Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Libatkan Anak Muda Jaga Ekosistem Mangrove

Soleh Saputra • Senin, 30 September 2024 | 10:40 WIB
Para anak muda dilibatkan menanam sagu dan mangrove di Desa Lukit, Kabupaten Kepulauan Meranti, Ahad (29/9/2024).
Para anak muda dilibatkan menanam sagu dan mangrove di Desa Lukit, Kabupaten Kepulauan Meranti, Ahad (29/9/2024).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO)- Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) melakukan upaya pemulihan lingkungan hidup dengan menggandeng anak muda melalui kegiatan penanaman sagu dan mangrove di Desa Lukit, Kabupaten Kepulauan Meranti, Ahad (29/9).

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam menghadapi tiga krisis planet yang saling terkait, yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. 

Kepala BRGM Hartono mengatakan, saat ini pihaknya terus melakukan upaya pemulihan lingkungan hidup melalui restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove. Pasalnya, tiga krisis planet yang saling terkait tersebut tidak hanya berdampak pada keseimbangan alam, namun berdampak erat pada keberlangsungan hidup manusia.

“Perhatian dan keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan dalam pelestarian ekosistem gambut dan mangrove. Karena itu BRGM melibatkan generasi muda, yang merupakan ujung tombak dalam pengembalian fungsi ekosistem gambut dan mangrove melalui kegiatan Youth Conservation Festival (YCFest) 2024,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, kegiatan ini di pusatkan di Desa Lukit, yang merupakan salah satu desa yang mampu menunjukkan sinergi positif dalam restorasi dan konservasi lahan gambut. Melalui keberlanjutan kegiatan restorasi seperti penanaman sagu dan pengembangan ekowisata mangrove. 

“Masyarakat di Desa Lukit secara mandiri telah melakukan rehabilitasi mangrove,” sebutnya. Sekretaris Desa Lukit Muhammad Ali Murtado menyebutkan, tantangan terberat di Desa Lukit adalah kebakaran besar tahun 2014, hal tersebut sempat menyebabkan masyarakat sulit mencari bahan pangan serta aktivitas masyarakat menjadi terganggu. 

“Di 2017-2019, ada program sekat kanal dari BRGM untuk menahan laju air sehingga lahan gambut tetap basah. Dilanjutkan pada tahun 2020, kegiatan penanaman sagu mulai berjalan, hingga tahun 2024 ini, total luas lahan gambut yang telah dilakukan revegetasi seluas 135 hektar. Selain itu, masyarakat secara mandiri telah melakukan rehabilitasi mangrove. Harapannya kegiatan restorasi gambut dan mangrove ini berjalan secara berkelanjutan,” ujar Ali.

Di desa ini, BRGM menerapkan strategi 3R, yaitu rewetting, revegetasi dan revitalisasi ekonomi. Kegiatan rewetting melalui pembangunan sekat kanal, dan sumur bor dimaksudkan agar lahan gambut tetap basah untuk mencegah kebakaran yang meluas. 

Kemudian revegetasi atau penanaman kembali lewat komoditas sagu juga dilakukan. Sagu dipilih, karena selain untuk dikonsumsi tanpa gambut harus dikeringkan, pohon sagu mampu mencegah emisi lahan gambut, baik dari kebakaran maupun dekomposisi gambut.

Selain manfaat dalam menjaga lahan gambut agar tetap basah, pohon sagu juga bermanfaat untuk revitalisasi mata pencaharian masyarakat. Hasil panen sagu dijual dalam bentuk batang yang dipotong, kemudian diolah menjadi berbagai produk turunan yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku makanan, yang memiliki nilai ekonomi dan menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat.(sol)

Silakan simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu dengan mengakses Riau Pos WhatsApp Channel

 

Editor : Rindra Yasin
#penanaman sagu #Badan Restorasi Gambut dan Mangrove #Tanam Mangrove #BRGM #Jaga Ekosistem