Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Satu Perjalanan, Tiga Hadiah: Tenang, Tahu, dan Turut Menjaga di Eco-Learning Stay Rumah Runding Restorasi Gambut

Redaksi • Sabtu, 27 Desember 2025 | 15:36 WIB

Haris Gunawan, Peneliti Senior PUI Gambut Universitas Riau.
Haris Gunawan, Peneliti Senior PUI Gambut Universitas Riau.


Riau punya pengalaman bersama yang sulit dilupa: ketika langit memucat, mata perih, anak-anak batuk, dan masker jadi “seragam” harian. Setiap kemarau, kita seperti mengulang pertanyaan yang sama tahun ini asap datang lagi atau tidak?

Agar pertanyaan itu tidak jadi takdir, pencegahan harus hadir bukan hanya lewat kebijakan dan patroli, tetapi juga lewat cara publik memahami gambut. Karena karhutla di gambut bukan sekadar soal cuaca. Kemarau memang memicu, tetapi yang menentukan mudah tidaknya terbakar adalah kondisi lahan gambut yang kering. Gambut bisa dibayangkan seperti spons raksasa kalau basah, api sulit hidup; kalau kering, ia menjadi bahan bakar. Lebih berbahaya lagi, kebakaran gambut sering membara di bawah permukaan sehingga sulit dipadamkan dan menghasilkan asap tebal.

Di titik inilah Eco-Learning Stay Rumah Runding Restorasi Gambut di Desa Tanjung Leban, Bengkalis, menawarkan terobosa pendekatan: membuat isu gambut menjadi pengalaman yang mudah dipahami. Ini bukan wisata biasa. Ini ruang belajar berbasis alam dan komunitas, tempat orang bisa beristirahat, belajar, dan pulang membawa pemahaman baru. Satu perjalanan, tiga hadiah: tenang, tahu, dan turut menjaga.

Tenang, karena tempat ini menawarkan jeda yang nyata. Spot lanskap hijau, suara air dari kanal yang telah disekat, keceriaan suara burung berpadu hembusan angin segar bergesekan dedauanan, ritme harmoni kehidupan, dan suasana rumah kayu membuat orang berhenti sejenak dari hidup yang serba cepat. Di sini, “healing” tidak dijual sebagai gaya hidup mahal, tapi hadir sebagai pengalaman sederhana: berjalan, menghirup udara segar-bersih, mengamati, berbincang, lalu tidur lebih nyenyak.

Tahu, karena pembelajaran disusun tanpa menggurui. Programnya menggabungkan tiga hal: edukasi ekosistem gambut, praktik restorasi dan monitoring, serta pembelajaran komunitas. Peserta diajak melihat gambut sebagai sistem hidup: bagaimana air dijaga, bagaimana pemulihan dilakukan, dan mengapa pencegahan karhutla dimulai dari hal yang tampak sederhana—tata kelola air. Aktivitasnya dibuat ramah untuk publik: observasi lapangan, susur lingkungan, diskusi santai, permainan edukatif, refleksi, sampai jelajah biodiversitas yang membuat orang memahami gambut bukan sebagai “lahan kosong”, tetapi sebagai habitat yang kaya.

Turut menjaga, karena pengalaman lapangan sering mengubah cara pandang. Di lanskap Rumah Runding, restorasi tidak diposisikan sebagai urusan satu pihak. Ia diperlihatkan sebagai kerja bersama: masyarakat, perguruan tinggi, dan kemitraan multipihak. Pesan kuncinya sederhana: di gambut, air adalah keselamatan. Menjaga air berarti menurunkan risiko kebakaran. Dan ketika publik paham hubungan itu, pencegahan tidak lagi dianggap urusan “petugas pemadam”, melainkan urusan kebiasaan kolektif, tidak membakar lahan, saling mengingatkan, mendukung patroli, dan ikut menjaga sistem tata air.

Nilai penting Eco-Learning Stay bukan pada slogan “wisata edukasi”, tetapi pada dampaknya: ia memperkuat literasi gambut dengan cara yang menyenangkan, dan literasi adalah fondasi pencegahan jangka panjang. Kita tidak bisa berharap Indonesia umumnya dan Riau khususnya bebas asap jika pemahaman publik tentang gambut tetap kabur. Sebaliknya, ketika masyarakat melihat langsung dan mengerti, perubahan perilaku lebih mungkin terjadi dari rumah tangga sampai komunitas.

Menjelang 2026, kita membutuhkan lebih banyak ruang yang membuat orang pulih sekaligus paham: ruang yang menenangkan, tetapi juga menajamkan kesadaran. Rumah Runding memberi contoh bahwa restorasi bisa dikenalkan tanpa bahasa yang berat, tanpa jarak dengan publik. Ia mengubah isu gambut dari “cerita teknis” menjadi “pengalaman manusia” dan itu yang sering membuat pesan pencegahan menempel.

Jika kita ingin gambut Indonesia punya cerita baru bukan asap, bukan bencana melainkan napas yang lega, lanskap yang pulih, dan masa depan yang lebih aman, kita perlu gerakan kolektif yang konsisten dan beragam strateginya: penguatan tata kelola air di gambut, pemantauan dan respon dini, edukasi yang membumi, penguatan komunitas penjaga lanskap, hingga kemitraan multipihak yang benar-benar bekerja di lapangan. Dan jangan lupa: gambut yang terjaga juga berarti manfaat ekonomi yang lebih stabil—biaya kebakaran dan gangguan kesehatan menurun, aktivitas sekolah dan usaha tidak tersendat saat kemarau, serta muncul peluang ekonomi lokal berbasis alam seperti eco-learning dan kunjungan edukatif yang menghidupkan layanan warga (konsumsi, narasumber masyarakat, produk lokal) tanpa merusak ekosistem. Eco-Learning Stay Rumah Runding Restorasi Gambut menunjukkan salah satu jalur pentingnya: menjadikan pengetahuan sebagai pengalaman yang menyentuh, sehingga kepedulian lahir bukan karena disuruh, tetapi karena mengerti. Dari Gambut Riau, kita menyapa kegembiraan “the only one in the tropics”. Mari bergembira dengan berlibur di Rumah Runding Restorasi.

Back to Nature. Green Live Style!

Oleh: Haris Gunawan, Peneliti Senior PUI Gambut Universitas Riau.

Editor : Arif Oktafian
#Learning #eco #rumah #opini #restorasi gambut