Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ibumu, Ibumu, Ibumu… (Refleksi Hari Ibu)

Redaksi • Rabu, 24 Desember 2025 | 11:31 WIB
Irfan Maaruf, Guru Sekolah Penggerak SD Negeri 143 Kota Pekanbaru.
Irfan Maaruf, Guru Sekolah Penggerak SD Negeri 143 Kota Pekanbaru.

Bertepatan dalam momen yang paling istimewa pada hari dan bulan ini, seremonial Perayaan Hari Ibu, hadir dihadapan kita dari berbagai rasa syukur, bahagia, hormat bangga, haru, serta sedih untuk perjalanan perjuangan dan pengorbanan bagi sosok seorang ibu yang telah memberikan secara tulus kasih sayang yang tidak pernah habis dan tak terhingga.

Sosok Ibu lah yang telah melahirkan kita ke dunia, sosok yang menaruhkan jiwa dan raganya untuk dapat menghirup udara, kasih sayang yang tak dapat diukur dengan membesarkan dan mendidik (sebagai pendidik pertama) dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan kita. Ilmu pengetahuan memberikan tentang arti ibu adalah orang tua perempuan dari seorang anak.

Seorang perempuan dapat dianggap sebagai ibu ketika ia telah melahirkan anak, merawat dan membesarkan seorang anak, baik anak kandungnya maupun bukan anak kandungnya, atau dengan menyediakan rahimnya untuk pembuahan dalam kasus kehamilan pengganti.

Kata “Ibu” dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Austronesia kuno. Secara etimologis, ia dapat ditelusuri kembali ke proto‑Austronesian *_ina_ yang berarti “ibu”. Dari sana, kata ini berkembang melalui bahasa‑bahasa Melayu‑Polinesia, termasuk bahasa Melayu Kuno, dan akhirnya menjadi “Ibu” dalam bahasa Indonesia modern.

Selain sebagai istilah kekerabatan untuk “bunda” (biasanya perempuan sudah punya anak), “Ibu” juga dipakai sebagai panggilan hormat untuk wanita dewasa, misalnya “Ibu guru” atau “Ibu dokter”dan ibu presiden, yang mencerminkan nilai rasa hormat dalam budaya di Indonesia.

Dalam percakapan sehari-hari kita dengan rekan sejawat atau dalam pergaulan di masyarakat di sela-sela saat obrolan panjangnya, tidak pernah melupakan dan melewatkan dengan menceritakan perihal tentang keluarga, saudara kita dan tidak pula pernah paling utama dari cerita bincang kita dan teman adalah sosok Ibu, dimanakah kamu dilahirkan dan dibesarkan?, apakah masih ada ibu kamu ?, nah…begitulah percakapan dimulai.., maka di sanalah akan ada selalu cerita kata Ibu yang tanpa disadari bahwa menjadi topik utama di akhir cerita keseluruhan dan bahwa cerita obrolan dari ibu itulah yang melekat sepanjang proses kehidupan kita untuk saat ini.

Beruntunglah bagi kita apabila sampai saat ini masih memiliki seorang sosok Ibu yaitu pahlawan yang nyata dan sesungguhnya.

Sejarah Hari Ibu
Di banyak negara lain, Hari Ibu (Mother’s Day) dirayakan pada hari Minggu kedua di bulan Mei, namun Indonesia memiliki sejarah uniknya sendiri yang berakar pada Pergerakan Nasional perempuan.

Pembahasan tentang sejarah Hari Ibu di Indonesia yang dirangkum dari buku Sejarah Organisasi Perempuan Indonesia (1928-1998) karya Mutiah Amini dalam Kongres Perempuan Pertama: Kongres Perempuan Indonesia pertama dilandasi oleh kesadaran akan pentingnya kebersamaan dalam mewujudkan cita-cita bersama.

Apalagi, pada 1927, para aktivis perempuan Indonesia sempat mendapat undangan dari Pacific Congress di Hawaii, tetapi belum bisa mengirimkan wakilnya. Pada tahun 1927, Ny Soekonto, Ny Soewardi dan Nn Soejatin membentuk Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang kemudian menjadi wadah untuk mewujudkan ide penyelenggaraan Kongres Perempuan awal mulanya pada tanggal 22 Desember 1928, Kongres Perempuan Indonesia I (pertama) di Yogyakarta menjadi tonggak penting perjuangan perempuan untuk kesetaraan dan hak-haknya.

Kongres Perempuan Indonesia pun berhasil diadakan pada 22-26 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri oleh perwakilan 29 perkumpulan perempuan di Indonesia dan diisi oleh 15 pembicara yang juga menjadi perwakilan dari organisasi seperti Wanita Oetomo, Putri Indonesia, Aisyiyah, Putri Budi Sejati, Wanita Taman Siswa, dan lain-lain.

Tujuan dari penyelenggaraan kongres ini adalah untuk memikirkan tiga hal yang sangat penting bagi kehidupan perempuan di masa itu yang berkaitan dengan kewajiban, kebutuhan, dan kemajuan perempuan.

Dari kongres ini, para perempuan yang terlibat kemudian mendirikan Perikatan Perempuan Indonesia (PPI). Perikatan ini bertugas untuk memikirkan pemberian beasiswa pendidikan bagi anak perempuan yang membutuhkan, penguatan pendidikan kepanduan, mencegah perkawinan anak, pengiriman usulan kepada pemerintah untuk memberikan dana kepada janda dan anak yatim serta memperbanyak sekolah perempuan, serta mengirimkan mosi kepada Raad Agama mengenai pencatatan nikah dan talak.

Jika dilihat dari jumlah organisasi yang terlibat dalam kongres ini, kongres ini memang tidak dapat diklaim mewakili semua organisasi perempuan di Indonesia. Apalagi kongres ini didominasi oleh perempuan Jawa. Akan tetapi, hal tersebut tidak mengherankan karena pada saat itu pemerintah kolonial Belanda mempersulit penyelenggaraan suatu kongres.

Pada 17 Desember 1939, dibentuk Komite Hari Ibu untuk memastikan bahwa Hari Ibu dapat diperingati serentak di seluruh Indonesia. Komite tersebut berisi beberapa organisasi seperti Pasundan Istri Jakarta, Persatuan Kaum Ibu Minangkabau, Pasundan Istri Jatinegara, Sarekat Istri Jakarta, Istri Indonesia Jakarta, dan lain-lain.

Kongres ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya perempuan dari latar belakang sosial, etnis, dan wilayah berbeda berkumpul untuk membicarakan kepentingan bersama mengenai pendidikan, kesehatan, pernikahan, hak-hak anak, dan perjuangan kemerdekaan nasional.

Penetapan dari tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu pada Kongres Perempuan Indonesia III tahun 1938, kemudian diresmikan sebagai Hari Nasional oleh Presiden Soekarno pada 1959. Menetapkan melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959, sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan dari peran perempuan dalam Republik Indonesia, berakar dari Kongres Perempuan Indonesia inilah pada saat berlangsungnya selama 4 hari bertempat di Yogyakarta dalam bulan Desember dan tahun 1928 yang telah menjadi tonggak kebangkitan gerakan perempuan secara nasional.

Tanggal ini dipilih untuk mengenang dimulainya kongres bersejarah tersebut dan merupakan peringatan secara nasional yang tidak serta bukan hari libur nasional. Artinya bahwa seorang sosok Ibu bukan hanya dari Ibu kandung saja tapi melainkan dari Ibu perempuan yang telah berjuang dalam meraih kemerdekaan kita dan negara menghargainya Pengorbanan serta perjuangannya dalam bentuk apresiasi bagi yang memiliki status memberikan untuk para Ibu-ibu, istri dan anggota masyarakat serta warga negara.

Dikutip dari buku Sejarah Organisasi Perempuan Indonesia (1928-1998) karya Mutiah Amini, perayaan Hari Ibu di Indonesia tidak terlepas dari Kongres Perempuan Indonesia pertama. Pelaksanaan kongres ini dimulai pada tanggal 22 Desember 1928. Kedudukannya di Indonesia Peringatan itu semata-mata ditujukan kepada jasa ibu-ibu kita yang dalam kehidupannya tak ada bandingannya seberapa besar jasa mereka pada kita.

Hari Ibu di Indonesia bukan hanya untuk merayakan sosok ibu secara biologis, tetapi juga seluruh perempuan Indonesia yang memiliki peran strategis dalam berbagai aspek kehidupan: pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Karena itu, Hari Ibu di Indonesia memiliki makna yang unik: perpaduan antara perayaan domestik dan simbol perjuangan perempuan dalam sejarah bangsa. Dalam perspektif kebangsaan, Hari Ibu mengandung pesan bahwa perempuan adalah bagian penting dari pembangunan nasional. Semangat ini sudah tercermin dalam gagasan kongres-kongres perempuan sejak era pergerakan nasional. Mereka memandang bahwa kemajuan bangsa tidak akan tercapai tanpa meningkatkan kualitas, pendidikan, dan hak-hak perempuan.

Makna kebangsaan Hari Ibu meliputi beberapa aspek: Partisipasi perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, seperti kontribusi tokoh Kartini, Dewi Sartika, Walanda Maramis, dan tokoh-tokoh perempuan lain. Penguatan proses dari lingkup Pendidikan Perempuan, yang menjadi salah satu agenda utama Kongres Perempuan 1928.

Kesadaran bahwa perempuan berperan sebagai pendidik pertama dalam keluarga, sehingga kualitas keluarga sangat bergantung pada kualitas perempuan.Komitmen Negara terhadap kesetaraan gender, yang tercermin dari berbagai kebijakan pemerintah dalam pendidikan, perlindungan perempuan, dan pemberdayaan ekonomi.

Jadi jelaskan proses intinya dari penetapan untuk Memperingati Hari Ibu pada tanggal 22 Desember tahun ini. Besar Apresiasi pemerintahan ini,sesungguhnya diberikan buat Ibu-ibu di Indonesia yang mempertaruhkan nyawanya dan konseptual pemikiran Bangsa Indonesia agar disegerakannya meraih kemerdekaan Indonesia yang secepat mungkin.

Perayaan Hari Ibu di Indonesia memiliki beberapa aspek yang menarik: Hari Ibu di Indonesia diperingati pada tanggal 22 Desember, yang merupakan hari lahirnya Kongres Perempuan Indonesia I pada tahun 1928. Kongres ini merupakan salah satu tonggak penting dalam perjuangan hak-hak perempuan di Indonesia. Makna: Perayaan Hari Ibu di Indonesia tidak hanya sekedar memperingati peran ibu sebagai orang tua, tetapi juga sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia untuk mencapai kesetaraan dan keadilan.

Tradisi: Perayaan Hari Ibu di Indonesia biasanya diisi dengan kegiatan seperti memberikan hadiah kepada ibu, mengadakan acara keluarga, dan melakukan kegiatan sosial untuk membantu ibu-ibu yang membutuhkan. Budaya: Perayaan Hari Ibu di Indonesia juga mencerminkan budaya Indonesia yang menghargai peran ibu dan perempuan dalam masyarakat.

Orientasi dari peringatan hari ibu itu saat penulisan melakukan renungan sejenak maka kita sudah memiliki beraneka ragam ratusan bahkan ribuan nilai-nilai budaya yang bisa mewujudkan dalam memperingatinya dengan bermacam-macam cara.

Tetapi menyadari secara mendalam dalam konsep Islam ini menjadi tolak ukur dasar bahwa sosok seorang ibu menjadikannya keberhasilan maksimal sangat penting bagi kehidupan anak-anaknya.

Dalam Islam, ibu kandung memiliki peran penting dalam pendidikan anak-anaknya. Beberapa konsep pendidikan dari ibu kandung dalam Islam: Madrasah Pertama, Ibu kandung dianggap sebagai “madrasah” (sekolah) pertama bagi anak-anaknya, di mana mereka belajar tentang akidah, moral, dan nilai-nilai Islam. Contoh yang Baik: Ibu harus menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya, menunjukkan perilaku yang Islami dan akhlak yang mulia.

Pendidikan Akidah: Ibu harus mengajarkan anak-anaknya tentang akidah Islam, seperti keimanan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari kiamat, dan takdir. Pendidikan Moral: Ibu harus membentuk karakter anak-anaknya dengan nilai-nilai moral seperti jujur, adil, sabar, dan kasih sayang. Pendidikan Spiritual: Ibu harus mengajarkan anak-anaknya tentang pentingnya hubungan dengan Allah, seperti shalat, puasa, dan berdoa. Pendidikan Sosial: Ibu harus mengajarkan anak-anaknya tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain, seperti sopan santun, menghormati orang tua, dan berbagi dengan orang lain.

Pendidikan Emosional: Ibu harus membantu anak-anaknya mengelola emosi mereka, seperti menghadapi kesulitan, mengontrol amarah, dan mengembangkan empati.Hari Ibu dalam Islam adalah Setiap hari dan wajib dirasakan, ibu kandung memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan akidah anak-anaknya. Oleh karena itu, ibu harus berusaha menjadi contoh yang baik dan memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anaknya.

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa genetika kecerdasan anak memang memiliki hubungan dengan ibu kandung. Berikut beberapa fakta menarik:Kromosom X, Ibu kandung memiliki dua kromosom X, sedangkan ayah hanya memiliki satu kromosom X. Kromosom X ini membawa gen-gen yang terkait dengan kecerdasan.

Genetika mitokondria : Mitokondria adalah organel sel yang berperan dalam produksi energi. Genetika mitokondria diwariskan hanya dari ibu kandung, dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa genetika mitokondria terkait dengan kecerdasan.

Studi ilmiah: Beberapa studi ilmiah telah menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki ibu kandung dengan IQ tinggi cenderung memiliki IQ yang lebih tinggi juga. Namun, perlu diingat bahwa kecerdasan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti pendidikan, nutrisi, dan stimulasi. Jadi, meskipun genetika kecerdasan anak berasal dari ibu kandung, faktor lingkungan juga berperan penting dalam membentuk kecerdasan anak. Sumber: Penelitian ilmiah dari Universitas Cambridge, Universitas Oxford, dan lain-lain.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Kemudian bapakmu”. “Ini bukti yang menunjukkan betapa Agungnya Kedudukan seorang Ibu dalam Islam.

Ibu, terimakasih atas segala yang telah ibu lakukan untuk saya, kasih sayang, pengorbanan dan doa dan dukungannya buat saya.***

Oleh:Irfan Maaruf, Guru Sekolah Penggerak SD Negeri 143 Kota Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
#IbuMuda #hari ibu #opini