Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Sayangi Sesama Makhluk Hidup, Kucing Jalanan Tak Layak Disakiti

Rindra Yasin • Minggu, 7 Agustus 2022 | 10:53 WIB
Sayangi Sesama Makhluk Hidup, Kucing Jalanan Tak Layak Disakiti
Sayangi Sesama Makhluk Hidup, Kucing Jalanan Tak Layak Disakiti

(RIAUPOS.CO) - Kucing merupakan salah satu hewan yang seringkali hidup dan tinggal bersama manusia. Banyak yang mendapatkan kehidupan yang layak, tapi tak sedikit juga menjadi kucing liar yang hidup di jalanan, bahkan menjadi sasaran kekerasan oleh manusia yang tak menyukai hewan berbulu ini.

Hal ini menjadi keprihatinan dari salah satu masyarakat Pekanbaru pencinta kucing. Perempuan bernama Amerita ini mengatakan, kucing-kucing jalanan sering kali dalam kondisi menyedihkan, tak terawat, jamuran, dan terluka baik luka karena perkelahian dengan sesama kucing maupun karena tindakan manusia.

“Nggak suka kucing nggak apa-apa, yang penting jangan disakitin, jangan ditendang, dipukul. Kalau memang benar-benar nggak suka diamin aja,” katanya yang juga kerap dipanggil Memels ini, Sabtu (6/8).

Memels sendiri juga kerap membawa kucing-kucing jalanan untuk dirawat, khususnya kucing yang masih kecil dan belum dewasa. Ia juga menyediakan pakan untuk kucing di tas yang dibawanya setiap hari, di jok motor, dasbor, dan lain-lain, dengan tujuan saat bertemu kucing jalanan ia bisa berbagi rezeki.

“Kadang-kadang kalau masih kecil dibawa pulang untuk dirawat, karena kalau masih kecil masih bisa diajarin, tapi kalau sudah besar biasanya bakal berantem sama kucing besar lainnya di rumah,” tutur Memels.

Memels bercerita, saat ini ia tinggal bersama 25 ekor kucing di rumahmya, yang rata-rata adalah kucing kampung. Lima ekor di antaranya adalah kucing ras. Dikatakan Memels, awalnya ia mengadopsi dua ekor kucing ras, yang kini beranak pinak menjadi 5 ekor.

“Kucing di rumah ada 25 ekor, kebanyakan kucing kampung. Contoh kasusnya, dulu waktu beli lontong di Jalan Arifin Ahmad lihat anak kucing jamuran, rabies, jelek, terus aku minya kotak kardus ke bapak yang jual lontong dan bawa pulang anak kucing itu. Sekarang kucingnya dah besar dan terawat,” tuturnya.

Photo
Photo

Menyayangi hewan seperti kucing menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Memels. Baginya, dengan memelihara kucing ia menjadi bahagia dan jarang stres. Ia mengaku, mencintai kucing sudah sejak kecil.

Untuk memelihara kucing-kucingnya, Memels mengatakan, kucing di rumahnya selain diberi makan juga diberikan vitamin, dimandikan, divaksin, hingga sterilisasi. Meskipun biaya merawat kucing juga tak bisa dikatakan murah,  ia mengaku rezeki selalu mengalir untuknya dan kucing-kucingnya.

“Kalau punya kucing di rumah itu seru, ngilangin penat. Saya beli makan kucing itu per karung, sebulan bisa habis Rp1,2 juta buat beli makanan, tapi rezekinya ngalir aja, ada aja jalannya,” tukas Memels.

Selain itu, Memels mengatakan kesulitan memelihara kucinh yang banyak yaitu saat ada yang sakit, seperti jamur dan flu yang menular. Untuk menyiasati hal itu, Memels memisahkan antara kucing yang sakit dengan kucing yang sehat agar tidak terjadi penularan.

“Biaya berobat itu juga nggak murah, sekali berobay bisa Rp200 ribuan. Jadi untuk tindakan preventifnya dipisahin kalau ada yang sakit. Terus juga dikasih vitamin, divaksin, juga beberapa sudah dikebiri. Kebiri itu manfaatnya banyak, umur lebih panjang dan imun lebih kuat,” imbuhnya.

Memels berharap masya­rakat tidak menyakiti kucing-kucing khususnya kucing jalanan, karena menurutnya kucing juga tidak pantas untuk disakiti. “Kembali lagi, kalau memang tidak suka jangan disakiti, cukup didiamkan aja,” pungkasnya.(gus)


Laporan Mujawaroh Annafi, Pekanbaru

Editor : Rindra Yasin