MENGAWALI artikel ini, mari kita bersama-sama melakukan evaluasi dan mencoba menganalisis mengapa di negeri kita masih sulit mencari pejabat yang memiliki integritas tinggi. Banyaknya pejabat yang tersandung masalah dan kehilangan rasa takut, baik terhadap pengadilan dunia maupun pengadilan akhirat, menjadi pertanda bahwa integritas mereka belum teruji. Di mana letak kesalahannya? Mungkin karena beberapa hal berikut.
Pertama, kesalahan instrumen pada proses rekrutmen awal. Artinya, tim asesmen melakukan kekeliruan dalam memutuskan calon pejabat yang dianggap layak untuk diusulkan. Kedua, proses rekrutmen dicampuri kepentingan politik praktis serta adanya intervensi dari banyak pihak yang berkepentingan. Ketiga, banyak pejabat yang sebenarnya mampu dan memiliki integritas tinggi, namun yang bersangkutan merasa tidak masuk dalam lingkaran pusat kekuasaan. Akibatnya, muncul sikap apatis untuk bersaing dengan calon dari kalangan pusat kekuasaan. Keempat, adanya anggapan bahwa pegawai yang cepat menjadi pejabat adalah mereka yang berasal dari keturunan pejabat (dinasti), meskipun kapasitas dan kapabilitasnya belum memenuhi persyaratan.
Sepanjang proses rekrutmen pejabat masih berpedoman pada kedekatan dengan lingkaran kekuasaan dan politik dinasti, kita akan tetap pesimis bahwa rekrutmen tersebut mampu menghasilkan pejabat yang berintegritas. Hasilnya justru adalah lahirnya “pejabat yang bahagia dalam persekongkolan”, yang cepat atau lambat akan menimbulkan banyak persoalan dalam organisasi. Mungkin sudah perlu diwacanakan agar proses rekrutmen pejabat publik mengadopsi cara rekrutmen pejabat swasta. Fakta yang teramati menunjukkan hasil rekrutmen pejabat swasta justru jauh lebih unggul dalam memimpin dan menjalankan pekerjaannya dibandingkan pejabat publik.
Terdapat beberapa catatan penting untuk mendapatkan calon pejabat yang berintegritas (memiliki talenta, kapabilitas, menjunjung tinggi nilai etika, berorientasi pada pelayanan, adaptif terhadap perubahan teknologi dan lingkungan bisnis, serta berwawasan global). Pertama, integritas merupakan sebuah keterampilan yang harus dilatih terus-menerus, diajarkan, dan dipelajari sepanjang hidup sebagai rujukan dalam membuat keputusan berdasarkan fakta yang mengandung prinsip kebenaran.
Kedua, integritas berarti bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kebijakan organisasi serta kode etik profesi, meskipun dalam keadaan yang sulit untuk melakukannya. Ketiga, integritas terkait erat dengan kejujuran, yakni keselarasan antara perkataan dan tindakan sehari-hari. Menjadi orang jujur bukanlah bawaan lahiriah, melainkan perlu dilatih untuk mengatakan yang benar setiap hari hingga menjadi karakter. Keempat, integritas terhubung dengan kerendahan hati yang tulus tanpa maksud tersembunyi. Mari belajar memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya karena hal ini jauh lebih bermanfaat bagi perkembangan kepribadian. Kelima, integritas mengarah pada upaya membangun komitmen dan sikap tidak mementingkan diri sendiri. Komitmen yang tinggi berdampak pada meningkatnya motivasi dan kinerja, sebaliknya rendahnya komitmen akan menurunkan produktivitas. Keenam, integritas terhubung dengan keyakinan sebagai pondasi kehidupan; jika integritas baik, maka kehidupan akan baik. Integritas dibentuk melalui kebiasaan untuk menjadi diri sendiri dan tidak sibuk meniru kepribadian orang lain.
Sebagai kesimpulan, integritas harus dibangun dan dilestarikan sepanjang hidup. Bagi pejabat publik, integritas sangat penting untuk menjaga pengakuan profesionalnya. Pejabat yang tidak berintegritas berarti tidak profesional dalam menjalankan profesinya. Integritas ibarat benih yang ditanam sejak kecil, disirami, dan akan berbunga saat dewasa. Semakin rajin dirawat, ia akan tumbuh lebih cepat. Siapakah yang berkewajiban merawat integritas tersebut? Mungkin diri sendiri, orang tua, lingkungan sekolah, perguruan tinggi, atau organisasi tempat berkarier. Yang pasti, seorang pemimpin yang berintegritas harus memiliki sikap antusias yang didasarkan pada kebenaran, kejujuran, serta usaha tanpa kenal putus asa untuk mencapai kejernihan hati dalam bersikap dan berkarya. Semoga.***
Oleh: Machasin, Dosen Prodi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau (Unri)