Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Fondasi Filosofis Merawat Tuah Menjaga Marwah dalam Semangat 80 Tahun Kemerdekaan

Redaksi • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 11:03 WIB

Leny Nofianti, Rektor UIN Suska Riau
Leny Nofianti, Rektor UIN Suska Riau


Abstrak
Peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 2025 menjadi momentum krusial untuk merefleksikan kembali fondasi nilai yang menopang perjalanan bangsa. Tulisan ini mengusulkan kearifan lokal Melayu, khususnya dari ranah Melayu Riau, yaitu “Merawat Tuah Menjaga Marwah”, sebagai kerangka filosofis yang relevan.

“Merawat Tuah” dimaknai sebagai upaya aktif untuk memelihara dan mengembangkan potensi, anugerah, serta warisan kebaikan yang dimiliki. Dalam konteks kebangsaan, kemerdekaan itu sendiri adalah tuah terbesar yang harus dirawat.

Sementara itu, “Menjaga Marwah” adalah komitmen untuk memelihara kehormatan, harga diri, dan integritas, baik secara individu maupun kolektif. Tulisan ini akan membahas makna filosofis kedua konsep tersebut, kemudian mengaitkannya dengan warisan 80 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia dalam konteks pelayanan publik dan bagaimana nilai-nilai ini teraktualisasi dalam core values Aparatur Sipil Negara (ASN) BerAKHLAK.

Hasilnya adalah sebuah sintesis yang menunjukkan bahwa kearifan lokal Melayu memiliki relevansi kuat untuk memperkokoh integritas dan kualitas pelayanan publik demi mewujudkan Indonesia yang lebih bermartabat, adil dan sejahtera.

Pendahuluan
Pada tanggal 17 Agustus 2025, bangsa Indonesia akan menapaki usia 80 tahun kemerdekaannya. Delapan dekade bukanlah waktu yang singkat; ini adalah sebuah bentangan sejarah yang penuh dengan perjuangan, pembangunan, tantangan, dan pencapaian.

Peringatan ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah panggilan untuk melakukan kontemplasi mendalam: Sudah sejauh mana kita merawat anugerah kemerdekaan ini? Dan sudah sekuat apa kita menjaga kehormatan kita sebagai sebuah bangsa?

Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, seringkali kita mencari rujukan nilai dari luar. Padahal, Nusantara kaya akan kearifan lokal yang dapat dijadikan kompas moral. Salah satu filosofi yang sangat relevan digali dari khazanah budaya Melayu Riau adalah “Merawat Tuah, Menjaga Marwah”. Ungkapan ini bukan sekadar pepatah, melainkan sebuah pandangan hidup yang utuh, yang menekankan pentingnya memelihara potensi anugerah (tuah) sambil secara bersamaan mempertahankan harga diri dan kehormatan (marwah).

Tulisan ini mengelaborasi fondasi filosofis tersebut dalam konteks semangat 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Pembahasan akan difokuskan pada empat pilar utama:

Makna filosofis “Merawat Tuah” dalam konteks Melayu Riau.

Pemaknaan warisan 80 tahun kemerdekaan sebagai “Tuah Bangsa” dalam pelayanan publik.

Konsep “Menjaga Marwah” dalam tradisi Melayu Riau.

Integrasi nilai-nilai ini dengan core values ASN BerAKHLAK sebagai wujud nyata dalam tata kelola pemerintahan.

Melalui pembahasan ini, diharapkan kita dapat menemukan kembali relevansi kearifan lokal sebagai landasan etis dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih baik, khususnya dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang merupakan wajah negara di hadapan rakyatnya.

Pembahasan
1. Makna Filosofis “Merawat Tuah” dalam Konteks Melayu Riau
Dalam leksikon Melayu, kata “tuah” seringkali disederhanakan artinya menjadi keberuntungan atau nasib baik. Namun, dalam pandangan dunia Melayu Riau, maknanya jauh lebih dalam dan kompleks. Tuah bukanlah sekadar keberuntungan pasif yang datang tiba-tiba, melainkan sebuah potensi, anugerah, karisma, atau energi positif yang melekat pada seseorang, suatu tempat, atau bahkan sebuah institusi.

Tuah sebagai Anugerah dan Potensi: Tuah dipandang sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Seorang pemimpin yang bijaksana dikatakan memiliki “tuah kepemimpinan.” Sebuah negeri yang subur dan makmur disebut memiliki “tuah bumi.” Tuah ini adalah modal dasar, sebuah potensi luhur yang jika tidak dijaga dan dikembangkan akan pudar atau bahkan hilang.

“Merawat” sebagai Tindakan Aktif: Kata kunci di sini adalah “merawat.” Ini mengindikasikan adanya upaya sadar, berkelanjutan, dan penuh perhatian. Merawat tuah berarti:

Mengenali: Menyadari dan mengidentifikasi potensi serta anugerah yang dimiliki.
Mensyukuri: Menunjukkan rasa terima kasih atas anugerah tersebut melalui sikap dan perbuatan.
Mengembangkan: Berusaha secara aktif untuk meningkatkan dan mengoptimalkan potensi tersebut agar memberi manfaat yang lebih besar.
Memanfaatkan dengan Benar: Menggunakan tuah tersebut di jalan kebaikan, untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk kesombongan atau kerusakan.

Secara filosofis, “Merawat Tuah” dalam konteks Melayu Riau adalah sebuah etos kerja dan etika sosial yang mengajarkan bahwa setiap anugerah, sekecil apapun, adalah amanah yang harus dipelihara dan dikembangkan. Ia adalah antitesis dari sikap abai, sombong, dan eksploitatif. Ini adalah panggilan untuk menjadi “tuan” yang baik atas segala potensi yang dipercayakan.

2. Warisan 80 Tahun Kemerdekaan sebagai “Tuah Bangsa” dalam Pelayanan Publik
Jika kita meminjam kacamata filosofis “Merawat Tuah,” maka kemerdekaan itu sendiri adalah Tuah Agung Bangsa Indonesia. Proklamasi 17 Agustus 1945 bukanlah akhir, melainkan awal dari terbukanya potensi luar biasa sebagai bangsa yang berdaulat. Selama 80 tahun, tuah ini telah menghasilkan berbagai warisan yang kini menjadi modal kita bersama:

Kedaulatan Politik: Kemampuan untuk menentukan nasib sendiri tanpa intervensi asing.
Wilayah NKRI: Kekayaan alam dan geografis dari Sabang sampai Merauke.
Sumber Daya Manusia: Generasi-generasi terdidik yang lahir dari rahim kemerdekaan.
Infrastruktur dan Pembangunan: Hasil kerja kolektif selama delapan dekade.
Demokrasi dan Institusi Negara: Sistem yang memungkinkan partisipasi warga dan tata kelola pemerintahan.

Dalam konteks pelayanan publik, “Merawat Tuah Bangsa” berarti mentransformasikan seluruh warisan kemerdekaan ini menjadi kesejahteraan nyata bagi rakyat. Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai garda terdepan negara memiliki tugas utama untuk “merawat” tuah ini dengan cara:

Tuah Bumi; Mengelola Sumber Daya Alam secara adil dan berkelanjutan untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk segelintir kelompok.
Tuah Insani; Memberikan layanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas untuk mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia.
Tuah tatakelola; Menciptakan birokrasi yang efisien dan melayani, sehingga potensi ekonomi dan sosial warga dapat berkembang optimal.
Tuah Pembangunan; Menjaga dan memanfaatkan infrastruktur agar berfungsi maksimal untuk konektivitas dan pemerataan.

Penerapan nilai-nilai kearifan lokal dalam pelayanan Publik dapat dilakukan, misalnya dengan mengunakan bahasa daerah, sehingga informasi yang disampaikan lebih cepat dipahami, mengurangi kesalahpahaman dan mem percepat proses pelayanan; melibatkan tokoh adat dalam sosialisasi program, pendekatan kekeluargaan; pemanfaatan media lokal; Gotong royong dalam pelayanan; Penghargaan terhadap nilai-nilai local, melestarikan nilai-nilai budaya, memperkuat identitas lokal dan meningkatkan rasa cinta masyarakat terhadap budaya sendiri.

Pelayanan publik yang buruk, korup, dan lamban adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah “Merawat Tuah Bangsa”. Ia secara perlahan menggerus dan memudarkan anugerah kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata.

3. Konsep “Menjaga Marwah” dalam Tradisi Melayu Riau
Jika “tuah” adalah potensi ke dalam, maka “marwah” adalah manifestasi kehormatan ke luar. Marwah adalah konsep sentral dalam tatanan sosial Melayu, yang berarti harga diri, kehormatan, martabat, reputasi, dan nama baik. Marwah bukan hanya milik individu, tetapi juga milik keluarga, komunal, dan negeri.

Marwah sebagai Cerminan Diri dan Kolektif: Tindakan seseorang akan selalu berdampak pada marwah kolektifnya. Aib seorang anggota keluarga adalah aib seluruh keluarga. Demikian pula, perilaku seorang pejabat akan mencerminkan marwah institusi dan negaranya.

“Menjaga” sebagai Benteng Pertahanan: “Menjaga Marwah” adalah sebuah imperatif moral untuk berperilaku luhur. Ini adalah upaya aktif untuk:

Berpegang pada Adab dan Etika: Bertutur kata dan bertindak sesuai dengan norma kesopanan dan kepatutan.
Menepati Janji dan Amanah: Integritas adalah inti dari marwah. Seseorang yang dapat dipercaya perkataannya memiliki marwah yang tinggi.
Menghindari Perbuatan Tercela: Menjauhi segala hal yang dapat mendatangkan aib dan malu, seperti korupsi, kebohongan, dan ketidakadilan.
Dalam tradisi Melayu Riau, kehilangan marwah (“jatuh marwah” atau “tercalar marwah”) adalah bencana sosial yang lebih berat daripada kehilangan harta. Oleh karena itu, menjaga marwah adalah perjuangan seumur hidup untuk mempertahankan kehormatan melalui integritas dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

4. Integritas BerAKHLAK dalam Bingkai “Merawat Tuah Menjaga Marwah”
Pada tahun 2021, Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) menetapkan core values ASN “BerAKHLAK” (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif). Nilai-nilai modern ini ternyata memiliki persambungan yang sangat erat dengan filosofi “Merawat Tuah Menjaga Marwah”.

Berikut adalah pemetaannya:
Merawat Tuah (Mengembangkan Potensi Bangsa):
Berorientasi Pelayanan: Wujud nyata merawat tuah kemerdekaan dengan menyalurkan manfaatnya langsung kepada rakyat.
Kompeten: Cara merawat tuah dengan terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri agar dapat memberikan hasil terbaik bagi bangsa.
Adaptif & Kolaboratif: Merawat tuah di era modern menuntut kemampuan berinovasi, menyesuaikan diri dengan perubahan, dan bekerja sama untuk mengoptimalkan seluruh potensi yang ada.

Menjaga Marwah (Memelihara Kehormatan Negara):
Akuntabel: Inilah inti dari menjaga marwah dalam konteks pemerintahan. Setiap tindakan dan keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik, menjaga reputasi dan kepercayaan terhadap negara.
Loyal: Menjaga marwah bangsa dengan menunjukkan kesetiaan kepada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan pemerintahan yang sah. Ini adalah benteng pertahanan kehormatan negara.
Harmonis: Menjaga marwah sosial dengan saling peduli dan menghargai perbedaan, menciptakan lingkungan kerja dan masyarakat yang kondusif dan bermartabat.

Dengan demikian, core values BerAKHLAK bukanlah sekadar akronim teknokratis. Ia adalah upaya modern untuk mengoperasionalkan sebuah kearifan luhur. ASN yang BerAKHLAK adalah ASN yang secara sadar tengah Merawat Tuah bangsa melalui pelayanan, kompetensi, dan kolaborasinya, sekaligus Menjaga Marwah negara melalui akuntabilitas, loyalitas, dan sikap harmonisnya.

Penutup
Memasuki usia 80 tahun kemerdekaan, Indonesia berada di persimpangan jalan antara menjadi bangsa yang besar dan bermartabat atau menjadi bangsa yang terus terbelit masalah internal. Filosofi Melayu “Merawat Tuah Menjaga Marwah” menawarkan sebuah kompas moral yang kuat dan berakar pada budaya sendiri.

“Merawat Tuah” mengajak kita, khususnya para penyelenggara negara, untuk tidak pernah menyia-nyiakan anugerah kemerdekaan dan segala potensinya. Ia menuntut kerja keras, inovasi, dan pelayanan tulus untuk mengubah potensi menjadi kesejahteraan.

“Menjaga Marwah” mengingatkan bahwa segala pencapaian material akan sia-sia jika tidak disertai dengan kehormatan dan integritas. Ia menuntut akuntabilitas, kejujuran, dan perilaku luhur dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Integrasi filosofi ini ke dalam core values ASN BerAKHLAK menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi dan tuntutan profesionalisme modern dapat berjalan seiring. Dengan menjadikan “Merawat Tuah Menjaga Marwah” sebagai fondasi filosofis dalam setiap tindakan, terutama dalam pelayanan publik, kita tidak hanya merayakan 80 tahun kemerdekaan secara seremonial, tetapi juga mengisinya dengan substansi menuju Indonesia Emas 2045 yang maju, sejahtera, dan bermartabat.

Daftar Pustaka
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. (2021). Surat Edaran Menteri PANRB Nomor 20 Tahun 2021 tentang Implementasi Core Values dan Employer Branding Aparatur Sipil Negara.

Effendy, Tenas. (2006). Tunjuk Ajar Melayu. Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.

Tulisan-tulisan mengenai Falsafah dan Kebudayaan Melayu.

Dokumen-dokumen historis dan refleksi kebangsaan terkait perjalanan Republik Indonesia.

Oleh:Leny Nofianti, Rektor UIN Suska Riau

Editor : Arif Oktafian
#opini #kemerdekaan #marwah #rektor uin