Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

In Memoriam: T Azmun Jaafar dalam Kenangan

Redaksi • Senin, 26 Mei 2025 | 10:37 WIB
Fakhrunnas MA Jabbar, Budayawan dan wartawan, tinggal di Pekanbaru
Fakhrunnas MA Jabbar, Budayawan dan wartawan, tinggal di Pekanbaru

WAFATNYA H Tengku Azmun Jaafar pada Jumat, 9 Mei 2025, menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Riau, khususnya Pelalawan. Namun lebih dari itu, kepergiannya menjadi momentum refleksi atas nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskannya.

Tengku Azmun bukan hanya dikenal sebagai Bupati Pelalawan pertama, tetapi juga sebagai salah satu tokoh yang ikut dalam perjuangan pembentukan Kabupaten Pelalawan bersama tokoh-tokoh lain, seperti budayawan H Tenas Effendy, Tengku Lukman Jaafar, Tengku Dahril, ulama Buya Abdul Karim, dan masih banyak lagi. Mereka menyuarakan aspirasi masyarakat untuk membangun daerahnya sendiri, tidak sekadar dalam kerangka politik, melainkan demi pemerataan pembangunan dan penguatan identitas lokal.

Era Reformasi yang meletup pada akhir 1998 memicu semangat masyarakat Pelalawan untuk memisahkan diri dan menjadi kabupaten otonom. Aspirasi itu tumbuh kuat, seiring kesadaran masyarakat akan pentingnya kemandirian dalam membangun daerahnya sendiri. Pemekaran wilayah Pelalawan dari Kabupaten Kampar pada 1999 merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah otonomi daerah di Riau.

Pada masa itu, Tengku Azmun menjadi pilihan yang tepat untuk memimpin daerah baru ini. Ia bukan hanya birokrat, melainkan juga figur visioner yang mampu menerjemahkan semangat otonomi menjadi agenda pembangunan konkret. Ia menyadari bahwa sebuah kabupaten yang baru lahir membutuhkan lebih dari sekadar perangkat administratif; dibutuhkan arah, struktur, dan identitas yang jelas.

Visi Pembangunan dan Diplomasi Daerah

Salah satu bukti dari kepemimpinan visioner tersebut adalah gagasan pembangunan kawasan perkantoran Bhakti Praja, simbol dari pemerintahan yang terstruktur dan terintegrasi. Gagasan ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek untuk kebutuhan ruang kerja pemerintahan, tetapi juga menunjukkan keberanian berpikir jauh ke depan. Dalam sebuah canda khasnya kepada saya, Azmun berkata, “Praja itu bisa juga berarti Putra Jaafar.”

Azmun juga menggagas pembangunan simbol-simbol visual seperti gerbang kota bertuliskan “Sayangilah Pelalawan,” yang mencerminkan upaya membangun kesadaran kolektif dan kebanggaan terhadap daerah sendiri—sebuah pendekatan psikologis dalam pembangunan yang masih jarang ditemukan dalam kepemimpinan lokal saat itu.

Di masa kepemimpinannya, infrastruktur dasar Pelalawan mulai dibentuk. Jalan utama yang menghubungkan wilayah ini dengan daerah lain ditingkatkan kapasitasnya, antara lain melalui dukungan dari PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Ini menunjukkan kemampuan diplomasi seorang kepala daerah dalam menjalin hubungan simbiosis mutualisme dengan sektor swasta demi kepentingan publik. Selain itu, fasilitas dasar seperti listrik, air bersih, pendidikan, dan tempat ibadah mulai dibangun secara bertahap, membentuk wajah awal Pelalawan sebagai kabupaten yang mandiri dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

Kepemimpinan Tengku Azmun selama dua periode (2001–2011) telah mengukuhkan Pelalawan sebagai daerah dengan pertumbuhan signifikan. Sektor-sektor strategis seperti kehutanan, perkebunan, dan pemanfaatan sumber daya alam dikelola secara optimal, didukung oleh birokrasi yang mulai tertata. Ia bukan hanya pemimpin yang responsif terhadap tuntutan lokal, tetapi juga inisiator kebijakan yang berpijak pada prinsip keberlanjutan dan tata kelola yang baik.

Pembangunan Manusia dan Karakter Kepemimpinan

Satu aspek penting dalam kepemimpinan Tengku Azmun adalah upaya menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Pembangunan fisik tidak akan bertahan lama jika tidak didukung oleh pembangunan sumber daya manusia. Akses pendidikan diperluas, ruang-ruang diskusi dibuka, dan organisasi sosial-keagamaan dibina.

Tengku Azmun telah memberikan contoh bahwa dengan tekad, visi, dan komunikasi yang baik, daerah baru bisa bangkit, bahkan unggul. Aspek lain yang tak boleh dilupakan dari figur Tengku Azmun adalah kemampuannya merajut koneksi secara vertikal dan horizontal dengan berbagai pemangku kepentingan. Hal ini menunjukkan kapasitas manajerialnya yang matang. Ia mampu mengayomi, menampung aspirasi, dan menyatukan semangat kolektif menjadi kekuatan pembangunan yang nyata.

Lebih dari sekadar prestasi pembangunan fisik, jejak Tengku Azmun menunjukkan pentingnya nilai-nilai luhur dalam kepemimpinan daerah: integritas, kerja keras, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya. Kepemimpinannya yang penuh komitmen menjadi oasis di tengah tantangan kepemimpinan lokal.

Pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat sipil harus menjadikan kepemimpinan Tengku Azmun sebagai inspirasi dalam menyusun arah kebijakan. Bukan untuk mengkultuskan figur, tetapi untuk mengambil pelajaran dari praktik kepemimpinan yang telah terbukti memberikan hasil nyata. Buku-buku, seminar, dan riset seharusnya mulai mendokumentasikan perjalanan Pelalawan dari masa ke masa, agar jejak perjuangan dan nilai-nilai luhur dari para pendirinya tidak hilang ditelan zaman.

Lebih jauh lagi, pemerintah provinsi dan pusat perlu menjadikan kisah sukses ini sebagai contoh dalam merancang kebijakan pemekaran wilayah lainnya. Bahwa pemekaran bukan sekadar pembentukan struktur baru, tetapi juga pembangunan jiwa dan karakter daerah. Dan untuk itu, dibutuhkan figur pemimpin seperti Tengku Azmun Jaafar: berani bermimpi, mampu merealisasikan, dan rela berkorban demi masyarakatnya.

Kenangan Pribadi dan Warisan Abadi

Kedekatan saya dengan Tengku Azmun, yang akrab dipanggil Bang Azmun, bermula ketika saya bertugas di sebuah perusahaan di Pangkalan Kerinci, Pelalawan. Saat itu, wilayah ini masih menjadi bagian dari Kabupaten Kampar, dengan seorang Pembantu Bupati yang ditempatkan di sana, yakni Azwar AS.

Ada satu peristiwa yang tak pernah terlupakan. Suatu hari, owner PT RAPP, Pak Sukanto Tanoto, membawa sejumlah investor asal Singapura naik bus untuk meninjau kawasan pabrik dan kota Pangkalan Kerinci. Saya ikut dalam rombongan bus bersama Bupati Azmun dan sejumlah kepala dinas serta para tamu lain. Di tengah obrolan yang hangat dan akrab, Azmun tiba-tiba berkata, “Pak Sukanto, seandainya dibolehkan, Fakhrunnas ini saya mau ajak masuk pemerintahan saya. Saya mau jadikan dia Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.” Semua tertawa, termasuk Pak Sukanto.

Di balik gurauan itu, betapa Azmun piawai menjaga suasana tetap cair, sekaligus memberikan dukungan moral yang tidak biasa. Bagi saya, begitulah Bang Azmun menaikkan pamor saya di mata pemimpin tertinggi perusahaan.

Tengku Azmun telah membawa nilai-nilai etika dalam setiap langkahnya. Ia menjembatani sejarah dan masa depan, adat dan modernitas, elite dan rakyat. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Pelalawan hari ini berdiri tegak karena tangan dingin dan visi besar pemimpinnya di masa awal.

Ketika nama Tengku Azmun Jaafar disebut, masyarakat Pelalawan tidak hanya mengingat seorang mantan bupati, tetapi juga tokoh pembangunan, pendidik, dan pelayan masyarakat. Inilah definisi sejati dari seorang pemimpin daerah: bukan sekadar penguasa, tetapi pengabdi pada rakyat.

Saatnya masyarakat Pelalawan dan Riau secara umum memberi penghormatan yang layak atas jasa-jasanya. Tidak hanya dengan tugu atau nama jalan, tetapi dengan melanjutkan semangat dan prinsip-prinsip kepemimpinannya dalam kehidupan sehari-hari dan roda pemerintahan. Pelalawan yang maju, inklusif, dan berkarakter adalah mimpi yang telah ia titipkan kepada generasi kini.

Warisan sejati dari seorang pemimpin tidak diukur dari jumlah proyek yang ditinggalkan, melainkan dari nilai dan semangat yang tetap hidup setelah ia tiada. Dalam hal ini, Tengku Azmun Jaafar telah memenuhi takdir sejarahnya sebagai arsitek Pelalawan yang meletakkan batu pertama bagi peradaban daerah yang kini terus tumbuh dan berkembang.

Kini, sepeninggalnya, warisan itu harus dijaga dan dilanjutkan. Generasi pemimpin daerah berikutnya tidak boleh melupakan fondasi yang telah dibangun. Pelalawan tidak bisa tumbuh dari ruang hampa; ia lahir dari perjuangan dan semangat kebersamaan, dua hal yang seharusnya terus ditanamkan dalam setiap kebijakan dan program pembangunan ke depan.***

Oleh: Fakhrunnas MA Jabbar, Budayawan dan wartawan, tinggal di Pekanbaru

Editor : Rindra Yasin
#In Memoriam #H Tengku Azmun Jaafar #opini