Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Art Exhibition “Epic” Seniman Sumatera dan Jawa

Prapti Dwi Lestari • Senin, 2 September 2024 | 10:07 WIB
Mantan Gubri H Syamsuar dan pengunjung menikmati karya seni rupa dalam gelaran Pameran Seni Rupa “Epic” di Galeri Hang Nadim, Kompleks Bandar Seni Raja Ali Haji, Pekanbaru, Sabtu  (31/8/2024).
Mantan Gubri H Syamsuar dan pengunjung menikmati karya seni rupa dalam gelaran Pameran Seni Rupa “Epic” di Galeri Hang Nadim, Kompleks Bandar Seni Raja Ali Haji, Pekanbaru, Sabtu (31/8/2024).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Setelah sukses dengan Art Exhibition sebelumnya yang bertajuk “Kembali ke Pangkal”, kali ini Galeri Hang Nadim (GHN) Riau kembali menggelar pameran seni rupa mulai 31 Agustus hingga 30 September 2024 mendatang.

Art Exhibition kali ini mengandeng 24 Artists dari 8 Kota. Pekanbaru, Padang Panjang, Bengkulu, Tembilahan, Kuansing, Jakarta, Bandung, Yogyakarta dengan total ada 25 karya seni dan rupa dipajang dalam art exhibition ini.

Pameran yang merupakan gelaran kedua tahun ini bagi galeri yang berada di Anjungan Kampar, Kompleks Bandar Seni Raja Ali Haji ini dibuka mantan Gubernur Riau H Syamsuar, Kepala Galeri Hang Nadim Furqon LW dan dihadiri Curator Fachrozi Amri serta para pecinta seni rupa lainnya.

Syamsuar mengapresiasi puluhan karya yang ditampilkan para seniman yang bukan hanya berasal dari Bumi Lancang Kuning tetapi juga dari sejumlah kota di Indonesia.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan para generasi muda tentang seni rupa dan lainnya yang membuat mereka mengenal dan ikut melestarikan kebudayaan Indonesia.

“Saya mengapresiasi dan berharap iven ini dan berharap sukses serta dapat memberikan informasi mengenai seni rupa kepada khalayak ramai khususnya memperkenalkan tulisan Arab Melayu kepada generasi muda untuk ikut dilestarikan,” jelasnya.

Menurut Curator In House Galeri Hang Nadim Fachrozi Amri, awal tahun 2000-an, kata “epic” menjadi populer dan digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang besar, megah, ekstrem, atau luar biasa.

Kata ini merujuk pada kualitas yang positif dan intens. Menurut KBBI “epic” berarti kisah kepahlawanan atau perjuangan pahlawan yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Kata ini berasal dari bahasa Yunani Kuno “epos” yang artinya “kata, narasi, cerita”.

Dalam konteks ini, “epic”merujuk pada upaya untuk menerjemahkan dan mengaitkan narasi simbolik dari seniman Sumatera, merangkai dan mengorganisir identitas yang sering terlupakan. 

Hal ini terkait dengan proses penciptaan seni yang memiliki tujuan artistik yang ambisius, menghasilkan karya-karya yang memukau dan memiliki daya ungkap tinggi.

“Epik” digunakan untuk menggambarkan media kreatif dengan cakupan luas yang menghubungkan konsep karya dengan bentuk fisik seni. Karya seni ini mendalam, mengeksplorasi kondisi manusia, serta berbagai ide dan tema yang mencakup beragam pengalaman hidup. 

Gabungan ini menciptakan “cerita”yang ditangkap oleh seniman dalam karya mereka.

Seniman didorong untuk mengubah narasi mereka menjadi karya visual. Istilah “Epic” telah berevolusi dari sekadar menggambarkan “kata-kata” menjadi kata sifat yang menekankan “intensitas” atau “ekstrem”.

Karya seni sering kali menjadi ungkapan naratif tentang berbagai masalah kehidupan, menggunakan simbolsimbol imajinatif, sehingga seniman mengaplikasikan kepekaan dan keterampilan mereka untuk menangkap serta mengungkapkan pandangan mereka tentang nilai-nilai dalam masyarakat, termasuk isu-isu budaya, sosial, politik, dan ekonomi.

Akhirnya, “epic” menjadi sesuatu yang dapat dinikmati dan diapresiasi dalam bentuk seni rupa, dipenuhi dengan misteri, dan memukau bagi para penikmatnya. Penggunaan kata-kata yang terintegrasi dengan baik sangat penting dalam setiap presentasi seni untuk menjelaskan makna karya di ruang pameran.

Pada helat ini, Galeri Hang Nadim mengadakan pameran seni rupa yang terbuka bagi seniman/perupa di Pulau Sumatera dan Jawa dari 31 Agustus hingga 30 September 2024. 

Dengan menyajikan wacana-wacana ideal bagi seniman/perupa di Indonesia, yang diikuti sebanyak 24 Artsists dari 8 Kota di antaranya, Pekanbaru, Padang Panjang, Bengkulu, Tembilahan, Kuansing, Jakarta, Bandung, Yogyakarta.

Di antaranya, Agan Harahap dari Yogyakarta, Agus Ariya Santa dari Tembilahan, Alza Adrizon dari Pekanbaru,Anagard dari Yogyakarta, Andi Acho Mallaena Yogyakarta, Dewi Purwanti Pekanbaru, Farhana Afifah Pekanbaru, Ghilman Hauna Jakarta,Hasan Atu Pekanbaru, Hedits Tursina Pekanbaru, Induk Mubarak Kuansing, Imam Teguh SY Padang Panjang, Isra Fakhrusy Pekanbaru, Jeanny Bandung, M Rafles Pekanbaru, Nabila Alya D Bengkulu, Nur Rahma Pekanbaru, Raditya Mohamadod Pekanbaru, Saridan Pekanbaru, Syafrizal Umum Pekanbaru, Taufik Ermas Yogyakarta, Untonk Yogyakarta, Verilla Purba Pekanbaru, dan Yelmi Nanda Kuansing.

“Pameran ini menampilkan puluhan karya-karya epik kepada publik, untuk berinteraksi dengan penonton, menerima umpan balik, dan menginspirasi,” ucapnya.

Kepala Galeri Hang Nadim Furqon LW, GHN kembali menaja pameran seni rupa bertema EPIK yang menyajikan berbagai hasil karya seniman yang berkualitas.

Bahkan, sejak awal berdiri tiga tahun lebih silam, GHN telah menaja 16 kali pameran seni rupa dwi maupun trimatra secara konsisten, terjadwal, dengan ragam tematik.

Editor : RP Arif Oktafian
#art exhibition #Pameran Seni Rupa #galeri hang nadim #pekanbaru