Minas Membuka Jalan Baru Enhanced Oil Recovery

Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:10 WIB
MUSLIM. (GURU BESAR PRODI TEKNIK PERMINYAKAN FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ISLAM RIAU)
MUSLIM. (GURU BESAR PRODI TEKNIK PERMINYAKAN FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ISLAM RIAU)

Enam bulan setelah injeksi perdana Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Area A Lapangan Minas pada 23 Desember 2025, kabar mengenai kinerja proyek ini menjadi sangat penting bagi masa depan produksi minyak Indonesia. Ketika proyek tersebut diluncurkan, PHR menempatkan CEOR sebagai salah satu strategi untuk menghidupkan kembali potensi lapangan tua yang telah berproduksi sejak era awal industri minyak Indonesia (1952). 

Pemberitaan pada 24 Desember 2025 oleh berbagai media nasional, termasuk Kompas, Dunia Energi, dan Bloomberg Technoz, menegaskan ekspektasi bahwa respons produksi akan mulai terlihat sekitar enam bulan setelah injeksi. PHR menargetkan tambahan produksi puncak sekitar 2.800 barel minyak per hari (BOPD) dari Stage-1 Area A, sementara secara lebih luas penerapan CEOR di Minas diarahkan untuk meningkatkan perolehan minyak sebesar sekitar 12-16 persen dari Original Oil in Place (OOIP). 

Hal yang menarik, pada Juni 2026, sekitar enam bulan setelah injeksi, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa proyek EOR di Area A telah menunjukkan hasil nyata, dengan produksi dilaporkan meningkat hingga 300 persen diban­dingkan kondisi sebelumnya dan dinilai sesuai dengan target yang direncanakan. 

Baca Juga: Maulid dan Pacu Jalur: Mengayuh Kembali Amanah

Angka 300 persen tersebut tentu perlu dibaca secara hati-hati, ia menunjukkan peningkatan relatif pada area/pola yang dievaluasi, bukan berarti produksi Minas secara keseluruhan bertambah 300 persen atau bahwa tambahan 2.800 BOPD telah dicapai secara permanen.

Karena itu, memasuki Agustus 2026, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membuktikan bahwa CEOR dapat memberikan respons awal, melainkan memastikan bahwa respons tersebut dapat dipertahankan, dikonversi menjadi incremental oil yang terukur, ekonomis, aman, dan konsisten dalam jangka menengah hingga satu tahun bahkan lebih. 

Hal ini sangat penting karena EOR pada dasarnya bukan teknologi “sekali injeksi langsung menghasilkan”, melainkan proses reservoir yang memerlukan waktu untuk propagasi chemical front, mobilisasi minyak residual, perubahan mobility ratio, perbaikan sweep efficiency, serta komunikasi antara sumur injeksi dan produksi. 

Baca Juga: Hadiah Kemerdekaan

Dalam CEOR di Lapangan Minas, PHR menggunakan kombinasi alkali, surfaktan, dan polimer atau ASP. Surfaktan berfungsi menurunkan interfacial tension antara minyak dan air sehingga minyak yang terperangkap oleh gaya kapiler dapat dimobilisasi; polimer meningkatkan viskositas fluida injeksi sehingga mobility ratio menjadi lebih baik dan penyapuan reservoir meningkat; sedangkan alkali membantu membentuk atau mempertahankan kondisi kimia yang mendukung efektivitas surfaktan sekaligus mengurangi sebagian kehilangan chemical akibat interaksi dengan batuan. Dengan demikian, keberhasilan enam bulan pertama merupakan milestone yang sangat positif, tetapi belum boleh dianggap sebagai hasil akhir.

Secara teoritis, CEOR merupakan bentuk tertiary recovery yang bekerja setelah mekanisme primary recovery dan secondary recovery termasuk waterflood tidak lagi mampu menguras minyak secara optimal. Tantangan terbesar pada reservoir mature seperti Minas (di produksi sejak 1954) adalah keberadaan residual oil yang masih tertinggal di pori-pori batuan serta buruknya penyapuan (sweep) akibat keberagaman (heterogenitas) reservoir, mobility ratio, channeling, dan water breakthrough. 

Itulah sebabnya keberhasilan CEOR tidak hanya ditentukan oleh formula chemical, tetapi merupakan kombinasi antara kualitas reservoir characterization, desain pattern, compatibility chemical dengan formation water dan crude oil, adsorption, salinity, temperatur, injectivity, fracture containment, surveillance, dan kemampuan fasilitas permukaan menangani produced fluid. Literatur internasional memperlihatkan bahwa chemical EOR dapat berhasil secara komersial apabila proses screening, pilot design, surveillance dan scale-up dilakukan secara disiplin. 

Baca Juga: Menjaga Keluarga, Menjaga Generasi: QS At-Tahrim Ayat 6 Fondasi Pencegahan HIV/AIDS

Daqing Oilfield di China, misalnya, menjadi salah satu contoh paling kuat keberhasilan polymer flooding; publikasi dari Society Petroleum Engneer (SPE) mencatat bahwa polymer flooding telah menghasilkan incremental recovery yang signifikan dan lebih dari 12 tahun, menjadi bagian penting produksi lapangan tersebut. Mangala Field di Rajasthan, India, juga memberikan pelajaran penting. 

Pilot polymer flood menunjukkan hasil yang mendorong implementasi full-field, sedangkan pilot ASP kemudian memperlihatkan mobilisasi minyak dan penurunan water cut sehingga ASP dikembangkan lebih lanjut secara bertahap. Pada skala waktu yang lebih pendek, pengalaman polymer flooding di sebuah mature waterflood field yang dipublikasikan mela­lui jurnal SPE menunjukkan bahwa sekitar enam bulan setelah injeksi polymer dimulai, produksi minyak mulai meningkat dan produksi air menurun secara nyata, dengan estimasi incremental recovery sekitar 6-8 persen OOIP. 

Pengalaman Indonesia sendiri juga tidak boleh diabaikan. Field trial surfactant Huff-and-Puff di Meruap Field menunjukkan respons produksi dalam periode sekitar dua bulan: salah satu sumur meningkat dari 14 menjadi 23-28 BOPD dan sumur lainnya dari 29 menjadi 40-46 BOPD setelah injeksi surfaktan. 

Baca Juga: Peran Proaktif Arsiparis sebagai Fondasi Pengambilan Keputusan Menuju Masa Depan Bangsa

Sementara itu, pengalaman Handil menunjukkan bahwa implementasi chemical EOR harus memperhitungkan konsekuensi operasional di permukaan; penggunaan surfaktan dapat menimbulkan masalah foaming pada oily-water treatment sehingga perlu penyesuaian clarifier dan defoamer. Pelajaran tersebut sangat relevan bagi Lapangan Minas: indikator keberhasilan enam bulan dan satu tahun seharusnya tidak hanya berupa oil rate, tetapi juga incremental cumulative oil, water cut, pressure response, chemical breakthrough, injectivity index, chemical utilization per incremental barrel, fasilitas produksi, dan keekonomian proyek. 

Jika pada Desember 2026 satu tahun setelah injeksi kenaikan produksi tetap stabil atau berkembang sesuai model, maka Area A dapat dikategorikan sebagai proof of concept yang sangat kuat untuk mempercepat pengembangan Area B, C, D, E, dan F. Sebaliknya, jika terjadi penurunan respons, itu bukan otomatis berarti CEOR gagal; justru data tersebut harus digunakan untuk memperbaiki reservoir model, chemical formulation, injection rate, pattern management dan surveillance sebelum ekspansi ke Area berikutnya.

Namun, pengalaman global juga memperlihatkan bahwa CEOR tidak selalu berjalan mulus. West Salym ASP Pilot di Rusia merupakan contoh yang sangat relevan untuk menjadi pembelajaran bagi Lapangan Minas. Proyek tersebut sebenarnya berhasil memobilisasi minyak dan menurunkan water cut dari sekitar 98 persen menjadi 88-90 persen, dengan estimasi incremental recovery lebih dari 16 persen STOIIP saat pilot project. 

Baca Juga: AI untuk Indonesia Maju: Jangan Takut, Mari Bijak Memanfaatkannya

Namun, keberhasilan subsurface tersebut disertai persoalan serius di sisi operasi seperti chemical yang kembali ke sumur produksi menyebabkan carbonate scaling, kegagalan ESP, stable oil-water emulsion, keterbatasan injectivity dan vertical sweep tidak merata. Artinya, bahwa proyek EOR dapat “berhasil secara reservoir” tetapi mengalami tekanan keekonomian dan operasional apabila fasilitas permukaan, artificial lift, chemical handling, water treatment dan flow assurance tidak dipersiapkan sejak awal. 

Pengalaman Warner ASP Flood di Kanada juga menunjukkan bahwa scale dapat mulai menjadi masalah setelah 8 bulan injeksi dan kemudian berkembang menjadi persoalan full-field, termasuk penurunan umur pompa, kenaikan tekanan gathering system hingga gangguan fasilitas. 

Bagi Lapangan Minas, lesson learned ini harus diterjemahkan menjadi risk register yang diperbarui secara berkala, surveillance berbasis tracer dan pressure transient, monitoring chemical concentration, scale prediction, produced-water treatment, corrosion monitoring, serta pengendalian fracture dan conformance. Ada pula pelajaran hukum yang sangat penting dari sejarah EOR Indonesia. 

Baca Juga: Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau: “Menuju Negeri Melayu Berintegritas, Amanah, dan Bebas Korupsi”

Sengketa PT Lirik Petroleum dengan Pertamina terkait kontrak Enhanced Oil Recovery pada blok Pulai Utara dan Pulai Selatan menunjukkan bahwa risiko EOR bukan hanya teknis dan finansial, tetapi juga contractual dan legal. Berdasarkan laporan keuangan Pertamina, Lirik mengajukan perkara ke International Chamber of Commerce (ICC) dengan dasar dugaan pelanggaran kontrak EOR setelah permohonan komersialisasi operasi ditolak; putusan ICC pada bulan Februari 2009 mewajibkan pembayaran ganti rugi sekitar 34,5 juta dolar AS. 

Kasus tersebut tidak tepat disebut sebagai “kegagalan teknologi CEOR” dalam pengertian reservoir, tetapi merupakan pelajaran bahwa proyek EOR dapat melahirkan sengketa apabila hak dan kewajiban para pihak, mekanisme approval, ownership atas formula/teknologi, milestone, performance guarantee, perubahan lingkup pekerjaan, commerciality criteria, cost recovery, serta mekanisme penyelesaian sengketa tidak dirumuskan secara jelas. 

Karena itu, Lapangan Minas harus dijadikan contoh baru bahwa technology governance sama pentingnya dengan reservoir governance. Setiap keputusan ekspansi hendaknya didasarkan pada stage-gate: technical readiness, production response, incremental reserves, economic limit, HSE, legal compliance dan independent technical assurance. Dengan pendekatan ini, kegagalan parsial tidak berubah menjadi persoalan hukum, melainkan menjadi pembelajaran teknis yang terdokumentasi dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga: Riau 69 Tahun: Kaya Sumber Daya, Miskin Tata Kelola?

Memasuki Agustus 2026, CEOR Area A Lapangan Minas seharusnya ditempatkan sebagai proyek strategis nasional yang keberhasilannya merupakan kepentingan bersama, bukan hanya keberhasilan PHR. SKK Migas sejak beberapa tahun lalu telah menempatkan EOR sebagai salah satu pilar peningkatan produksi, sementara pemerintah juga terus mendorong optimalisasi lapangan existing untuk mengha­dapi penurunan alamiah produksi minyak. Pemerintah telah menerbitkan Inpres Nomor 2 Tahun 2012 yang mendorong Penerapan Teknologi EOR dalam rangka meningkatkan produksi minyak bumi nasional. 

Aktivitas kegiatan ERO khususnya CEOR terus berkembang setelah PHR melakukan injeksi chemical pada Desember tahun 2025 yang lalu, bahkan pada 2026, pengembangan CEOR mulai bergerak ke aset lain; PHE OSES telah memulai injeksi polymer di Lapangan Offshore Rama pada Juli 2026, menunjukkan bahwa chemical EOR mulai berkembang dari proyek unggulan Minas menuju portofolio yang lebih luas. Karena itu, saya melihat keberhasilan CEOR di Lapangan Minas harus dibangun melalui model quadruple helix: PHR sebagai operator dan pemilik data lapangan, perguruan tinggi sebagai pusat riset independen dan pengembangan formula/reservoir model, pemerintah pusat dan daerah sebagai regulator sekaligus fasilitator, serta masyarakat sebagai penerima manfaat sekaligus mitra sosial. 

Perguruan tinggi dapat dilibatkan dalam independent reservoir review, evaluasi coreflood, simulasi compositional/dynamic, tracer interpretation, chemical degradation, produced-water treatment dan analisis keekonomian. 

Baca Juga: URI: Ketika Ambisi Besar Mendahului Tata Kelola Pendidikan

Praktisi migas dan organisasi profesi seperti IATMI dapat menjadi ruang peer review agar capai­an Minas tidak hanya dilihat dari perspektif korporasi. Pemerintah daerah perlu memastikan koordinasi perizinan, keamanan operasi, infrastruktur dan komunikasi manfaat ekonomi sehingga keberhasilan CEOR dapat dirasakan masyarakat Riau melalui keberlanjutan aktivitas ekonomi, tenaga kerja dan penerimaan daerah. 

Pernyataan Pemprov Riau pada saat peluncuran CEOR bahwa keberhasilan proyek ini juga diharapkan berdampak positif terhadap keberlanjutan manfaat ekonomi dan Dana Bagi Hasil Migas memperlihatkan bahwa pemerintah daerah memandang proyek ini sebagai bagian dari kepentingan pembangunan daerah. 

Sementara itu, masyarakat perlu mendapatkan informasi yang terbuka mengenai tujuan, keamanan dan manfaat proyek agar CEOR tidak dipersepsikan semata-mata sebagai kegiatan industri tertutup. Yang lebih penting, PHR perlu mempublikasikan performance dashboard secara berkala tentu dengan tetap menjaga kerahasiaan data strategis yang memuat baseline production, incremental oil, water cut, injection volume, chemical utilization, uptime, cumulative oil dan economic performance. 

Jika satu tahun setelah injeksi, Desember 2026, Area A mampu mempertahankan respons positif dan membuktikan keekonomian secara konsisten, maka Lapangan Minas dapat menjadi national reference case bagi pengembangan CEOR Indonesia. Tetapi keberhasilan sesungguhnya bukan sekadar mencapai angka 2.800 BOPD. 

Baca Juga: Ujian Berat Pengelolaan Anggaran Bengkalis

Keberhasilan yang lebih besar adalah membangun metodologi yang dapat direplikasi: screening yang benar, pilot yang disiplin, formula yang sesuai reservoir, surveillance yang ketat, keputusan berbasis data, tata kelola hukum yang kuat, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Dengan cara itulah Lapangan Minas dapat memberikan “napas kedua” bukan hanya bagi Lapangan Minas, tetapi juga bagi puluhan lapangan mature Indonesia yang masih menyimpan minyak di dalam reservoir. 

Di tengah produksi minyak nasional yang terus menghadapi tekanan penurunan alamiah, keberhasilan CEOR Minas dapat menjadi salah satu jembatan penting menuju peningkatan recovery factor, perpanja­ngan umur lapangan dan penguatan ketahanan energi nasional.*** 

 

Editor : Arif Oktafian
CEOR Minas Pertamina Hulu Rokan skk migas