MEMINJAM dua istilah sarat makna dari khazanah politik Rusia, Glasnost (keterbukaan) dan Perestroika (pembaharuan), saya melihat geliat perubahan menarik di Kota Pekanbaru. Sebuah era tengah disongsong, di mana sinergi antara pemerintah kota dan masyarakatnya yang heterogen berpotensi besar mengantarkan Pekanbaru menjadi prototipe perkembangan kota modern. Visi masyarakat yang semakin matang dan gebrakan pemerintah kota dalam menata diri layak menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
Jika Glasnost di Uni Soviet pada era Mikhail Gorbachev diartikan sebagai transparansi dan keterbukaan informasi, sebuah respons terhadap kemerosotan ekonomi dan politik, maka Pekanbaru pun seolah mengadopsi semangat serupa. Kebijakan keterbukaan Gorbachev kala itu bertujuan memberantas korupsi dan membuka mata publik terhadap realitas negara. Media pun mulai berani mengkritisi, meninggalkan tabir ketertutupan “tirai besi”.
Paralel dengan itu, Perestroika, yang berarti reformasi birokrasi dan ekonomi, hadir sebagai upaya Gorbachev untuk mendongkrak kemunduran ekonomi Soviet. Otonomi daerah diperkuat, meninggalkan sentralisasi komunisme, demi bersaing dengan pesatnya kemajuan Amerika Serikat dan Jepang. Kendati Perestroika justru memicu disintegrasi Uni Soviet, dampak positif berupa liberalisasi dan pengembangan potensi ekonomi di negara-negara pecahan tak bisa diabaikan. Kini, negara-negara tersebut terus berbenah menuju kemajuan.
Di Kota Pekanbaru, aroma keterbukaan dan reformasi juga terasa kental. Heterogenitas masyarakat yang tinggi menjadi modal berharga untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan mematangkan visi kolektif. Harapan membumbung agar Pekanbaru menjelma menjadi contoh nyata metamorfosis menuju kota metropolitan yang sesungguhnya.
Momentum pilkada serentak baru-baru ini menjadi penanda penting. Terlihat jelas goodwill masyarakat Pekanbaru untuk melampaui primordialisme etnis dalam memilih pemimpin. Figur yang dianggap mampu membawa pembaharuan dan kemajuan kota menjadi prioritas. Data Sensus Penduduk 2020 menunjukkan komposisi etnis yang beragam di Pekanbaru: Minang (40,96 persen), Melayu (23,10 persen), Jawa (15,70 persen), Batak (11,04 persen), Tionghoa (2,50 persen), dan lain-lain (6,70 persen). Namun, hasil pilkada 27 Oktober 2024 lalu berkata lain. Pasangan Agung Nugroho-Markarius Anwar, dengan perolehan suara signifikan 164.041 (46,54 persen), terpilih dan dilantik pada 20 Februari 2025.
Ini adalah catatan sejarah tersendiri. Sejak Indonesia merdeka, dari Datuk Wan Abdul Rahman hingga Firdaus, tampuk kepemimpinan Pekanbaru selalu dipegang oleh putra daerah Melayu. Baru kali ini, seorang wali kota dengan latar belakang etnis di luar Melayu, bahkan bukan dari kelompok etnis mayoritas, memimpin kota ini. Ini adalah indikasi kuat bahwa warga Pekanbaru semakin terbuka, mengedepankan kualitas figur dan visi misi yang dianggap paling relevan untuk kemajuan kota.
Wali kota terpilih pun menunjukkan kesadaran akan pentingnya merangkul semua elemen masyarakat. Perbedaan etnis dan latar belakang justru dipandang sebagai aset untuk membangun Pekanbaru melalui kolaborasi yang sinergis.
Sejumlah gebrakan awal kepemimpinan beliau patut diapresiasi: penurunan tarif parkir, penertiban tempat pembuangan sampah, respons cepat terhadap jalan rusak (bahkan saat cuti Lebaran), penertiban perusahaan yang menahan ijazah karyawan, dan revitalisasi air mancur Tugu Selais. Aksi-aksi konkret ini, memberikan harapan baru bagi warga Pekanbaru.
Saya melihat sosok pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan Pekanbaru: tanpa pencitraan berlebihan, dekat dengan masyarakat, responsif terhadap keluhan, fokus pada isu-isu kecil yang berdampak besar, dan tidak terjebak dalam formalitas birokrasi yang kaku.
Dari visi masyarakat yang semakin terbuka hingga aksi nyata pembaruan yang digagas oleh Wali Kota, sinyal positif perkembangan Pekanbaru ke arah yang lebih baik dan maju semakin menguat. Semoga langkah-langkah awal ini dapat menginspirasi seluruh warga Pekanbaru untuk bahu-membahu menciptakan kota yang semakin nyaman dan membanggakan.***
Oleh: Said Fauzi Assegaff, Pengamat Sosial, Politik, dan Olahraga