Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ketika Alam Membalas: Peringatan Keras bagi Para Perusak Sungai Kuantan

Hendrawan Kariman • Sabtu, 29 November 2025 | 18:13 WIB
Mardianto Manan, Dosen Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota UIR
Mardianto Manan, Dosen Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota UIR

RANGKAIAN bencana longsor yang melanda Sumatera — termasuk peristiwa terkini — bukanlah serangkaian musibah acak. Ia adalah alarm keras dari bumi yang telah terus-menerus kita langgar — hutan digunduli, sungai dirusak, tebing dan tanah digali tanpa pertimbangan ekologis. Alam akhirnya berbicara, dan bahasanya adalah bencana.

Ketika hutan dibabat, sungai dikeruk, dan tanah di sepanjang aliran sungai serta daerah penambangan digali terus-menerus oleh praktik ilegal seperti dompeng dan PETI, hal ini bukan hanya merusak alam — tetapi menyiapkan tragedi. Dampaknya bukan hanya kepada alam, tetapi ke manusia.

Nyawa Nyata, Bukan Sekadar Statistik

Baru-baru ini, di Desa Jake, Kuantan Singingi, praktik penambangan emas tanpa izin (PETI) kembali menelan korban jiwa. Seorang pekerja berinisial CNR (20 tahun) ditemukan meninggal dunia setelah tertimbun longsor di lokasi PETI, Jumat petang (28 November 2025).

Korban berada di dalam lubang sedalam sekitar satu meter saat menyedot material; tiba-tiba tebing tanah galian longsor dan menimpa korban. Dua rekannya berhasil melarikan diri dan selamat.

Ini bukan kasus pertama. Sebelumnya, pada 8 Mei 2025, seorang pemuda bernama Dandi (20) — juga warga Kuansing — tewas tertimbun longsor di lokasi tambang ilegal.

Kemudian pada 14 September 2025, seorang penambang ilegal bernama Deni Murdani (30) tewas ketika tebing tanah bekas galian PETI longsor menimpa dirinya.

Nyawa-nyawa ini hanyalah sebagian dari banyak potensi tragedi yang mengintai di lokasi pertambangan ilegal: tempat di mana tanah telah menjadi rapuh, sungai tercemar, dan ekosistem hancur. Jika kita terus membiarkan PETI dan dompeng beroperasi tanpa kontrol, korban selanjutnya bisa saja datang dari siapa saja — anak, saudara, tetangga kita.

Tak Cukup Sekadar Menyesal — Saatnya Ada Tindakan Tegas

Kematian para pekerja PETI adalah peringatan keras — bukan hanya bagi pelaku, tetapi bagi seluruh masyarakat, pemerintah, dan penegak hukum. Bukan hanya tentang kerusakan alam, tapi tentang keselamatan manusia.

Praktik PETI bukan hanya merampas hutan dan sungai — tapi juga kehidupan manusia. Aktivitas semacam ini melanggar hukum, mengundang bencana ekologis, dan memasang maut di setiap lubang galian.

Sementara itu, masyarakat yang bergantung pada sungai untuk air bersih, ikan, dan kelangsungan hidup — juga jadi taruhannya. Pencemaran air, sedimentasi, hilangnya habitat, dan longsoran tanah bisa menghancurkan masa depan generasi berikutnya.

Seruan untuk Semua: Penyadaran, Penertiban, dan Pemulihan

Kepada para perusak lingkungan — khususnya yang menjalankan dompeng dan PETI di sepanjang aliran Sungai Kuantan dan DAS sekitarnya — dengarkan ini: Anda bukan hanya menghancurkan alam; Anda mempertaruhkan nyawa manusia dan masa depan masyarakat luas.

Kepada pemerintah dan aparat hukum — sudah saatnya tidak ada toleransi terhadap PETI dan dompeng ilegal. Penindakan harus menyentuh pelaku, pemodal, bahkan pelindung di balik aktivitas ilegal itu. Pencabutan izin, razia rutin, dan monitoring lingkungan harus menjadi prioritas agar tragedi seperti di Desa Jake tidak terulang.

Kepada masyarakat — mari bersama-membangun kesadaran kolektif bahwa alam bukan komoditas tanpa harga. Alam adalah rumah kita, sungai adalah urat nadi kehidupan. Ketika kita melindungi alam, kita melindungi diri kita dan generasi yang akan datang.

Jangan Tunggu Longsor Berikutnya Menyapa Kita

Korban jiwa di Kuansing bukan angka. Mereka manusia dengan keluarga, mimpi, dan harapan. Longsor bukan hanya soal tanah yang runtuh — tetapi soal masa depan yang tertimbun derita.

Jika kita tetap abai, jika kita terus diam terhadap perusakan alam dan eksploitasi ilegal — maka alam akan terus bersuara. Dengan keras. Dengan maut.

Sekarang saatnya berubah. Demi Kuantan. Demi Indonesia. Demi kemanusiaan dan kelestarian.



Editor : Rinaldi
#Mardianto Manan #alam membalas #sungai kuantan