Seorang pendayung yang terlalu cepat dapat merusak keseimbangan, sedangkan yang terlambat menahan laju perahu. Karena itu, kemenangan tidak semata-mata lahir dari lengan yang kuat. Ia tumbuh dari kemampuan menahan ego, membaca gerak kawan, dan menyatukan tenaga menuju tepian yang sama.
Irama kebersamaan itu terasa dekat dengan kehidupan masyarakat Riau. Festival Pacu Jalur kembali digelar di Kuantan Singingi pada 19-23 Agustus 2026. Perhelatan itu berakhir hanya dua hari sebelum umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada 25 Agustus. Dua momentum ini mempertemukan kita pada satu pertanyaan: nilai apa yang dibawa pulang setelah perayaan usai?
Baca Juga: Hadiah Kemerdekaan
Masjid, sekolah, kantor, dan lingkungan masyarakat akan dipenuhi selawat, ceramah, serta kisah keteladanan Rasulullah. Namun, gema peringatan tidak seharusnya berhenti ketika acara usai. Apakah Maulid hanya menggerakkan bibir untuk berselawat, atau juga tangan untuk menjaga amanah dan menolong sesama?
Ketika Seremoni Belum Menjadi Teladan
Di sinilah Maulid perlu dibaca secara lebih jujur. Kegiatan keagamaan boleh semakin ramai, tetapi tanggung jawab sehari-hari belum tentu ikut menguat. Kita mudah mengutip ajaran nabi tentang kejujuran, tetapi masih menoleransi pekerjaan sekadarnya, keterlambatan yang dianggap biasa, dan janji yang terus ditunda. Nasihat persaudaraan kerap terdengar, sementara kebiasaan menghakimi tumbuh subur di media sosial.
Baca Juga: Menjaga Keluarga, Menjaga Generasi: QS At-Tahrim Ayat 6 Fondasi Pencegahan HIV/AIDS
Simbol-simbol keislaman terlihat semarak, tetapi tetangga yang kesulitan kadang luput dari perhatian. Jabatan pun kadang digunakan untuk mendahulukan kelompok sendiri. Persoalan kita mungkin bukan kekurangan nasihat keagamaan, melainkan terputusnya hubungan antara apa yang diperingati dan yang benar-benar dikerjakan.
Maulid seharusnya menjadi ruang untuk menata diri. Menata diri berarti berani menilai arah hidup, menghentikan kebiasaan keliru, menunaikan tanggung jawab, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memulihkan amanah yang terabaikan. Al-Qur’an dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 menempatkan Rasulullah sebagai teladan. Karena itu, Maulid menjadi bermakna ketika kelahiran nabi menginspirasi tumbuhnya akhlak kenabian dalam kehidupan umatnya.
Mengayuh Amanah, Menghidupkan Rahmah
Amanah bukan urusan mereka yang memegang jabatan saja. Ia hadir dalam setiap peran. Aparatur menjaga mutu pelayanan, guru memelihara kualitas pendidikan, orang tua membentuk karakter anak, dan pedagang memastikan barang sesuai janji. Mahasiswa menjaga kejujuran dalam tugas, pemimpin mempertanggungjawabkan anggaran, sementara warga cermat sebelum memercayai dan menyebarkan informasi.
Baca Juga: Peran Proaktif Arsiparis sebagai Fondasi Pengambilan Keputusan Menuju Masa Depan Bangsa
Krisis amanah tidak selalu muncul dalam perkara besar. Ia dapat bermula dari laporan yang dimanipulasi, pekerjaan asal-asalan, janji yang terus ditunda, hingga kewenangan kecil untuk mengutamakan orang terdekat. Mengayuh amanah berarti menjalankan tanggung jawab secara jujur, meski tidak selalu ada yang melihat.
Dalam Pacu Jalur, satu orang tidak mungkin membawa perahu panjang itu menuju kemenangan seorang diri. Setiap orang harus menjalankan perannya dan percaya bahwa pendayung di sebelahnya melakukan hal yang sama. Begitu pula kehidupan bersama. Amanah menjadi kekuatan ketika setiap orang menjalankan bagiannya tanpa menunggu yang lain berbuat lebih dahulu.
Keteladanan nabi juga perlu dihidupkan melalui rahmah atau kepedulian kepada sesama. Rahmah bukan sekadar rasa iba, melainkan kesediaan hadir ketika orang lain kesulitan. Keberagamaan karena itu tidak cukup tercermin dari kesalehan pribadi, tetapi juga dari cara kita memperlakukan anak yatim, lansia, keluarga miskin, pekerja kecil, dan tetangga yang membutuhkan pertolongan.
Baca Juga: AI untuk Indonesia Maju: Jangan Takut, Mari Bijak Memanfaatkannya
Nilai ini relevan bagi masyarakat Riau di perkotaan, pedesaan, pesisir, maupun aliran sungai. Gema selawat semestinya menemukan wujud sosial dalam kepedulian, sehingga kecintaan kepada Nabi tidak hanya terucap, tetapi hadir dalam cara kita memperlakukan sesama.
Ruang digital pun membutuhkan irama yang sama. Pertengkaran kerap bermula dari reaksi yang terlalu cepat dan emosi yang tidak terkendali. Informasi dibagikan sebelum diperiksa, pendapat dibalas dengan penghinaan, bahkan identitas agama kadang dipakai untuk membenarkan kemarahan.
Meneladani nabi juga berarti belajar menahan diri, menjaga ucapan, dan menghormati orang yang berbeda pandangan. Seorang pendayung tidak dapat mengayunkan dayung sesuka hati karena geraknya memengaruhi seluruh jalur. Demikian pula di media sosial, setiap unggahan dapat berdampak luas. Sebelum menekan tombol “kirim” atau “bagikan”, kita perlu memastikan bahwa yang disebarkan tidak merusak kepercayaan dan persaudaraan.
Baca Juga: Ujian Berat Pengelolaan Anggaran Bengkalis
Sehaluan dalam Tindakan
Ketiga nilai itu—amanah, rahmah, dan pengendalian diri—bermuara pada satu sikap: sehaluan. Sehaluan bukan berarti semua orang harus berpikir sama atau meniadakan kritik dan perbedaan. Kebersamaan justru diuji ketika kita mampu berbeda tanpa saling merendahkan, berkompetisi tanpa kecurangan, serta menjalankan peran dengan jujur.
Keseragaman bukanlah syarat kebersamaan. Para pendayung boleh memiliki kekuatan berbeda, tetapi memahami bahwa tujuan tidak akan tercapai jika masing-masing bergerak menurut iramanya sendiri. Demikian pula kehidupan bermasyarakat: kepentingan bersama perlu ditempatkan di atas ego pribadi maupun kelompok.
Agar tidak berhenti sebagai seremoni, Maulid perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang dapat dirasakan. Kantor, sekolah, kampus, organisasi, dan komunitas dapat menjadikannya momentum untuk mengevaluasi amanah: apakah pelayanan sudah baik, tanggung jawab dijalankan, dan kepercayaan publik dijaga.
Baca Juga: Riau 69 Tahun: Kaya Sumber Daya, Miskin Tata Kelola?
Peringatan Maulid juga dapat diisi dengan gerakan kepedulian: membantu keluarga rentan, mendukung pendidikan anak, membersihkan lingkungan, atau memperkuat solidaritas warga. Pada saat yang sama, Maulid dapat menjadi ruang memperbarui etika publik dengan menjaga kesantunan, kejujuran informasi, serta penghormatan terhadap perbedaan.
Keberhasilan Maulid tidak semestinya hanya diukur dari ramainya jamaah dan meriahnya acara, tetapi dari nilai-nilai yang tetap hidup setelah panggung dibongkar.
Riau memiliki kekayaan tradisi sekaligus kehidupan keagamaan yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan itu tidak berhenti sebagai simbol, tetapi tumbuh menjadi perilaku nyata. Maulid mengingatkan kita tentang amanah dalam tanggung jawab, rahmah dalam kepedulian, serta pengendalian diri dalam menghadapi perbedaan.
Baca Juga: URI: Ketika Ambisi Besar Mendahului Tata Kelola Pendidikan
Seperti jalur yang hanya melaju ketika para pendayung menjaga irama, kehidupan bersama juga membutuhkan orang-orang yang bersedia mengayuh dalam arah moral yang sama. Jangan sampai peringatan kelahiran Nabi berlangsung meriah, tetapi kita gagal menghadirkan kembali akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.***
Editor : Arif Oktafian