Mendengar kata durian, kebanyakan orang akan tertarik. Pesonanya begitu melekat dan menarik peminatnya untuk selalu mencari dan menanti. Aromanya yang khas dengan tekstur lembut menjadi pemikat dan membuat langkah menjadi pantang untuk bersurut. Membayar dengan harga mahal sekalipun, tidak mengapa, asal bertemu dengan durian idaman. Sebut saja jenis durian Musang King, Black Thorn atau Durian Duri hitam, Montong dan banyak lagi jenis durian lainnya. Namun penulis sedang tidak sedang ingin menjelaskan durian sebagai buah-buahan, tapi terkait dengan generasi yang dilabel atau disebut dengan generasi durian
Istilah ini pertama kali populer di Singapura. Ia merujuk pada kondisi generasi yang tampak kuat, gagah dan menampilkan pesona yang luar biasa, namun rapuh, lembek tak berdaya bila berhadapan dengan kenyataan zaman. Tak ubahnya seperti durian, yang luarnya keras, berduri penuh proteksi diri, tapi dalamnya lembek mudah diremas dengan tangan dan tak punya daya tahan untuk melawan.
Kondisi ini sejatinya tidak berdiri sendiri. Ia bermula dari pola asuh yang salah dari orang tua dan lingkungan tempat ia bertumbuh. Kecintaan orang tua tidak lagi berpijak dalam nalar kewajaran dan alas argumentasi pengetahuan. Ia berdiri pada kedalaman perasaan yang berpotensi mengikuti gelombang subyektivitas dan menihilkan obyektivitas. Cinta dan kasih sayang dibuktikan dengan mengabulkan segala permintaan sang anak, terutama terkait dengan pemenuhan materi. Menolak tuntutan permintaan anak dipandang luka dan tidak hadirnya cinta pada sang anak. Belum lagi proteksi dalam bentuk lain agar anak tak tersakiti. Semua itu dilakukan sebagai manifestasi cinta dan sayang sama anak.
Perilaku proteksi dan sayang seperti ini, sepintas akan membuat anak terjaga dan terlihat peran cinta orang tua. Namun sejatinya melahirkan generasi yang tidak mampu beradapatasi dengan zaman. Kungkungan dan pemenuhan segala permintaan membuat anak tidak mandiri. Anak seakan berdiri pada dinding tebal pada kuasa orang tua. Menemukan tantangan sedikit saja, ia melihat sebagai ancaman kenyamanannya. Alhasil mudah tersulut emosi, dan bila jatuh, kesulitan untuk bangkit tanpa ulur tangan orang lain. Belum lagi penampilan luaran dengan pernak-pernik menjadikannya sebagai barometer dan kualitas diri.
Fenomena pelajar belakangan ini yang berani membentak dan melawan guru, kendati ia berada dalam posisi melanggar aturan sekolah, bahkan menggunakan tameng orangtua menandakan generasi durian sudah berbuah dan baunya sudah tercium oleh banyak orang. Belum lagi perilaku terhadap orangtua yang tidak bisa mengabulkan permintaannya. Artinya generasi durian yang ditanam dan dipupuk itu, telah tumbuh dan berbuah.
Untuk mencapai itu semua, bukanlah pekerjaan mudah dan menyerahkan sepenuhnya pada sekolah. Generasi emas tidak akan lahir dari rahim yang peradaban yang tidak berpijak pada nilai moral dan kompas spiritual. Mengandalkan kompetensi dan kecerdasan intelektual semata, ia hanya akan menghadirkan kesejahteraan semu. Bangunannya boleh jadi indah di mata, namun menyisakan gundukan masalah. Menyimpainya kembali dalam simpulan yang tersusun baik adalah langkah penting dalam menata kembali “prototype” generasi muda hari ini. Oleh karena itu, langkah-langkah yang harus ditempuh dan ditata ulang serta menjadi pedoman seluruh anak bangsa harus dilakukan.
Pertama, menanamkan nilai-nilai moral sebagai fondasi kehidupan. Nilai moral bukan hanya dalam tataran baik buruk di lembaran-lembaran kertas pelajaran dan juga ucapan, namun harus dalam tindakan yang akan mampu menjangkau kedalaman hati. Belakangan kita banyak bicara moralitas, namun kering keteladan dalam kehidupan.
Kedua, menanamkan nilai kedisiplinan. Membiarkan anak tanpa nilai kedisplinan, hanya membuat anak akan kehilangan tempat pijakannya. Anak akan mudah tumbang dan sulit bangkit bila terjatuh. Ketiga, membangun komunikasi. Terjalinnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak akan menjadi teras penting dalam tumbuh kembangnya anak. Ragam masalah dan potensi yang akan membuat anak salah dalam menghadapinya akan mudah terdeteksi dan dicarikan jalan proteksi.
Keempat, menumbuhkan rasa empati. Hadirnya rasa bahwa hidup di dunia ini tidak bisa sendiri dan mesti menjalani bersama dengan orang lain mesti menyebati dalam diri anak. Sekuat apapun kaki kita untuk berdiri, namun kita tetap membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, merasakan apa yang dirasakan orang lain harus tumbuh dari sejak kecil dalam diri anak.
Kelima, mengajarkan kesederhanaan. Menuruti segala permintaan anak tanpa melihat kepentingan dan kewajaran adalah pemenuhan yang akan membuat anak kehilangan pemaknaan hidupnya. Ia akan tumbuh dengan nilai kemewahan dan menganggapnya sebagai sebuah nilai yang mesti selalu hadir dalam kehidupannya. Bila tidak, ia menganggapnya sebuah nestapa dan ia akan berusaha memenuhinya dengan ragam cara, kendati cara itu salah.
Generasi hari ini adalah pemimpin masa depan. Bila kita tidak peduli terhadap tumbuh kembangnya, apalagi tidak menghadirkan nilai yang baik dalam perjalanan kehidupannya, maka alamat generasi durian yang akan mendominasi perjalanan bangsa ke depan. Bila ini terjadi, maka perjalanan bangsa akan mengalami kesulitan. Tantangan yang kian beragam, akan membuat generasi akan banyak tergerus dan hanyut dalam pusaran zaman. Kita akan terus menjadi buih dalam lautan kehidupan yang kian hari kian luas.
Oleh itu, kita harus menghadirkan kesadaran penuh bahwa generasi muda, terutama pemuda hari ini adalah teras penting dalam perjalanan bangsa. Menanamkan nilai-nilai yang baik dengan multikompetensi diri menjadi signifikan, agar mereka kuat, gagah dan juga punya nilai juang serta kompas spritual yang akan menjadi panduan dalam menatap kehidupan ke depan. Bukan menjadi generasi durian yang kuat di luar namun lemah dalam menghadapi tantangan zaman.***
Oleh : Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana UKM Malaysia Suhardi Behrouz
Editor : Bayu Saputra