SUATU hari saya memberikan tugas sederhana kepada siswa: menulis paragraf pendek dalam bahasa Arab tentang aktivitas sehari-hari. Beberapa tahun lalu, tugas seperti ini biasanya menghasilkan tulisan yang beragam. Ada siswa yang masih salah memilih kosakata, ada yang keliru menyusun tata bahasa, dan ada pula yang mampu menulis dengan baik sesuai kemampuannya.
Kini situasinya berbeda. Sebagian tugas yang dikumpulkan terlihat hampir sempurna. Struktur kalimat rapi, pilihan kosakata tepat, dan susunan paragraf sangat baik. Namun ketika diminta menjelaskan kembali isi tulisannya secara lisan, beberapa siswa justru kesulitan. Mereka dapat menyerahkan tulisan yang bagus, tetapi tidak mampu menjelaskan bagaimana tulisan itu dibuat.
Fenomena tersebut semakin sering saya temui sejak hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) generatif seperti ChatGPT dan berbagai aplikasi penerjemah serta penulis otomatis. Dalam hitungan detik, siswa dapat menghasilkan teks bahasa Arab yang tampak akademis hanya dengan memasukkan instruksi tertentu. Sebagai guru Bahasa Arab, saya melihat perkembangan ini bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan tantangan besar bagi hakikat pembelajaran bahasa itu sendiri.
Baca Juga: Kajati Riau: Kolaborasi Penting dalam Penegakan Hukum, Terima Kunjungan Bea Cukai
Bahasa pada dasarnya bukan sekadar kumpulan kata dan aturan tata bahasa. Bahasa adalah alat berpikir. Ketika seseorang belajar bahasa, sesungguhnya ia sedang belajar mengorganisasi gagasan, menyampaikan pendapat, dan memahami dunia melalui simbol-simbol bahasa. Karena itu, tujuan pembelajaran bahasa tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan teks yang benar, tetapi juga kemampuan membangun makna dan mengkomunikasikan pemikiran.
Di sinilah pertanyaan penting muncul. Jika AI mampu menulis teks bahasa Arab yang baik untuk siswa, apakah siswa tersebut benar-benar sedang belajar berbahasa? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan karena pembelajaran bahasa sering kali masih berorientasi pada hasil akhir. Guru memberikan tugas menulis, siswa mengumpulkan tulisan, lalu guru memberikan nilai. Yang terlihat adalah produk.
Padahal proses berpikir yang melahirkan produk tersebut jauh lebih penting. Sebagai guru, saya menyadari bahwa teknologi bukanlah musuh pendidikan. Bahkan dalam pembelajaran Bahasa Arab, AI memiliki banyak potensi positif. AI dapat membantu siswa menemukan kosakata baru, memahami struktur kalimat, memeriksa kesalahan bahasa, dan berlatih percakapan. Bagi siswa yang selama ini kesulitan belajar secara mandiri, teknologi dapat menjadi pendamping belajar yang sangat membantu.
Baca Juga: Talam Durian Pekanbaru Pecahkan Rekor MURI, Pemko Bidik Kesejahteraan UMKM
Namun manfaat tersebut akan berubah menjadi masalah ketika AI tidak lagi digunakan sebagai alat belajar, melainkan sebagai pengganti belajar. Ketika siswa cukup menyalin hasil yang diberikan mesin tanpa memahami maknanya, proses belajar yang sesungguhnya tidak terjadi. Paulo Freire pernah mengkritik praktik pendidikan yang hanya menempatkan peserta didik sebagai penerima informasi. Menurutnya, pendidikan harus mendorong manusia untuk berpikir kritis dan membangun pemahaman secara aktif. Dalam konteks saat ini, kritik Freire terasa semakin relevan. AI dapat menghasilkan informasi dan jawaban dalam jumlah yang hampir tak terbatas, tetapi kemampuan berpikir kritis tetap harus dibangun oleh manusia.
Sebagai guru Bahasa Arab, saya melihat tantangan terbesar bukan pada kecanggihan AI, melainkan pada kemungkinan hilangnya kesempatan siswa untuk berlatih berpikir. Menulis dalam bahasa asing sejatinya merupakan proses intelektual yang kompleks. Siswa harus memilih kosakata, menyusun kalimat, mempertimbangkan makna, lalu menghubungkan ide-ide menjadi sebuah teks yang utuh. Dalam proses itulah kemampuan berpikir berkembang.
Ketika seluruh proses tersebut diserahkan kepada AI, siswa mungkin memperoleh tulisan yang baik, tetapi kehilangan kesempatan untuk bertumbuh sebagai pembelajar. Mereka mendapatkan jawaban tanpa mengalami perjuangan intelektual yang melahirkan jawaban tersebut. Karena itu, respons pendidikan terhadap AI tidak boleh sekadar berupa larangan. Larangan mungkin mampu membatasi penggunaan teknologi di ruang kelas, tetapi tidak akan menghentikan perkembangan teknologi di luar sekolah.
Baca Juga: Perkuat Sinergi Pengabdian, KAGAMA Riau Sambut Mahasiswa KKN-PPM UGM 2026
Yang lebih penting adalah mengubah cara kita mengajar dan menilai pembelajaran.Dalam pembelajaran Bahasa Arab, misalnya, tugas menulis dapat dikombinasikan dengan presentasi lisan, refleksi pribadi, diskusi kelompok, atau wawancara singkat mengenai proses penyusunan tulisan. Guru tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga menilai bagaimana siswa membangun pemahaman dan menghasilkan karya tersebut. Selain itu, siswa perlu diajarkan literasi AI sejak dini. Mereka harus memahami kapan AI dapat digunakan untuk membantu belajar dan kapan mereka harus mengandalkan kemampuan berpikirnya sendiri. Teknologi seharusnya memperluas kapasitas intelektual manusia, bukan menggantikannya.
Pada akhirnya, kehadiran AI memaksa para pendidik untuk kembali merenungkan tujuan pendidikan. Sebagai guru Bahasa Arab, saya percaya bahwa keberhasilan belajar bahasa tidak diukur dari seberapa sempurna tulisan yang dihasilkan siswa, melainkan dari seberapa jauh mereka mampu memahami, mengolah, dan mengkomunikasikan gagasan melalui bahasa yang dipelajari. Jika suatu hari semua tugas menulis dapat diselesaikan oleh AI, maka pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi apakah teknologi ini terlalu canggih. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah sekolah masih menjadi tempat siswa belajar berpikir, atau hanya menjadi tempat mereka belajar meminta mesin berpikir untuk mereka?(nto/c)
Oleh: Suci Fitria Utami, Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning
Editor : Edwar Yaman