Perang sedang berkecamuk dalam eskalasi di Timur Tengah. Amerika Serikat beserta sekutu, Israel tengah membobardir Iran dalam rangka pencaplokan wilayah yang diintervensi terhadap kebijakan peran ala Trump.
Sejak Februari lalu, Amerika Serikat gencar melakukan serangan atau invasi yang tidak terkendali terhadap wilayah yang menjadi pusat militer di Iran. Termasuk Teheran dan wilayah lainnya menjadi tidak terhindar adanya konflik perang yang memutus banyak aktivitas masyarakat.
Perang ini memakan 1.230 orang korban hingga awal Maret 2026 di mana korban termasuk petinggi Garda Revolusi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa pejabat tinggi lainnya. Dalam strategi maximum pressure (tekanan maksimum), perang ini dimaksudkan untuk mencegah digdaya Iran dalam kawasan Timur Tengah termasuk sumber daya alam Iran yaitu minyak mentah.
Tentu, Iran tidak diam saja melihat negaranya terlibat dalam peperangan. Dengan berbekal teknologi canggih, rudal dan drone meluluhlantakan sebagian markas persenjataan di Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan sejumlah kawasan yang berdekatan dengan Iran.
Menurut salah satu ahli pakar Timur Tengah dari Universitas John Hopkins Vali Nasr dikatakan bahwa bagi Iran perang 12 hari tahun lalu bukanlah kekalahan, perang tersebut berhasil membawa militer yang lebih unggul ke gencatan senjata sebelum mencapai tujuan perang sepenuhnya.
Meskipun awalnya terkejut, Iran mampu menahan serangan dahsyat Israel dan kemudian membalas. Strategi ini berakar pada persiapan selama beberapa dekade untuk skenario seperti ini.
Sejak revolusi 1979, doktrin militer dan kebijakan luar negeri Teheran telah dibentuk oleh upaya bertahan hidup dalam menghadapi potensi serangan eksternal. Iran telah melakukan rencana melancarkan serangan siber yang menargetkan suatu yang dianggap sebagai kerentanan Amerika seperti; jaringan transportasi, infrastruktur energi, sistem keuangan, dan komunikasi militer.
Secara pendek, prospek dari serangan Amerika Serikat terhadap Iran tengah menerangi konsekuensi yang sangat rumit bagi kekhawatiran regional yang meluas jauh melampaui perhitungan langsung Gedung Putih.
Sebagian besar negara di Asia khususnya Indonesia, meskipun memiliki government trust atau persaingan yang berbeda-beda dengan Iran. Eskalasi militer sebagai pertaruhan berisiko tinggi yang dapat menggoyahkan stabilitas kawasan selama perang bahkan bertahun-tahun mendatang. Krisis ini akan memulai dari potensi pengungsi dan gangguan ekonomi hingga mobilisasi milisi dan munculnya aktor-aktor radikal seperti Hamas dan Taliban.
Konsekuensi dari konflik secara luas dipandang jauh lebih berbahaya daripada tantangan yang ditimbulkan oleh Iran yang masih utuh dan diperintah oleh Republik Islam dimana telah mengalami perubahan yang sangat besar dan revolusioner.
Pada hal yang sama, peran aktor-aktor diplomatik di dunia Arab, seperti Arab Saudi, Oman, Qatar bahkan Uni Emirat Arab menggarisbawahi akan pentingnya diplomasi dan manajemen risiko di kawasan yang sangat sensitif terhadap volatilitas. Kemampuan negara-negara Timur Tengah untuk menyediakan jalur de-eskalasi bagi Amerika Serikat menyoroti bagaimana peran aktor regional bukan hanya sebagai audience passive atau penonton pasif tetapi juga pembentuk aktif hasil strategis.
Tentu, dengan segala perhitungan eskalasi versus pengekangan secara paksa mencerminkan pengakuan pragmatis bahwa kekacauan di Iran dapat menyebar ke seluruh Asia bahkan termasuk Indonesia. Konsep ini termasuk dalam kawasan strategis untuk merusak stabilitas regional dan kepentingan global.
Dalam konteks diplomasi, adanya keterlibatan yang terukur dan konsultasi regional muncul bukan hanya sebagai alternatif yang lebih disukai tetapi sebagai instrumen penting untuk menjaga keseimbangan yang rapuh dalam lanskap geopolitik yang sudah rapuh.
Skenario Serangan Amerika
Amerika belum berhenti untuk melancarkan serangan bertubi-tubi terhadap Iran. Eskalasi akan semakin meningkat dengan permintaan Trump untuk berunding dengan pimpinan tertinggi Iran pasca Khamenei dinyatakan tewas pada serangan pertama Amerika Serikat.
Persoalan ini dinilai semakin rumit dengan masuknya Israel, sekutu lama Amerika yang juga menyerang Iran. Komplikasi ini tentu berlangsung empat sampai lima minggu atau bahkan diperkirakan enam bulan pasca serangan jika permintaan Amerika tidak disanggupi oleh Iran.
Dalam teori realisme klasik dan struktural, teori ini menempatkan terjadi persaingan geopolitik serta ketidakpercayaan dimana konflik didorong oleh upaya Iran memperluas pengaruh di kawasan, yang dianggap ancaman eksistensial oleh Israel.
Tantangan utama dalam negosiasi ini adalah kurangnya kepercayaan (distrust), terutama setelah langkah militer agresif. Dalam konsep ini, Iran tidak mau saja menerima kekalahan yang menyerang wibawa dan kedaulatan negara yang sangat mahal harganya.
Sejak dulu, Iran yang terkenal dengan bangsa Persia menjadi sebuah imperium besar yang berpusat di wilayah Fars. Bangsa Persia, keturunan migran Iran kuno, terkenal karena Perang Yunani-Persia (499-449 SM) melawan negara-kota Yunani dimana telah mengalami ribuan kali peperangan hingga kini menjadi sebuah negara.
Jika kita lebih jauh lagi menelisik, upaya Trump disambut Israel yang juga memiliki ambisi melumpuhkan rezim di Teheran. Jika rezim tersebut tidak menyerah, Trump ingin mereka dihancurkan sehingga rakyat Iran akan memiliki kesempatan untuk turun ke jalan dan merebut kekuasaan.
AS dan Israel meyakini kekuatan militer mereka dapat memaksakan perubahan rezim pada musuh tanpa menimbulkan bencana. Konflik ini akan bergelut terhadap intimidasi kekuasaan sebagai orang pilihan AS-Israel yang mengkudeta wilayah Iran. Netanyahu juga disebut memiliki rencana untuk menghapus kepemimpinan Iran setelah serangan gabungan AS-Israel yang kemudian memicu konflik regional yang bahkan lebih luas.
Indonesia dalam Post-War Amerika-Iran
Dengan jelas Iran tidak mau negaranya mengalami turbulensi politik yang memacu pelemahan dalam stabilitas kawasan baik itu segi ekonomi maupun wilayah terdampak. Iran lebih memilih untuk mempertahankan kedaulatan negara dibandingkan mengangkat bendera putih.
Perang yang memakan waktu ini akan terus bergejolak seperti perang Rusia-Ukraina. Mengenai langkah Indonesia, kini kita berada pada posisi tawar yang tidak lebih tinggi atau bahkan tidak lebih rendah baik sekaligus menganut politik bebas aktif. Iran yang juga dikenal sebagai old friends bagi pemerintahan Indonesia termasuk di era Presiden Megawati dan SBY.
Selain itu, Indonesia juga mengalami pelemahan (depresiasi) nilai tukar rupiah per hari ini dengan merambat pada Rp17.000 per dolar AS. Belum lagi ini dapat menimbulkan panic buying bagi masyarakat termasuk emas sebagai safe haven dan harga minyak dunia (CPO) yang terus merangkak naik. Presiden Prabowo wajib mengambil langkah strategis terhadap isu perang ini apalagi posisi diplomasi kita yang semakin disegani banyak negara di dunia.
Dalam peta geopolitik Indonesia, kita menekankan prinsip politik bebas aktif yang di mana menekankan perundingan perdamaian. Indonesia tidak mau kehilangan tempat untuk memberikan strategi mediasi konflik ditengah upaya perundingan antara Amerika dengan Iran jika ini terjadi kedepannya. Pasca perang Amerika-Iran, Indonesia punya kesempatan bernegosiasi dan renegosiasi terkait fundamental dalam mengakhiri perang yang berkepanjangan.
Tidak sulit bagi penekanan Presiden Prabowo terhadap “One thousand friends are too few, one enemy is too many” yang dapat menemukan win-win solution dibalik kisruh perang tersebut. Apalagi negara Timur Tengah juga terdampak dengan adanya perang ini, terlebih negara-negara seperti diluar kawasan Teluk rentan terimplikasi pasokan minyak mentah dari Iran. Singkatnya, kita melihat apakah Indonesia akan memainkan peran penting sebagai kunci diplomasi perang Amerika-Iran. Semoga!.***
Oleh: Analis Madya Bidang Polhukam Asah Kebijakan Indonesia, Ricky Marpaung