh masyarakat tertentu, atau yang lebih khusus ada yang melaksanakan salat pada malam nisfu Sya’ban.

Pembahasan adanya ibadah khusus pada malam nisfu Sya’ban tidak ditemukan dalam buku Himpunan Putusan Tarjih (HPT) yang dikeluarkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Berarti warga persyarikatan Muhammadiyah tidak dianjurkan untuk melaksanakan ibadah khusus pada nisfu Sya’ban.

Adapun penjelasan hadis yang dikeluarkan dalam kitab Sunan Ibnu Majah No.1378 telah ditakhrij oleh muhaddis sebagai hadits maudhu’ atau hadits palsu, di mana dalam susunan isnadnya terdapat perawi yang dilemahkan keshahihannya yaitu Ibnu Abi Busroh atau nama lainnya adalah Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad Abu Busroh.

Jika ibadah khusus pada malam nisfu Sya’ban adalah ibadah yang bernilai pahala menurut hadis itu, maka terdapat pertentangan dengan hadis-hadis sahih lainnya. Salah satunya hadits Riwayat Bukhari-Muslim yang menjelaskan ibadah yang paling baik dikerjakan adalah pada sepertiga malam.

Kesimpulannya adalah tidak adanya ibadah khusus yang dilakukan pada malam nisfu Sya’ban yang sering terjadi pada beberapa kelompok masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia. Untuk warga Muhammadiyah kekhususan ibadah pada malam nisfu Sya’ban tidak ditemukan dalam fatwa-fatwa tarjih. Dan hal ini bisa dihukumi sebagai ibadah bid’ah dalam ibadah. Kita diminta untuk melaksanakan puasa sunnah, tahsin al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya sesuai kemampuan kita tanpa mengkhususkan salah satu malam pada bulan Sya’ban.

Jika malam nisfu Sya’ban menjadi pengkhususan dalam melaksanakan ibadah atau acara tertentu saja maka tentu saja kita pasti akan mengerjakannya juga sesuai tuntunan dalil yang syar’i, namun sayangnya tidak kita temukan dalil yang sahih dalam pengkhususan ibadah pada malam nisfu Sya’ban dan tidak terdapat petunjuk dalam pelaksanan ibadah pada malam nisfu Sya’ban sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW. Kemudian ibadah tersebut akan ditiru oleh para sahabat Rasulullah SAW.

Maka menjadi jelas bahwa memperingati malam nisfu Sya’ban adalah sesuatu yang bid’ah. Kita sebagai warga persyarikatan dituntut untuk menghindari perilaku-perilaku takhayul, bid’ah dan churafat (TBC) yang gigih kita gaungkan sebagai upaya pemurnian ajaran agama Islam sebagai gerakan tajdid.

Amalan-Amalan Sunnah pada Bulan Sya’ban

Jangan hanya terfokus pada amalan-amalan khusus pada nisfu Sya’ban saja, ternyata banyak amalan-amalan yang bisa kita kerjakan sebagai upaya memperbanyak ibadah pada bulan Sya’ban. Upaya memuliakan bulan Sya’ban sebagai salah satu bulan haram adalah ibadah. Maka banyak amalan-amalan yang bisa kita kerjakan dari masuknya bulan Sya’ban. Di antaranya adalah, pertama, bersungguh-sungguh mempersiapkan kedatangan bulan Sya’ban.

Sebagaimana yang kita pahami bahwa bulan Sya’ban adalah salah satu bulan haram, maka sudah selayaknya kesungguhan kita untuk menyambutnya dengan suka cita sebagai upaya kita untuk memulai ibadah dengan khusyu’ dan istiqomah. Setiap kita harus benar-benar mengatur waktu untuk memulai ibadah pada bulan Sya’ban dengan berpuasa, menjadwalkan membaca Al-Qur’an dengan komitmen, salat malam, dan bersilaturrahmi dengan saudara. Jika aktivitas kita di luar bulan haram banyak dihabiskan dengan mengejar dunia, alangkah baiknya kita sudah mulai mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Sya’ban dengan ibadah yang konsisten.

Kedua, berdoa menyambut bulan baru. Berdoa dalam menyambut datangnya bulan baru merupakan amalan yang harus kita kerjakan, Rasululllah Saw ketika menyambut bulan baru itu ditandai dengan terbitnya hilal beliau selalu berdoa kepada Allah SWT.

Sebagai catatan bahwasanya doa ini bukanlah doa khusus untuk bulan haram saja, akan tetapi doa ini adalah doa yang dipanjatkan pada setiap masuknya bulan baru dalam kalender hijriyah dengan ditandainya masuknya hilal.

Ketiga, mengganti puasa Ramadan tahun lalu. Memperbanyak ibadah puasa sunnah pada bulan Sya’ban sangat dianjurkan namun yang lebih utama adalah mengganti puasa Ramadan di tahun lalu yang batal karena udzur syar’i dan tidak menutup kemungkinan jika ada puasa nazar, atau puasa kaffarat yang belum terpenuhi maka boleh untuk mengerjakannya di bulan Sya’ban. Ummul mukminin Aisyah Rah.A sering mengganti puasa Ramadan yang tertinggal dan mengerjakannya pada bulan Sya’ban.

Keempat, memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Dalam Shahih Bukhori dijelaskan bahwa Rasulullah melaksanakan puasa sunah lebih banyak dari bulan-bulan selain bulan Ramadan ketika pada bulan Sya’ban.***

Oleh: Dian Oka Putra, (Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Pekanbaru)

Editor : Rindra Yasin
#bulan syaban #opini #keutamaan bulan syaban #bulan haram dalam Islam