Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pacu Jalur, Tradisi Riau yang Lestari

Redaksi • Jumat, 22 Agustus 2025 - 11:36 WIB
Ketua Umum Laskar Sastra Kuansing  Alfikri Fauzi
Ketua Umum Laskar Sastra Kuansing Alfikri Fauzi

BAGI masyarakat Kuantan Singingi, nama Pacu Jalur tentu tidak asing lagi. Maka dari itu, mari kita bahas tradisi Pacu Jalur, sebuah budaya Riau yang tak lekang oleh waktu.

Pacu Jalur adalah acara perlombaan dayung menggunakan perahu besar yang disebut jalur. Kegiatan ini merupakan agenda wisata tahunan yang dapat disaksikan di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Pacu Jalur disebut-sebut sebagai acara budaya dengan jumlah penonton terbesar di Indonesia. Dalam setiap pertunjukannya, ribuan orang tumpah ruah memenuhi tribun dan tepian Sungai Kuantan yang dikenal sebagai Tapian Narosa.
​Pacu Jalur adalah perlombaan dayung sampan atau perahu tradisional yang diadakan di Tepian Batang Narosa, Sungai Kuantan, Taluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Pacu berarti lomba atau adu cepat, sedangkan “jalur” adalah perahu panjang yang dapat memuat 40 hingga 60 orang pendayung yang disebut “anak pacu”. Sampan atau perahu jalur ini dibuat dari sebatang pohon bonio atau kulim kunyian dengan panjang 30 meter atau lebih dan diameter sekitar 2 meter. Proses pembuatannya mengikuti tata cara adat, mulai dari menebang pohon hingga jalur selesai dibuat.

​Pada mulanya, Pacu Jalur hanya diadakan untuk memperingati Maulid Nabi atau menyambut Tahun Baru Hijriah. Namun, setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Festival Pacu Jalur lebih sering diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI. Festival perahu ini sekarang menjadi salah satu kegiatan dalam kalender wisata nasional, yang biasanya dilangsungkan pada tanggal 20-24 Agustus setiap tahunnya.

Pacu Jalur dan Upacara Adat

​Pembuatan jalur melibatkan banyak ritual adat. Kayu yang diambil dari pohon pilihan di hutan, sebelum ditebang, harus diawali dengan upacara persembahan yang dipimpin oleh pawang. Pohon kayu tersebut dipercaya memiliki “penghuni”, sehingga harus dimintai izin agar proses penebangan dan pemanfaatan kayu dapat berjalan lancar. Pohon kemudian ditebang sesuai dengan panjang jalur yang akan dibuat, lalu diseret bersama-sama ke desa secara gotong royong. Jalur yang dibuat ini akan mewakili sebuah desa, jadi setiap desa biasanya memiliki satu jalur utama yang akan berlomba di Festival Pacu Jalur.

​Setelah tiba di desa, batang pohon akan dilayur (diasapi) selama kurang lebih 12 jam. Proses pengasapan ini dilakukan pada malam hari dan diiringi dengan upacara adat serta tarian yang dihadiri oleh seluruh masyarakat desa. Pelayuran bertujuan agar kayu menjadi kering dan tidak berat saat dipacu. Setelah itu, barulah dilakukan proses pembuatan jalur, yaitu menetapkan panjang dan melubangi bagian dalam batang pohon hingga terbentuk sampan atau perahu.

​Sejarah Pacu Jalur

​Seperti diketahui, kendaraan jalur atau perahu panjang telah dikenal masyarakat di tepian Sungai Kuantan sejak abad ke-17. Pada masa itu, jalur digunakan sebagai alat transportasi air untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan. Seiring waktu, jalur mulai berkembang sebagai wujud identitas masyarakat setempat. Jalur dihias dengan ukiran, aneka gambar binatang, dan hiasan cantik layaknya kendaraan istimewa. Mereka yang memiliki status sosial lebih tinggi biasanya mengendarai jalur yang lebih indah.

​Sekitar satu abad kemudian, masyarakat mulai melihat potensi jalur secara lebih luas. Dimulailah lomba Pacu Jalur antarkampung, yang biasanya digelar pada hari-hari besar Islam dengan suasana yang lebih sakral.

​Pada tahun 1905, ketika Belanda memasuki Riau, mereka menjadikan Pacu Jalur sebagai acara untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Sejak saat itu, tujuan acara ini mulai bergeser, tidak hanya untuk acara keagamaan. Akhirnya, orang-orang menjadikan Pacu Jalur sebagai momen perayaan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya pada bulan Agustus.

​Saat ini, Pacu Jalur merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi selama beberapa hari pada bulan Agustus, dengan melibatkan ribuan penonton, baik dari daerah setempat maupun wisatawan luar.

​Jalur adalah perahu panjang yang terbuat dari kayu, dengan panjang sekitar 25-30 meter dan diameter 1-2 meter. Kayu ini dapat menampung sebanyak 40 hingga 60 orang. Kayu yang digunakan bukan sembarang kayu. Tetua kampung atau dukun biasanya terlebih dahulu mengadakan upacara menyenai kayu yang akan dipilih sebagai jalur. Selanjutnya, kayu ditebang dan dibawa secara beramai-ramai oleh warga dari hutan menuju kampung. Setelah itu, barulah dilakukan proses penukangan di kampung, yaitu mengukir, menghaluskan, dan mengasapi kayu. Setelah jalur jadi, jalur dimasukkan ke dalam sungai secara beramai-ramai.

​Pertunjukan Pacu Jalur

​Lomba Pacu Jalur biasanya melibatkan banyak orang yang menempati berbagai posisi. Anak jalur adalah puluhan orang yang bertugas mendayung jalur secara serempak dan harmonis. Peran mereka sangat menentukan laju dan kemenangan dalam perlombaan. Di bagian depan jalur, ada tukang tari, seorang anak kecil berusia belasan tahun yang berdiri sambil menari. Fungsinya adalah untuk mengetahui seberapa jauh jalur melaju dan bagaimana posisinya dibandingkan jalur lain. Selanjutnya, ada tukang onjai, seorang yang berdiri di bagian belakang jalur dan bertugas memberi irama agar jalur bisa lebih cepat dan mudah didayung. Terakhir, ada tukang timbo ruang yang bertugas memberi aba-aba kepada para anak jalur untuk mendayung secara serentak, biasanya dengan meniup peluit dan mengibaskan pelepah. Sesuai namanya, tukang timbo juga bertugas menimba air yang masuk ke dalam jalur selama pertandingan.***

​Oleh: Alfikri Fauzi Ketua Umum Laskar Sastra Kuansing

Editor : Bayu Saputra
#opini