Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Redaksi • Senin, 18 Agustus 2025 | 11:26 WIB

Suseno, Pendidik di MTsN 1 Bengkalis & Mahasiswa Program Magister PAI-IAIN Datuk Laksemana Bengkalis
Suseno, Pendidik di MTsN 1 Bengkalis & Mahasiswa Program Magister PAI-IAIN Datuk Laksemana Bengkalis


SEMPENA memperingati ulang tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia yang kita cintai ini, sangatlah layak apabila kita mengenang sejenak betapa susahnya bangsa Indonesia dalam beberapa dasawarsa lalu dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan, agar kita dapat lebih bersyukur kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan nikmat yang telah diberikan-Nya.

Nikmat terbesar itu adalah nikmat kemerdekaan, di mana tidak semua umat manusia di muka bumi ini dapat merasakan hal yang sama seperti apa yang kita rasakan pada hari ini. Cobalah kita saksikan hari ini di belahan bumi yang lain, seperti gejolak peperangan di Ukraina, Rusia, dan negara-negara di Timur Tengah yang tiada berkesudahan seperti invasi negara zionis Israel di Gaza-Palestina, konflik di Suriah, Yaman, dan Libanon. Tidak ketinggalan juga negara-negara tetangga kita di kawasan Asia Tenggara yang kondisi keamanannya sedikit terganggu seperti yang terbaru Kamboja dengan Thailand.

​Kita akui bahwa semua yang telah dilakukan oleh pemerintah kita hari ini belumlah memuaskan, belum sesuai dengan yang kita idam-idamkan. Walaupun demikian, hendaknya kita memaklumi bahwa meninggalkan ketertinggalan dan keterbelakangan akibat penjajahan selama kurang lebih 350 tahun lamanya dengan segala akibatnya memang bukanlah pekerjaan yang gampang. Itu semua memerlukan kesungguhan dan kerja keras, ketekunan, dan kesabaran. Allah SWT berfirman yang artinya, “...Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (QS. Ali Imran: 159).

​Sudah seharusnya kebijakan dan arah pembangunan yang dilakukan dewasa ini adalah pembangunan yang memihak kepada kaum yang lemah atau kaum duafa. Disadari benar bahwa tegaknya suatu negara, bahkan sejahteranya si kaya, adalah karena dukungan si miskin dan si lemah. Karena itu, semangat kesetiakawanan sosial dan kegotongroyongan bangsa Indonesia harus tetap terus diupayakan sehingga insyaallah akan terwujudlah masyarakat yang saling hidup rukun, tolong-menolong, dan senasib sepenanggungan. Karena sebagaimana kita ketahui bersama, semangat di atas semenjak digulirkannya era reformasi mulai berangsur menurun.

​Apabila kita mengenang sejenak peristiwa kemerdekaan Republik Indonesia yang kita cintai ini 70 tahun yang lalu, maka hendaklah hal ini kita jadikan pelajaran yang sangat berharga yang senantiasa kita pegang dan kita gunakan sebagai bekal berharga dalam mengarungi samudra pembangunan di era otonomi daerah di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hari ini, esok, dan di masa yang akan datang yang lebih cemerlang, gemilang, dan terbilang.

​Dengan semangat yang berkobar-kobar, bangsa Indonesia saat itu berhasil mencapai kejayaan yang hampir mustahil dapat dicapai, berhasil merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari hegemoni penjajah walaupun hanya dengan peralatan persenjataan yang amat sederhana. Ternyata ada rahasia semangat yang harus tetap kita warisi dari peristiwa kemerdekaan Republik Indonesia itu untuk anak cucu kita kelak, yaitu sebagai berikut:

​Pertama, semangat rasa persatuan dan kebersamaan yang amat kental. Viskositas rasa persatuan dan kebersamaan saat itu amat ketara; siapa pun, dari mana pun, apa pun suku, golongan, dan agamanya, pria dan wanita, tua atau muda, semuanya bertekad bulat untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

​Kedua, semangat keikhlasan untuk berkorban yang luar biasa. Mereka sanggup mengorbankan bukan saja harta benda, air mata, darah, bahkan nyawa sekalipun. Tetapi dengan ikhlas tanpa pamrih, tidak sedikit pun terselip niat ingin pangkat atau satyalancana, upah atau imbalan, jabatan dan peluang, ingin bintang penghargaan atau gelar sanjungan. Pengorbanan itu semua mereka lakukan dengan hati yang putih dan bersih.

​Ketiga, semangat yang seharusnya tetap kita lestarikan, yaitu semangat keimanan dan ketakwaan yang luar biasa. Sambil berjuang, mereka selalu memohon dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pekik takbir “Allahu Akbar” tetap selalu bergelora di mana-mana. Mereka yakin benar bahwasanya yang Maha Besar hanyalah Allah. Mereka memiliki pendukung yang Maha Mendukung, yakni Allah Azza Wajalla yang Maha Tunggal.

​Tidak salah kiranya ungkapan rasa syukur itu telah dituangkan oleh para pendiri Republik Indonesia ke dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Tepatnya pada alinea ketiga yang berbunyi, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Suatu ungkapan rasa syukur yang tiada ternilai atas rahmat kemerdekaan yang telah dianugerahkan oleh Sang Maha Pencipta Allah SWT kepada Bangsa Indonesia.

​Tidak mungkin kerja keras akan berhasil tanpa persatuan dan kebersamaan. Tidak mungkin kerja besar dapat terwujud tanpa pengorbanan yang ikhlas. Cita-cita luhur bangsa ini adalah mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, yakni baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang sejahtera dan tetap dalam naungan Allah SWT. Itu semua hanya akan terwujud apabila bangsa Indonesia memiliki iman dan takwa yang kokoh dan terjelma dalam kehidupan sehari-hari.

​Akhirnya, marilah kita bersama-sama memanjatkan doa sempena Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-80 ini sebagai ungkapan rasa syukur yang tiada terhingga atas nikmat kemerdekaan. Ya Allah Yang Maha Bijaksana, karuniakanlah kesehatan dan kekuatan kepada kami, kepada para pemimpin bangsa kami, baik kesehatan jasmani maupun rohani, sehingga kami dapat membangun negeri ini menjadi negeri yang makmur, maju, dan penuh hidayah dari-Mu.

​Ya Allah Yang Maha Rahman Pencurah Rahmat, rahmatilah bangsa dan negara kami ini menjadi bangsa yang aman sentosa, serta lindungilah bangsa dan negara kami yang tercinta ini dari segala bentuk bencana, ancaman disintegrasi bangsa, huru-hara, dan silang sengketa yang dapat merusak persatuan dan kesatuan, serta keutuhan bangsa kami. Selamatkanlah Ya Allah generasi penerus bangsa kami dari krisis akhlak dan dekadensi moral, serta perbuatan-perbuatan maksiat. Jadikanlah mereka insan-insan kamil (sempurna) yang senantiasa beriman dan bertakwa, insan yang berkualitas, baik kualitas lahir maupun batin sehingga dapat membangun bangsa dan negaranya menjadi lebih maju, berjaya, berdaya saing tinggi, bermartabat, luhur, berkarakter, terhormat, dan disegani di tengah peradaban bangsa-bangsa lain di dunia.

​Ya Allah Yang Maha Kaya, limpahkanlah rezeki kepada bangsa kami rezeki yang halal dan baik (halalan toyyiba), yang luas lagi bermanfaat, serta jadikanlah kami bangsa yang pandai mensyukuri nikmat-Mu Ya Allah. Sesuai dengan firman-Mu, “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku” (QS. Al-Baqarah: 152). “Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imran: 145). “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7). Akhirnya, Selamat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-80, Bersatu Berdaulat Rakyat Sejahtera Indonesia Maju. Semoga saja.***

Oleh: Suseno, Pendidik di MTsN 1 Bengkalis & Mahasiswa Program Magister PAI-IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

Editor : Arif Oktafian
#Nikmat #opini #kemerdekaan