Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Deep Learning dan Ruh Baru Pendidikan Kita

Redaksi • Selasa, 26 Agustus 2025 | 06:49 WIB

Afrianto Daud, Guru Besar FKIP Universitas Riau
Afrianto Daud, Guru Besar FKIP Universitas Riau


DI TENGAH gempuran istilah dan jargon baru dalam dunia pendidikan, belakangan kita sering mendengar kata deep learning atau pembelajaran mendalam. Dalam konteks kurikulum dan pembelajaran sekolah menengah di Indonesia, jargon ini pertama kali dipopulerkan oleh Prof Abdul Mu’ti tak lama setelah beliau dilantik menjadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) di pemerintahan Prabowo. Namun demikian, istilah deep learning agaknya terinspirasi dari bukunya Michael Fullan, dkk (2018) berjudul Deep Learning: Engage the World Change the World. Inilah di antara referensi yang cukup detail membahas deep learning secara teoretis.

​Banyak guru, dosen, bahkan birokrat pendidikan yang tergoda menganggapnya sebagai pendekatan masa depan. Walaupun Kemendikdasmen masih pada fase awal pengenalan deep learning ini, sebagian guru mungkin sudah mencoba mempraktikkannya di kelas, sebagian lain masih bingung harus mulai dari mana. Namun, perlu kita sadari sejak awal bahwa deep learning bukanlah kurikulum baru. Ia juga bukan model pembelajaran dengan langkah baku seperti problem-based learning atau project-based learning. Deep learning hanyalah sebuah pendekatan alternatif, salah satu dari sekian banyak jalan yang bisa ditempuh guru dalam mendesain pembelajaran. Karena itu, ia tak boleh dipuja berlebihan seolah-olah satu-satunya jalan menuju keberhasilan pendidikan.

Belum Teruji, tapi Menarik
​Sebagai pendekatan yang relatif baru—atau setidaknya baru dari sisi penamaannya—deep learning sebenarnya masih dalam tahap pencarian bentuk. Belum banyak penelitian serius yang membuktikan efektivitasnya secara meyakinkan. Jika kita mencari rujukan akademis, mungkin masih sulit menemukan kajian yang menyebut deep learning sebagai pendekatan paling jitu dalam mendidik anak-anak kita.

​Namun, bukan berarti ia tidak layak diperhatikan. Justru di situlah daya tariknya. Deep learning menghadirkan semacam “ruh baru” yang segar bagi praktik pendidikan kita. Ia menekankan tiga prinsip sederhana tetapi mendasar: mindful (berkesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (bergembira).

​Pendidikan yang baik mestinya dimulai dari kesadaran penuh siswa. Kesadaran (mindful) ini berfungsi sebagai pondasi. Mereka belajar bukan karena takut ujian atau dimarahi guru, melainkan karena menyadari pentingnya ilmu bagi hidupnya. Kesadaran itu membuat siswa mampu mengelola dirinya sendiri, bahkan tetap belajar sekalipun tanpa perintah. Inilah yang dalam literatur pendidikan modern disebut self-regulated learning. Bayangkan jika anak-anak kita belajar bukan karena dipaksa, tetapi karena memang ingin. Sekolah tak lagi menjadi penjara, melainkan rumah kedua yang menyuburkan rasa ingin tahu.

​Prinsip kedua, meaningful, mengingatkan kita bahwa pembelajaran tidak boleh berhenti di ruang kelas. Pembelajaran haruslah membumi dan mengakar di realitas. Apa yang dipelajari harus bisa dikaitkan dengan dunia nyata. Pelajaran matematika tentang persentase, misalnya, bisa dihubungkan dengan diskon harga di toko. Biologi tentang ekosistem dikaitkan dengan persoalan lingkungan di sekitar rumah. Konsep ini sebenarnya bukan barang baru. Sejak lama kita mengenalnya dengan istilah contextual learning. Tetapi sering kali kita abai. Guru sibuk mengejar target kurikulum, siswa sibuk menghafal materi, lalu lupa menanyakan: apa makna semua ini bagi kehidupan sehari-hari?

​Prinsip terakhir, joyful, mengajarkan bahwa belajar mestilah dilalui dengan kegembiraan. Tentu bukan kegembiraan palsu karena kelas dijadikan ajang bermain semata, melainkan kegembiraan batin. Suasana di mana siswa merasa nyaman, dihargai, dan bersyukur atas setiap proses belajar yang ia jalani. Guru yang mampu menciptakan suasana seperti ini biasanya lebih mudah menumbuhkan motivasi intrinsik siswa. Mereka tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara jiwa. Belajar menjadi aktivitas yang dinanti, bukan beban yang dihindari.

​Ketiga prinsip ini—mindful, meaningful, joyful—tidak boleh dipahami sebagai langkah-langkah teknis yang kaku. Ia harus dipandang sebagai ruh yang menyatu dalam setiap bentuk pembelajaran. Mau guru memakai metode ceramah, diskusi, eksperimen, atau proyek, ruh deep learning tetap bisa hadir. Seorang guru bahasa Inggris, misalnya, dapat menggunakan project-based learning dengan ruh deep learning. Proyeknya bermakna karena siswa membuat video percakapan yang relevan dengan kehidupan nyata. Ia mindful karena siswa sadar bahwa kemampuan berbicara bahasa Inggris penting bagi masa depan. Dan prosesnya joyful karena dilakukan dalam suasana kelas yang penuh dukungan dan kreativitas.

Tantangan dan Harapan
​Tentu, berbicara di atas kertas selalu lebih mudah daripada praktik di lapangan. Mengintegrasikan prinsip deep learning menghadapi banyak tantangan. Pertama, tidak semua guru siap. Sebagian masih terjebak pada paradigma lama: guru sebagai pusat, murid sebagai penerima pasif. Kedua, kurikulum kita terlampau padat. Guru sering terpaksa mengorbankan pendalaman makna demi mengejar penyelesaian materi. Ketiga, budaya belajar siswa juga masih menjadi soal. Anak-anak kita terbiasa menunggu instruksi, bukan mengambil inisiatif. Membiasakan mereka untuk mindful tentu perlu waktu. Dan jangan lupakan keterbatasan fasilitas di banyak sekolah kita. Bagaimana mau joyful jika kursi rapuh, ruang kelas pengap, dan buku saja kurang? Namun, bukankah setiap tantangan selalu menyimpan peluang? Justru di sinilah kreativitas guru diuji.

​Meski penuh tantangan, saya percaya deep learning dapat menjadi semacam arah baru pendidikan kita. Bayangkan generasi muda yang tumbuh dengan kesadaran penuh akan pentingnya belajar, yang melihat ilmu sebagai sesuatu yang bermakna dalam hidupnya, dan yang menjalaninya dengan kegembiraan. Mereka bukan hanya pintar secara akademis, tetapi juga tangguh, kreatif, dan penuh semangat menghadapi perubahan zaman. Inilah profil pelajar abad ke-21 yang selalu kita cita-citakan: kritis, kolaboratif, komunikatif, dan inovatif. Profil ini sangat mungkin menjadi kenyataan, salah satunya, melalui proses belajar yang mendalam dengan pendekatan deep learning itu. Wallahu’alam.***

Oleh: Afrianto Daud, Guru Besar FKIP Universitas Riau

Editor : Arif Oktafian
#opini #Deep Learning #kurikulum #pendidikan