PIALA Dunia adalah event olahraga terbesar di dunia, diikuti oleh miliaran penonton dari berbagai belahan dunia. Namun, ada satu tantangan besar yang dihadapi FIFA dalam gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Utara: zona waktu. Dengan perbedaan waktu yang cukup jauh dari pasar utama sepakbola di Eropa, ada kekhawatiran bahwa jumlah penonton akan menurun, yang berarti pendapatan dari hak siar dan sponsor juga bisa terpengaruh.
Di sinilah muncul dugaan bahwa FIFA memiliki strategi terselubung untuk memastikan Piala Dunia tetap semarak dan menguntungkan: dengan “mengatur” agar Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026. Mengapa Indonesia? Karena negara ini memiliki fanatisme sepakbola yang luar biasa dan pasar yang sangat menggiurkan bagi sponsor global.
Piala Dunia 2026 akan diselenggarakan di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ini berarti sebagian besar pertandingan akan dimainkan dalam rentang waktu GMT-8 hingga GMT-5. Hal ini berdampak bagi penonton global. Eropa sebagai pasar tradisional FIFA dan penyumbang terbesar dalam hal hak siar dan sponsorship akan terdampak paling signifikan. Dengan pertandingan yang kemungkinan besar dimainkan malam hari waktu setempat, penonton di Eropa harus bangun pada pukul 2 hingga 5 pagi untuk menyaksikan pertandingan secara langsung. Ini tentu menurunkan animo penonton.
Asia, terutama Asia Tenggara dengan perbedaan waktu sekitar 12-15 jam dari Amerika Utara, pertandingan akan disiarkan pada pagi hingga siang hari di Asia. Ini adalah waktu yang jauh lebih ideal bagi penonton di kawasan ini, terutama bagi negara-negara dengan basis penggemar besar seperti Indonesia. Belum lagi solidaritas negara tetangga Indonesia di rantau Asia Tenggara. Karena faktor ini, FIFA perlu memastikan bahwa Piala Dunia 2026 tetap menarik bagi penonton di Asia, agar jumlah pemirsa global tidak turun drastis akibat berkurangnya penonton dari Eropa.
Mengapa Indonesia?
Indonesia bukan hanya sekadar negara dengan populasi besar, tetapi juga memiliki fanatisme sepakbola yang luar biasa. Sepakbola adalah olahraga nomor satu di Indonesia, dan setiap pertandingan Timnas selalu disaksikan oleh jutaan penggemar, baik di stadion maupun di layar kaca.
Jika Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia, FIFA bisa mendapatkan beberapa keuntungan strategis. Pertama, menyelamatkan rating Piala Dunia. Dengan potensi berkurangnya jumlah penonton dari Eropa, FIFA perlu mencari alternatif. Indonesia bisa menjadi solusi ideal. Dengan lebih dari 270 juta penduduk, Indonesia memiliki salah satu basis penggemar sepak bola terbesar di dunia. Setiap pertandingan Timnas selalu menjadi trending topic di media sosial, menandakan besarnya antusiasme rakyat Indonesia.
Jika Indonesia tampil di Piala Dunia, bisa dipastikan bahwa jutaan rakyatnya akan menonton, baik melalui televisi maupun platform digital.
Kedua, hak siar dan sponsor yang mengalir deras. Indonesia adalah pasar media yang sangat besar. Jika Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia, stasiun televisi di Indonesia akan berebut mendapatkan hak siar, yang berarti nilai komersial turnamen ini akan semakin meningkat. Tak hanya itu, sponsor-sponsor besar seperti Adidas, Nike, dan perusahaan global lainnya akan semakin agresif masuk ke pasar Indonesia, karena mereka tahu bahwa euforia sepak bola di sini sangat besar.
Ketiga, penjualan merchandise dan tiket. Bayangkan jika Timnas Indonesia benar-benar lolos ke Piala Dunia. Berapa banyak jersey resmi Timnas yang akan terjual? Berapa banyak penggemar yang akan rela terbang ke Amerika Utara hanya untuk menyaksikan pertandingan langsung di stadion?
Indonesia memiliki diaspora yang cukup besar di Amerika Serikat, yang bisa menambah jumlah penonton di stadion. Selain itu, dengan meningkatnya kelas menengah di Indonesia, banyak orang kini mampu membeli tiket pesawat dan hotel untuk menonton langsung di venue pertandingan.
Kebetulan atau Grand Design FIFA?
Jika melihat perjalanan Indonesia dalam kualifikasi Piala Dunia 2026, ada beberapa hal yang bisa menimbulkan kecurigaan. Pertama, penambahan kuota untuk Asia. Dibandingkan edisi sebelumnya, Piala Dunia 2026 akan menampung 48 tim, dengan jumlah peserta dari Asia bertambah dari 4,5 menjadi 8,5 tim. Ini jelas memberi peluang lebih besar bagi Indonesia untuk lolos. Apakah ini hanya bagian dari rencana FIFA untuk memperluas pasar sepakbola, atau ada kepentingan khusus agar negara seperti Indonesia bisa masuk?
Kedua, keputusan wasit yang menguntungkan. Sepanjang sejarah sepak bola, wasit sering dianggap sebagai alat “tak kasat mata” FIFA dalam mengatur jalannya turnamen. Apakah kita akan melihat beberapa keputusan kontroversial yang menguntungkan Indonesia dalam kualifikasi? Jika ya, maka dugaan bahwa FIFA ingin Indonesia lolos bisa semakin kuat.
Ketiga, momentum popularitas sepakbola Asia. FIFA paham bahwa masa depan sepakbola ada di Asia. Jepang dan Korea Selatan sudah menjadi langganan Piala Dunia, tetapi FIFA perku negara lain dengan fanbase besar yang bisa membawa dampak ekonomi lebih luas. Cina dan negara-negara Teluk, yang sebelumnya diharapkan menjadi kekuatan baru sepakbola Asia, masih gagal menunjukkan performa yang konsisten. Thailand dan Vietnam juga belum cukup kuat. Indonesia, dengan pertumbuhan pesat sepakbola domestiknya, bisa menjadi “next big thing” yang diinginkan FIFA.
Tentu saja, semua ini masih sebatas spekulasi. Bisa jadi Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia karena kerja keras, peningkatan kualitas pemain, dan kebijakan sepakbola yang lebih baik. Namun, di dunia sepakbola, uang dan politik selalu berjalan beriringan. Jika kita melihat pola yang ada, FIFA memiliki banyak alasan untuk mendukung lolosnya Indonesia ke Piala Dunia.
Pertama, menyelamatkan rating siaran global dengan menarik penonton dari Asia. Kedua, menjaga keuntungan dari hak siar dan sponsor. Ketiga, meningkatkan penjualan merchandise dan daya tarik komersial turnamen.
Apakah semua ini hanya kebetulan, atau memang bagian dari grand design FIFA? Anda yang menentukan!***
Oleh: Nazaruddin, Pemerhati Sepakbola