Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ekonomi Hijau Gambut Riau: Dari Krisis Ekologi ke Masa Depan Berkelanjutan

Redaksi • Sabtu, 15 November 2025 | 13:01 WIB
Haris Gunawan, Peneliti Senior PUI Gambut Universitas Riau
Haris Gunawan, Peneliti Senior PUI Gambut Universitas Riau

Riau menyimpan salah satu bentang lahan gambut tropis terluas di Indonesia. Merupakan warisan ekologis yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan. Namun kini justru menjadi potret paling nyata dari krisis lingkungan.

Selama puluhan tahun, pembukaan dan pengeringan gambut untuk perkebunan dan industri telah menimbulkan degradasi serius, seperti subsiden, kebakaran berulang, udara tercemar asap, dan karbon yang seharusnya tersimpan kini terlepas ke atmosfer. Akibatnya, fungsi alamiah gambut sebagai penyimpan air dan penyeimbang iklim perlahan hilang.

Namun, di tengah kerusakan itu, tersimpan peluang besar untuk memperbaikinya. Gambut adalah ekosistem yang masih bisa dipulihkan, airnya bisa dikembalikan, vegetasinya bisa tumbuh lagi, dan ekonominya bisa dibangun ulang melalui praktik berkelanjutan.

Dengan pendekatan ekonomi hijau, Riau dapat mengubah arah pembangunan: mengganti eksploitasi dengan restorasi yang produktif, mengembangkan paludikultur dan usaha rendah emisi, serta menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam tata kelola lahan. Pemulihan gambut bukan beban, melainkan investasi masa depan pondasi ekonomi yang tumbuh seiring dengan pulihnya bumi.

Gambut Riau: Dari Ketergantungan ke Ketahanan
Tidak ada daerah di Indonesia yang memiliki hubungan sedekat Riau dengan lahan gambut. Lebih dari empat juta hektare tanah di provinsi ini berupa gambut tropis membentang dari pesisir timur hingga pedalaman. Di dalamnya tersimpan sekitar 10 miliar ton karbon, menjadikan Riau salah satu wilayah penentu dalam upaya menahan laju perubahan iklim global.

Namun, dihampir tiga dekade terakhir, wajah alam ini banyak berubah. Kebakaran berulang, drainase masif, dan konversi hutan telah menjadikan sebagian gambut kehilangan fungsi eko-hidrologi dan ancaman akan keberlanjutan ekonomnya. Data menunjukkan, lebih dari 40 persen lahan gambut Riau kini dalam kondisi rusak di berbagai tingkatannya, menyebabkan emisi, resiko berulangnya kejadian bencana kabut asap, banjir dan subsiden, yang lebih dikenal sebagai bencana tersembunyi.

Namun, di balik tantangan itu, tersimpan peluang besar. “Krisis ekologis bukan akhir dari pembangunan, melainkan titik balik untuk membangun ekonomi yang lebih cerdas dan berkelanjutan.” Kalimat ini kini terasa relevan untuk Riau karena justru dari gambut basah yang dulu dianggap beban, lahir peluang ekonomi baru.

Gambut sebagai Aset, Bukan Hambatan
Paradigma baru sedang tumbuh. Gambut tak lagi dilihat sebagai lahan tak berguna, tetapi sebagai aset alam strategis. Dalam konteks global, nilai ekonomi ekosistem berbasis karbon terus meningkat. Setiap ton CO₂ yang berhasil diserap atau dihindari kini memiliki nilai pasar nyata melalui mekanisme ekonomi karbon (carbon pricing).

Pemerintah Indonesia telah menegaskan arah ini melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan sistem Sistem Registri Nasional (SRN-PPI). Instrumen ini memastikan bahwa aksi iklim termasuk restorasi dan perlindungan gambut bisa menghasilkan manfaat ekonomi yang terukur. Riau berada di posisi strategis untuk memimpin.

Dengan kekayaan lahan gambut dan pengalaman panjang dalam restorasi, provinsi ini dapat menjadi laboratorium ekonomi hijau di Indonesia: menggabungkan ilmu pengetahuan, tata kelola air, dan partisipasi masyarakat untuk menciptakan nilai ekonomi dari konservasi.

Bisnis Hijau dari Gambut Basah
Ekonomi hijau di lahan gambut bukan lagi ide di atas kertas. Ia sudah terbukti memberi manfaat ekonomi, sosial, dan ekologi sekaligus. Pasar karbon sukarela global kini bernilai lebih dari US$2 miliar per tahun (Ecosystem Marketplace, 2023), dan Indonesia termasuk negara dengan potensi pasokan terbesar berkat simpanan karbonnya yang mencapai lebih dari 57 gigaton sebagian besar tersimpan di lahan gambut.

Contoh nyatanya ada di Proyek Katingan-Mentaya, Kalimantan Tengah. Proyek seluas 149.800 hektar ini berhasil menghindari emisi hingga 7 juta ton CO₂ per tahun, sekaligus menciptakan lebih dari 1.000 lapangan kerja lokal. Pendapatan dari kredit karbon digunakan untuk membangun sekolah, klinik, dan usaha kecil masyarakat (Permana et al., Nature Sustainability, 2022). Ini membuktikan bahwa melindungi alam bisa sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Riau memiliki semua fondasi untuk meniru bahkan memperkuat model semacam itu. Sejak 2017, program Perhutanan Sosial di lahan gambut Riau telah mencakup lebih dari 120 ribu hektare, dengan fokus pada sagu, jelutung, geronggang dan vegetasi asli rawa gambut bernilai ekonomi tinggi. Di Indragiri Hilir dan Kepulauan Meranti, petani sagu kini mengembangkan rantai pasok rendah emisi dari olahan tepung hingga produk turunan seperti mi dan cookies ekspor. Produksi sagu Indonesia sudah mencapai rata-rata 300 ribu ton per tahun, dan Riau menyumbang lebih dari separuhnya.

Selain itu, Restorasi Ekosistem Riau (RER) di Semenanjung Kampar menunjukkan kemitraan lintas sektor yang berhasil. Dengan dukungan korporasi dan masyarakat, mereka menjaga lebih dari 150 ribu hektare hutan gambut yang menyimpan sekitar 1,5 miliar ton karbon (RER Annual Report 2023). Program ini bukan hanya menjaga tutupan hutan, tapi juga memulihkan hidupan liar tercatat lebih dari 800 spesies flora-fauna kembali muncul, termasuk harimau sumatra dan burung rangkong.

Bayangkan jika model perhutanan sosial dan restorasi seperti ini diperluas dengan skema kredit karbon terverifikasi (ICVCM/VCMI) dan investasi swasta hijau. Setiap hektar gambut yang dijaga bisa bernilai ekonomi nyata, dari Rp30-70 juta per hektare per tahun tergantung cadangan karbon dan keanekaragaman hayatinya (CIFOR, 2021). Artinya, menjaga rawa bukan lagi pengorbanan, tapi investasi.

Riau bisa menjadi pionir ekonomi hijau yang tumbuh dari bawah-dengan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima manfaat. Dari sagu yang menghidupi, madu rawa yang bernilai tinggi, hingga jelutung yang jadi bahan industri ramah lingkungan, tanah basah Riau bisa menjadi fondasi ekonomi baru yang berkelanjutan, berdaulat, dan berdaya saing global.

Konservasi Hidup: Trenggiling, Rangkong & Premium Karbon untuk Riau
Di gambut luas Riau, bukan hanya pohon-gambut yang penting ada makhluk hidup yang menjadi ikon keanekaragaman dan nilai tambah ekonomi. Bayangkan: seekor Trenggiling Sunda (Manis javanica) merayap di antara akar sagu, seekor Rangkong Gading (Buceros rhinoceros) terdengar kokok di pagi hari, dan Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang masih menyelinap di koridor gambut Semenanjung Kampar.

Keberadaan spesies ikon seperti ini bukan hanya cerita alam, tapi bisa menjadi pengungkit nilai ekonomi dalam skema karbon: ketika proyek karbon gambut di Riau juga mengikat konservasi spesies-langka, maka kredit karbon yang diterbitkan punya potensi untuk harga premium di pasar.

Beberapa Hal Menunjukkan Peluang Konkret:
Studi menunjukkan pembeli kredit di pasar sukarela (VCM) bersedia membayar lebih untuk proyek yang memiliki co-benefit keanekaragaman hayati. Dalam survei tahun 2023 tercatat proyek yang memiliki manfaat biodiversitas memperoleh premi rata-rata sekitar 37 persen dibanding proyek karbon biasa.

Standar dan panduan internasional kini menekankan bahwa pasar karbon yang mengintegrasikan “karbon + biodiversitas” akan memimpin, karena pembeli mencari proyek dengan integritas tinggi dan reputasi kuat.

Dengan memasukkan konservasi spesies-ikon dan keanekaragaman ke dalam desain proyek karbon gambut (misalnya menambahkan indikator populasi trenggiling/rangkong sebagai bagian dari M&E), maka proyek tersebut bisa diklaim sebagai “carbon credit dengan nilai biodiversitas premium”. Ini membuka argumen bagi investor atau pembeli: “Saya tidak membeli hanya satu ton CO₂, tapi saham kehidupan.”

Riau Hijau, Indonesia Tangguh
Masa depan Riau tidak lagi bergantung pada ekstraksi, tetapi pada regenerasi. Melalui sinergi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Riau dapat menjadi model ekonomi hijau berbasis gambut yang menghubungkan air, karbon, dan kehidupan.

Setiap desa, setiap kanal, setiap hektar hutan rawa kini bisa memiliki nilai ekonomi baru bukan karena dieksploitasi, tapi karena dijaga. Dan dari sinilah muncul bentuk kemakmuran baru: yang lahir dari keseimbangan. “Emas Riau bukan yang digali, melainkan yang dijaga-air, karbon, dan keanekaragaman hayati.”***

Oleh: Haris Gunawan, Peneliti Senior PUI Gambut Universitas Riau

Editor : Arif Oktafian
#opini #Ekonomi Hijau #riau #gambut