Indonesia tengah mempersiapkan diri menyambut era tertinggi dalam generasi emas 2045 yang hanya beberapa tahun lagi terjadi kedepannya. Pada dasarnya, pemerintahan Presiden Prabowo sudah membuat blueprint dalam mengeskalasi dinamika politik bangsa dan negara Indonesia terhadap hal tersebut. Tentu, Indonesia juga akan menghadapi puncak bonus demografi tahun 2030 hingga 2040.
Bagi kita, tidak hanya pemerintah, tetapi segenap warga negara untuk melakukan peningkatan diri dan juga kapasitas sebagai individu maupun masyarakat. Utamanya, Indonesia wajib berbenah dan bersiap dalam lingkup stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi.
Nyatanya, peta jalan visi generasi emas 2045 sudah dibentuk di era pemerintahan Presiden Jokowi. Namun, langkah cepat Presiden Jokowi fokus kepada sektor infrastruktur dalam pembangunan rute jalan di Indonesia baik itu jalan nasional hingga jalan desa. Tidak kalah penting, transisi Presiden Jokowi menandai keberhasilan tongkat estafet Presiden Prabowo selama menjabat hingga periode pertama kepemimpinan. Alhasil, proyek-proyek penting dalam pembangunan di era Jokowi mampu dituntaskan oleh program-program unggulan meski tidak fokus pada sektor kritis seperti infrastruktur.
Baca Juga: Politik dan Tarik Ulur Kepentingan
Visi emas Presiden Prabowo melangkah lebih tinggi dan cepat dari pemerintahan sebelumnya terutama fokus pada sumber daya manusia dan penegakan hukum. Kepastian hukum dan pengelolaan peningkatan dan pemberdayaan pendidikan bagi generasi penerus mulai menemukan titik terang dengan hadirnya Sekolah Rakyat, kurikulum nasional dan internasional hingga pembangunan fisik sekolah.
Kemajuan teknologi dalam pembelajaran sekolah juga mengubah persepsi masyarakat bahwa sekolah hanya untuk orang mampu dan mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. Kemerataan pembangunan menjadi kunci kesuksesan penyelenggaran pendidikan wajib 12 tahun seperti era presiden sebelumnya. Hal ini, perlu mendapat atensi khusus dari masyarakat bahwa Presiden Prabowo serius untuk membenahi sekor-sektor utama dan kepentingan masyarakat luas demi terciptanya generasi emas yang berkualitas.
Pekerjaan Rumah Indonesia
Masih banyak sekali pekerjaan rumah bagi Indonesia. Disamping itu, Presiden Prabowo tetap menekankan berakar pada Asta Cita yang menjadi visi dan misi pemerintahan Indonesia saat ini dan kedepannya. Asta Cita terdiri dari 8 misi utama poin yaitu memperkokoh Pancasila, demokrasi, dan HAM, memantapkan pertahanan serta swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, hijau, dan biru, meningkatkan lapangan kerja berkualitas dan kewirausahaan, memperkuat pendidikan, kesehatan, sains, teknologi, dan kesetaraan gender, melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi nilai tambah, membangun dari desa dan pengentasan kemiskinan, reformasi hukum, birokrasi, pemberantasan korupsi dan narkoba, memperkuat keselarasan lingkungan, budaya, dan toleransi.
Baca Juga: Green Policing, Mangrove dan Blue Economy: Membangun Keamanan Ekologis di Provinsi Riau
Poin mengenai reformasi hukum menjadi salah satu quick win bagi program prioritas. Swasembada pangan juga terutama di beberapa sektor pangan seperti beras, jagung, gula konsumsi, kedelai, cabai besar, cabai rawit, bawang merah, daging ayam, telur ayam, dan garam.
Lain lagi, dengan swasembada energi seperti pengembangan biofuel (sawit untuk B50), bioetanol (tebu, singkong, jagung), percepatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Panas Bumi (PLTP), serta peningkatan kapasitas kilang minyak dan gas bumi nasional menjadi komoditas energi yang sangat diperhatikan oleh pemerintah. Kekinian, B50 sudah mulai dijual serentak di seluruh Indonesia dengan jumlah 57 persen atau mencakup 3.696 SPBU di seluruh Indonesia, terutama tersebar di wilayah Jawa, Sumatra, dan sebagian Sulawesi serta akan bertambah 100 persen di seluruh SPBU pada 1 Oktober 2026 setelah masa transisi energi berakhir.
Substitusi B50 sebagai pengganti minyak mentah akan sangat terbantu untuk mengisi sumber daya energi baru bagi perkembangan ekosistem energi di Indonesia. Penjajakan kerjasama secara G To G, B to B, dan B to C juga semakin memperkuat lini strategis dalam bentuk kesepakatan antar negara dalam konteks global.
Baca Juga: Perjalanan Program Profesi Insinyur, Ketika Pengalaman Bertemu Amanah
Baru-baru ini, Indonesia menjajaki kerjasama dengan Singapore dalam tema Singapore Leaders Retreat bulan Juli dan telah bersepakat dalam 26 bentuk komitmen kerjasama dalam MOU yang akan meningkatkan kerjasama kedua negara. Kerjasama tersebut terdiri dari energi dan transisi hijau, ekonomi dan investasi, pertahanan, dan sosial budaya. Lalu, kerja sama dengan Belarus juga telah menyepakati sejumlah kerjasama dengan 7 komitmen yaitu industri, kebudayaan, jasa keuangan, kesehatan, iptek, intelijen keuangan, dan akreditasi. Dan yang terbaru dengan negara India dalam bentuk kerjasama 16 komitmen ditengah kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia.
Menuju Negara Maju
Berdasarkan data World Bank, Indonesia mempersiapkan diri untuk serius menjadi negara maju. Walaupun dalam konteks pertumbuhan ekonomi, Indonesia kini tengah tertinggal dengan Vietnam dimana pada tahun 2026 pada pertumbuhan diproyeksikan berada di kisaran 6,0 persen hingga 6,8 persen. Berdasarkan data World Bank, negara lain seperti Filipina mencapai reklasifikasinya melalui ekspansi berbasis luas pada PDB tumbuh rata-rata sebesar 5,8 persen per tahun selama lima tahun terakhir dan berpotensi menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income).
Vietnam sendiri menjadi pusat ekonomi ASEAN dan dunia baru ditengah krisis ekonomi di negara lain seperti Venezuela, Suriah, dan Myanmar. Dengan sokongan kemudahan berinvestasi dan murahnya pengenaan pajak seperti Pajak Minimum Global (GMT) dengan kebijakan ini menerapkan pajak minimum efektif sebesar 15 persen untuk perusahaan multinasional besar (pendapatan global EUR 750 juta ke atas).
Baca Juga: Sertifikat Tanah Elektronik: Janji Kepastian Hukum di Tengah Keraguan Publik
Lalu, Pajak Pemotongan Pajak (WHT) kepada investor asing yang tidak memiliki pendirian tetap di Vietnam dikenakan tarif bervariasi antara 0,1 persen hingga 10 persen atas barang dan jasa yang disediakan. Dan juga, Pajak Pengiriman Laba (Profit Remittance Tax) yaitu pengiriman dividen atau laba ke luar negeri bebas dari pajak tambahan menjadikan Vietnam sebagai negara berpotensi mempunyai peran yang sentral dan krusial sebagai pemain baru di iklim sektor-sektor penting seperti semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), dan logistik sehingga ini berbuah modal besar bagi kemajuan negara tersebut.
Rasanya Indonesia wajib belajar banyak dalam mengelola eksosistem negara ASEAN seperti Vietnam dan Filipina. Bagaimana kekuatan dua negara tersebut bangkit dari keterpurukan ekonomi di masa lalu. Pelajaran penting untuk mengubah mindset pemerintah dan masyarakat agar mempunyai kreativitas dan pentingnya inovasi bagi perkembangan ekonomi dalam konteks foreign direct investment di Indonesia.
Capaian positif selama hampir 2,5 tahun Presiden Prabowo juga perlu diapresiasi dan mendapat perhatian positif. Bukan hanya sekadar angka belaka dalam matematika ekonomi disegala pencapaian sektor-sektor krusial seperti program makanan bergizi gratis, Koperasi Desa Merah Putih, Koperasi Nelayan Merah Putih, swasembada berasa, dan energi menjadi sebuah hal yang layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya dikarenakan tidak ada pemerintahan yang sempurna tanpa dukungan penuh rakyat bagi pembangunan dan kemajuan negara Indonesia. Oleh sebab itu, masyarakat juga mendukung kinerja dan program-program pemerintah menjadi negara maju serta mencetak generasi emas 2045.***
Editor : Arif Oktafian