Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Era Baru Pariwisata Riau

Redaksi • Selasa, 3 Februari 2026 | 11:19 WIB
Osvian Putra, Master Asesor Pariwisata, Anggota Tim Profesional Pariwisata Nasional-Kemenpar.
Osvian Putra, Master Asesor Pariwisata, Anggota Tim Profesional Pariwisata Nasional-Kemenpar.

PELANTIKAN beberapa kepala OPD (organisasi perangkat daerah) oleh Plt Gubernur Riau pada hari Senin, 26 Januari 2026 lalu, termasuk di antaranya Kepala Dinas Pariwisata Riau, menandai babak baru bagi pariwisata daerah. Kita ucapkan selamat kepada Kepala Dinas Pariwisata yang baru dalam mengemban amanah pembangunan dan pengembangan pariwisata Riau ke depan. Tahniah.

​Sektor pariwisata pada masa pemerintahan sekarang memiliki model yang berbeda dengan yang lama. Ada beberapa sebab; pertama, di kementerian pariwisata terjadi perubahan struktur kementerian. Dahulu, kementerian ini melingkupi sektor ekonomi kreatif dan secara ex-officio menteri pariwisata merangkap sebagai kepala badan ekonomi kreatif. Saat ini, pariwisata berdiri sendiri, begitu pula dengan kementerian ekonomi kreatif. Otomatis struktur organisasi di kementerian pun berubah.

​Kedua, faktor pengaruh lainnya adalah disahkannya UU (Undang-Undang) Pariwisata No. 18 Tahun 2025 yang merupakan pembaruan dari undang-undang sebelumnya, yaitu No. 10 Tahun 2009. Dalam model UU No. 10 Tahun 2009, pariwisata memiliki empat pilar yang terdiri dari kelembagaan, industri, destinasi, serta promosi. Sedangkan dalam UU terbaru No. 18 Tahun 2025 ini, paradigma pengembangan pariwisata berubah dengan model yang terdiri dari 12 ekosistem.

​Adapun maksud dari perubahan tersebut agar pariwisata tidak hanya sekadar menjadi bentuk industri, tetapi menjadi sebuah ekosistem yang holistik dan terpadu. Hal ini melibatkan lebih banyak kalangan masyarakat agar bisa mengambil manfaat sekaligus berperan aktif sebagai subjek dalam kepariwisataan. Selain itu, dalam hal pengelolaan destinasi, pengembangan harus menyesuaikan atau terintegrasi dengan tata ruang yang ada dan memperhatikan kepentingan mitigasi, terutama di daerah rawan bencana. Demikian pula soal pemasaran yang ke depannya harus berbasis data dan terkoordinasi agar ujungnya sektor pariwisata ini bisa tetap berkelanjutan dan memberi dampak positif untuk memajukan perekonomian masyarakat.

​Riau sendiri tentu sudah mempunyai modal dasar, antara lain Ripparprov (Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi) No. 5 Tahun 2022 yang masih relevan untuk dijadikan acuan. Banyak rencana pengembangan yang masih harus dikerjakan untuk mencapai target pengembangan pariwisata Riau ke depan. Namun, tentu ke depan harus tetap disesuaikan dengan perkembangan terkini terkait perubahan undang-undang pariwisata dan juga struktur pemerintahan yang berkaitan dengan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan tersebut.

​Selain itu, dengan telah ditetapkannya 125 agenda dalam KEN (Kharisma Event Nusantara) 2026—di mana Riau mendapatkan lima agenda, yaitu: Festival Perang Air di Kabupaten Kepulauan Meranti, Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi, Subayang Festival di Kabupaten Kampar, Bakar Tongkang di Kabupaten Rokan Hilir, serta Kenduri Riau di Kota Pekanbaru—tentulah juga bisa menjadi modal untuk pengembangan pariwisata Riau, terutama dalam jangka pendek pada periode tahun 2026. Daerah-daerah yang menjadi lokus kegiatan di atas secara otomatis akan mendapatkan efek positif untuk memicu perkembangan kepariwisataan di daerah masing-masing.

​Begitu juga dalam hal pengembangan SDM (sumber daya manusia), di mana kementerian pariwisata bekerja sama dengan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) pada tanggal 30 Desember 2025 lalu telah meluncurkan hampir 500 skema bersama pada 27 bidang kepariwisataan. Bidang tersebut mulai dari jasa pramuwisata, pimpinan perjalanan wisata (tour leader), hotel, rumah makan dan restoran, kafe dan rumah minum, spa, wellness, pemandu wisata gua, pemandu wisata olahraga air, pemandu wisata gunung, pemandu wisata memancing, konsultan pemasaran pariwisata, experiential learning, pemandu wisata paramotor, pemandu wisata snorkelling, golf, perencana destinasi, panjat tebing, pengelola desa wisata, pengelola homestay, jasa impresariat dan seni, angkutan transportasi wisata, dan lainnya. Dengan adanya skema-skema di atas, tentu selain berguna untuk kepentingan industri dalam hal pemaketan produk jasa wisata, pasti akan berguna pula untuk pengemasan paket pendidikan dan pelatihan serta asesmen berdasarkan standar kompetensi.

​Di Riau sendiri, arus lalu lintas wisatawan memiliki dua saluran utama. Pertama melalui pintu gerbang kedatangan udara, yaitu Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II yang saat ini telah memiliki cukup banyak penerbangan rute internasional, baik ke Malaysia maupun Singapura, yang dilayani oleh berbagai maskapai penerbangan nasional maupun asing. Jumlah penerbangan serta penumpang internasional cenderung selalu bertambah, apalagi semenjak pascapandemi tahun 2023 lalu. Kedua, Riau juga memiliki beberapa rute pelayaran internasional dari Dumai, Bengkalis, serta Selat Panjang ke beberapa kota di Malaysia mulai dari Melaka, Batu Pahat, serta Muar. Namun, agak berbeda dengan rute penerbangan, pada rute pelayaran ini penumpangnya didominasi oleh para pekerja serta pedagang lintas negara.

​Namun, di luar variabel di atas, perlu pula diperhatikan beberapa hal untuk mengatasi masalah dalam pengembangan pariwisata Riau ke depan. Pertama yang harus dicermati adalah fenomena mahalnya tiket penerbangan domestik. Hal ini berbanding terbalik dengan penerbangan internasional, terutama yang dilayani oleh maskapai LCC (low cost carrier). Harganya menjadi begitu jomplang sehingga masyarakat enggan bepergian di dalam negeri sendiri dan lebih memilih berwisata ke luar negeri. Artinya, peluang untuk mengembangkan pariwisata domestik terkendala oleh mahalnya tiket penerbangan ini.

​Di lain hal, sudah sama-sama diketahui bahwa cukup banyak daerah kita yang rawan bencana, sebagaimana bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir tahun 2025 lalu di mana banyak sekali terjadi banjir dan longsor di berbagai daerah. Bepergian di dalam negeri lewat udara mahal, sementara lewat darat rawan pada beberapa titik. Akhirnya, orang memilih berwisata ke luar negeri.

​Walaupun begitu, tentu saja sebagai kepala OPD, Kepala Dinas Pariwisata tidak boleh menyerah begitu saja dengan keadaan. Harus dicari solusi yang berdampak positif terhadap kemajuan sektor pariwisata ke depan. Para pelaku pariwisata dan operator tur yang ada di Riau sebenarnya bisa digerakkan untuk menggalakkan inbound tour guna mendatangkan wisatawan asing dari luar ke dalam negeri, khususnya ke Riau. Jika penerbangan internasional murah, artinya tiket dari luar ke dalam negeri tentu juga murah. Maka inilah saatnya kita memasarkan paket-paket wisata kita kepada wisatawan asing. Selain tiket murah, saat ini nilai tukar rupiah juga sedang melemah; 1 dolar AS hampir mencapai Rp17.000, dan 1 ringgit Malaysia sudah lebih dari Rp4.000. Artinya, pelemahan nilai tukar mata uang kita harusnya bisa menjadi kekuatan untuk membuat paket wisata kita bersaing dibandingkan dengan produk wisata negara lainnya.

​Memang selama ini kita terlihat tidak banyak mengadakan kegiatan pemasaran, terutama ke luar negeri, mungkin karena anggaran yang tidak memadai. Sementara itu kompetitor kita, baik badan promosi pariwisata milik negara lain maupun operator pariwisata serta operator kapal pesiar asing, begitu agresif merayu pasar melalui agen perjalanan mitra mereka, termasuk di Riau. Berbagai macam gimmick mereka buat, begitu juga insentif menarik seperti perjalanan gratis (Famtrip/familiarization trip) ke negara mereka. Operator pariwisata yang bersifat pragmatis tentu saja senang dengan fasilitas serta peluang tersebut. Menjualkan produk wisata asing memberikan insentif, sementara memajukan pariwisata sendiri sering kali tidak.

​Maka tugas beratnya adalah memberikan pemahaman bahwa sebagai anak bangsa kita harus paham bahwa pariwisata akan berdampak jika kita bisa mendatangkan wisatawan asing dari luar negeri, bukan sekadar mengirim warga kita berwisata ke mancanegara. Dengan banyaknya wisatawan datang, secara tidak langsung akan membuka lapangan pekerjaan pada berbagai bidang; hotel terisi, armada transportasi berjalan, objek wisata ramai, rumah makan padat, pemandu wisata dapat pekerjaan, dan pengusaha UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) juga dapat peluang menjual produk oleh-oleh. Mungkin perlu ditanamkan unsur bela negara untuk memajukan sektor pariwisata agar berdampak nyata ke depan.***

​Majukan pariwisata
Majukan negeri

#intourismwetrust

​Oleh: Osvian Putra (Master Asesor Pariwisata, Anggota Tim Profesional Pariwisata Nasional-Kemenpar)

Editor : Arif Oktafian
#pariwisata #opini #era baru #riau