Jelajah APRI dan Rumah Tuan Kadi

Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 10:20 WIB
Suhardi Behrouz. (Ketua Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Riau)
Suhardi Behrouz. (Ketua Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Riau)

 

Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) tahun ini sudah berusia tujuh tahun. Sebagai  organisasi profesi yang masih muda, terus berusaha untuk menempa diri agar pondasinya menjadi kukuh, mumpuni  dan berkontribusi untuk negeri. APRI tidak hanya ingin dipandang sebagai sebuah organisasi profesi ansich yang sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak bisa dirasakan kehadirannya oleh masyarakat.

Untuk membuat organi­sasi terus menghirup “udara bersih”, jelajah menjadi pilihan yang bijaksana. Bukan jelajah rantau nan jauh, tapi jelajah negeri sendiri. Hal ini dilakukan untuk menjemput nilai-nilai yang telah diwariskan para pendahulu negeri. Pertama, tahu tempat berdiri. Nilai ini ditimba dari jelajah APRI Riau dengan ziarah ke komplek makam Marhum Pekan yang berada samping Masjid Raya Pekanbaru. 

Aktivitas ini bukan hanya setakat do’a dan istighosah saja, namun ada nilai yang hendak dipahami dan itu dijadikan pedoman dalam menjalankan tugas. Apa yang diperoleh pada hari ini tidak terlepas dari kontribusi para pendiri negeri. Jasa itu hendaklah dikenang dan jangan dicemari dengan tingkah laku yang tercela dan yang paling penting, kehadiran di dunia ini hanyalah sementara. Bila, nilai tahu tempat diri ini dipahami dengan baik oleh penghulu, alamat kuatlah kakinya dan terus tanpa henti berkontribusi untuk negeri

Baca Juga: Pilkada Berikutnya, Dipilih Rakyat Langsung atau Campur Tangan Elite?

Kedua, teguh pada nurani. Nilai ini ada pada jelajah di rumah Tuan Kadi. Rumah yang dibangun pada tahun 1895 ini bukan hanya rumah singgah biasa. Ini rumah singgah raja. Dan memiliki peran yang signifikan pada zamannya serta sarat dengan mutumanikam yang berharga. 

Sebagai tempat persinggahan, Rumah Tuan Kadi tidak hanya untuk melepas penat ragawi, namun juga untuk menimba air ruhani. Apa yang membuat raja singgah di rumah Tuan Kadi? Bukan hanya karena berada di pinggir sungai, tapi karena tumbuh rasa percaya, selanjutnya melahirkan rasa aman dan nyaman. Dari mana rasa itu semua hadir? Dari integritas  yang hadir dalam diri sang Tuan Kadi.

Nilai ini jugalah yang mesti dimiliki tuan kadi-tuan kadi abad 21 ini. Jangan sampai mencampakkan integritas dan meninggalkan nurani dalam bekerja. Bila ini yang terjadi, maka itu kan menjadi bencana dahsyat dan kiamat bagi diri. Hannah Arendt mengingatkan, bahwa bahaya terbesar birokrasi bukanlah lambannya pelayanan atau rumitnya prosedur, melainkan matinya hati nurani. 

Baca Juga: Peluang Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi Riau pada Semester II 2026

Ketika seseorang lebih bangga menjadi pelaksana perintah daripada manusia yang berpikir, ia perlahan kehilangan kemampuan membedakan antara yang  salah,  dan yang benar, antara yang diperintah dan yang bermoral. Antara loya­litas profesionalitas dan yang menanggalkan inte­gritas. Pada  titik itu, jabatan berubah menjadi alat atau tameng untuk menghindari tanggung jawab etis.

Ketiga, tumbuh rasa peduli. Penghulu mesti memiliki rasa empati, simpati dan peduli pada masyarakat. Hal ini tentu ditunjukkan dalam memberi pelayanan yang terbaik. Tidak mengenal kasta dalam memberikan pelayanan. Perbaikan pelayanan tidak mesti diukur dengan imbalan. Jelajah APRI dengan berbagi kepada masyarakat yang lemah adalah bentuk implementasi nilai kepedulian. Sekaligus penasbihan bahwa pelayanan APRI tidak berhenti dalam bilik-bilik birokrasi semata.

Sebagai bagian dari Kementerian Agama, Penghulu dalam bumbung APRI harus mampu menjadi teraju dalam menjaga integritas dan profesionalitas. Selaras dengan pesan Menteri Agama Nasaruddin Umar, bahwa ukuran keberhasilan dan tolok ukur utama kementerian Agama bukanlah piagam atau hasil penilaian di atas kertas, melainkan kedekatan dengan umat dengan ajaran agamanya serta keteladan nyata di tengah masyarakat.

Baca Juga: Antara Indonesia, Generasi dan Emas

Tiga nilai inilah yang hendak dijemput dari jelajah APRI Riau ke Rumah Tuan Kadi sempena hari lahirnya yang ke 7. Bila ketiga nilai ini bisa diejawantahkan, tuan kadi-tuan kadi abad 21 ini akan selalu dinanti kontribusi, pengabdian, dan teladannya oleh masyarakat. Dan ibarat berlayar di lautan luas APRI akan bisa berlayar dengan selamat sampai ke pulau tujuan.***

 

Editor : Arif Oktafian
APRI Asosiasi Penghulu Republik Indonesia rumah tuan kadi