Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Rangsang di Tepi Selat yang Tak Pernah Tidur

Tim Redaksi • Selasa, 19 Mei 2026 | 10:34 WIB
Nazaruddin Nasir, Pengamat energi bermastautin di Pekanbaru.
Nazaruddin Nasir, Pengamat energi bermastautin di Pekanbaru.

 Di peta dunia, Selat Melaka tampak seperti urat nadi perdagangan global. Jalur sempit yang memisahkan Sumatra dan Semenanjung Malaysia itu saban hari dilintasi ribuan kapal tanker, kapal kontai­ner, kapal curah, hingga kapal pengangkut energi dari Timur Tengah menuju Asia Timur. Ia salah satu jalur pelayaran tersibuk di muka bumi.

Namun bagi masyarakat Pulau Rangsang di Kabupaten Kepulauan Meranti, lalu lintas laut itu bukan sekadar simbol ekonomi dunia. Ia juga membawa ancaman yang perlahan menggerus daratan  sedikit demi sedikit. Abrasi di Pulau Rangsang kini bukan lagi cerita akademik di ruang seminar kampus. Ia sudah menjadi kenyataan yang dilihat warga setiap hari. Pohon kelapa tumbang ke laut. Jalan kampung amblas. Makam tua mendekati bibir ombak. Bahkan ada rumah warga yang dahulu jauh dari pantai, kini menunggu giliran dihantam gelombang.

Baca Juga: Sapi Kuantan dan Kemandirian Kurban Riau

Ironisnya, kerusakan itu berlangsung perlahan, nyaris tanpa suara. Tidak dramatis seperti tsunami. Tidak menggelegar seperti badai besar. Tetapi justru karena terjadi diam-diam, banyak orang gagal memahami betapa serius ancamannya. Selama ini abrasi di Rangsang sering hanya dijelaskan secara sederhana: ombak besar, mangrove rusak, lalu pantai terkikis. Penjelasan itu tidak salah, tetapi belum lengkap. Ada faktor besar lain yang jarang dibicarakan serius, yakni pengaruh Selat Malaka sebagai jalur transportasi laut superpadat.

Dalam ilmu oseanografi pantai, setiap kapal besar sebenarnya adalah “mesin pembangkit gelombang”. Kapal tanker raksasa yang melintas membawa energi gelombang sangat besar. Di laut lepas, ener­gi itu mungkin cepat menyebar. Tetapi di Selat Malaka yang relatif sempit dan dangkal, gelombang tersebut terus merambat hingga menghantam pesisir pulau-pulau kecil di sekitarnya. Masalahnya, Pulau Rangsang bukan pulau karang yang keras. Struktur geologinya didominasi tanah gambut, lumpur lunak, dan sedimen aluvial. Dengan karakter seperti itu, pantai Rangsang ibarat tubuh renta yang terus menerima pukulan kecil tanpa henti.

Baca Juga: (SALAH) Hasil Rapat Terbatas Menyatakan Indonesia Masuk Kondisi Darurat Siaga 1

Gelombang kapal mungkin terlihat sepele bila dilihat satu per satu. Tetapi bayangkan ribuan kapal melintas setiap hari, sepanjang tahun, tanpa jeda. Pantai menerima “ketukan” terus-menerus siang dan malam. Sedikit demi sedikit tanah menjadi retak, lumpur teraduk, lalu longsor ke laut.

Itulah yang disebut para ahli sebagai chronic coastal retreat-kemunduran garis pantai secara permanen dan sistematis. Belum lagi efek turbulensi baling-baling kapal besar yang mengganggu kestabilan sedimen dasar laut. Lumpur halus yang seharusnya mengendap di pesisir justru terangkat dan terseret arus. Akibatnya, pantai kehilangan material alami memperbaiki dirinya sendiri.

Padahal pantai berlumpur seperti Rangsang sangat bergantung pada suplai sedimen. Jika sedimen yang hilang lebih banyak daripada yang datang, maka abrasi akan terus menang. Di sinilah ironi besar itu muncul. Selat Melaka membawa keuntungan ekonomi dunia, tetapi pulau-pulau kecil di sekitarnya ikut membayar ongkos ekologis yang mahal. 

Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap kerusakan mangrove yang terjadi selama puluhan tahun. Dulu pesisir Meranti dikenal memiliki sabuk bakau yang sangat kuat. Mangrove itu bukan sekadar pohon liar pinggir laut. Ia adalah benteng alami yang memecah gelombang, menangkap lumpur, dan mengikat tanah gambut agar tidak mudah hanyut. 

Sejarah mencatat, pada era 1970 hingga 1980-an, penebangan bakau berlangsung masif. Kayu bakau dari pesisir timur Sumatra banyak diseludupkan ke Singapura untuk kebutuhan konstruksi pelabuhan, reklamasi, dan pembangunan kawasan industri. Ada ironi yang pahit di sana. Ketika gedung-gedung tinggi tumbuh megah di negeri seberang, sebagian benteng ekologis kita justru habis ditebang untuk menopang pembangunan itu.

Kini Akibatnya Mulai Kita Rasakan 

Saat mangrove hilang, Pulau Rangsang kehilangan tameng alaminya. Ombak dari Selat Melaka langsung menghantam daratan tanpa penghalang. Ditambah kenaikan muka laut akibat perubahan iklim global, abrasi menjadi semakin ganas. Celakanya, pendekatan penanganan sering bersifat tambal sulam. Cerucuk seadanya dipasang. Batu sedikit ditumpuk. Setelah rusak, diperbaiki lagi. Begitu terus berulang.

Padahal persoalannya jauh lebih kompleks. Abrasi Rangsang bukan sekadar masalah desa pesisir. Ini adalah persoalan geopolitik maritim, perubahan iklim, tata kelola pesisir, dan dampak ekonomi global terhadap pulau kecil. Karena itu penanganannya tidak bisa lagi setengah hati. Pemerintah perlu mulai memandang Rangsang sebagai kawasan strategis yang memerlukan perlindungan khusus. Rehabilitasi mangrove harus dilakukan secara besar-besaran dan ilmiah, bukan sekadar seremoni tanam bibit lalu selesai difoto.***

Oleh : Alumni Fakultas Perikanan Unri, NAZARUDDIN NASIR 

 

Editor : Bayu Saputra
#opini di riau pos #Opini riau pos