PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Keberadaan dua Siklon Tropis Kong-rey atau Tropical Cyclone Kong-rey yang sempat menghambat pertumbuhan awan hujan di wilayah Riau selama beberapa pekan terakhir mulai melemah. Hal ini membuat cuaca di Riau berangsur normal.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru Irwansyah Nasution menjelaskan, saat ini Siklon Tropis Kong-rey yang berada di Laut Filipina, tepatnya sebelah timur laut Filipina terpantau bergerak ke arah Korea Selatan.
Dikatakan Irwansyah, kekuatan Siklon Tropis Kong-rey juga sudah melemah sehingga dampaknya di Indonesia, termasuk Provinsi Riau juga sudah mulai tidak terasa. Kondisi ini membuat, cuaca di Riau akan kembali normal dan hujan akan kembali turun di wilayah Riau.
Hal ini juga diperkuat dengan adanya pembentukan awan di Sumatera Barat mulai tumbuh dan mengarah ke Riau sehingga potensi hujan di Riau akan terjadi selama beberapa hari ke depan. Selain itu, Riau juga sudah memasuki musim hujan dan puncaknya pada November hingga Desember.
“Secara keseluruhan Siklon Tropis Kong-rey memang dampaknya sudah mulai melemah karena di titik pusat keberadaannya juga demikian. Ini yang membuat kondisi cuaca di Riau akan kembali normal. Namun hujan bersifat tidak merata hanya terjadi di sebagian wilayah Riau saja,” tuturnya.
Berdasarkan informasi cuaca yang dikeluarkan BMKG Pekanbaru hari ini, sejak pagi hari hujan mengguyur sebagian besar Pelalawan. Pada siang hari, hujan bakal mengguyur Bengkalis dan Rokan Hilir. Kemudian, pada sore hingga malam, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di hampir sebagian besar Rokan Hulu, Bengkalis, Kampar, Siak, Kepulauan Meranti, Pelalawan, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, dan Kota Pekanbaru.
Dini hari hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Rokan Hilir, Rokan Hulu, Bengkalis, Kampar, Siak, Pelalawan, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Kota Dumai, dan Kota Pekanbaru.
Namun, BMKG Pekanbaru tetap mengeluarkan peringatan dini untuk masyarakat agar mewaspadai hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Ini diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Rokan Hilir, Rokan Hulu, Bengkalis, Kampar, Siak, Pelalawan, Kuantan Singingi, dan Kota Pekanbaru pada sore, malam atau dini hari.
Suhu udara hari ini berkisar antara 23.0-33.0 °C dengan kelembapan udara 56 persen-99 persen. Sementara arah angin berhembus ke Tenggara–Barat Daya dengan kecepatan 10 km/jam hingga 30 km/jam. Prakiraan tinggi gelombang di Wilayah Perairan Provinsi Riau berkisar antara 0.50 meter-1.25 meter atau di level tenang.
‘’Karena saat ini Riau sudah memasuki musim hujan diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometer lebih seperti banjir maupun tanah longsor. Jangan lupa untuk selalu sediakan perlengkapan hujan dalam kendaraan,” imbau Irwansyah.
Sementara itu, untuk titik panas (hotspot) wilayah Sumatera terpantau muncul 109 titik yang tersebar di Sumatera Selatan 42 titik, Jambi 19 titik, Sumatera Barat 16 titik, Riau 15 titik, Lampung 7 titik, Sumatera Utara 5 titik, Bengkulu 2 titik, Bangka Belitung 2 titik, dan Kepulauan Riau 1 titik.
Titik panas di Riau terpantau terjadi peningkatan jika dibandingan sebelumnya hanya 4 titik di Rokan Hilir. Sedangkan 15 titik panas yang terpantau kemarin tersebar di Kabupaten Pelalawan 6 titik, Indragiri Hilir 7 titik, Kampar 1 titik, dan Kuantan Singingi 1 titik.
Pekanbaru Terpapar Urban Heat Island Effect
Sementara itu, Dosen Perencanaan Wilayah Kota Universitas Islam Riau Dr Apriyan D Rakhmat menjelaskan, fenomena terjadinya peningkatan suhu udara di Kota Pekanbaru dalam pekan terakhir ini disebut dengan Urban Heat Island Effect atau Pulau Panas Perkotaan.
‘’Urban Heat Effect adalah fenomena panas di pusat kota, kawasan perdagangan, dan jasa kota yang menyebabkan suhu udara di situ meningkat beberapa derajat Celsius berbanding dengan kawasan sekitarnya,’’ jelasnya.
Menurutnya, Kota Pekanbaru saat ini sudah terpapar dengan fenomena Urban Heat Island Effect karena aktivitas Kota Pekanbaru yang semakin meningkat dan berbanding terbalik dengan ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Fenomena dipertegas dengan semakin banyaknya jumlah penduduk Kota Pekanbaru setiap tahunnya.
Termasuk penggunaan beton untuk bangunan yang tidak ramah lingkungan, kendaraan bermotor yang semakin banyak, aktivitas perindustrian, perdagangan dan jasa yang semakin masif hingga aktivitas perkotaan lainnya yang menyebabkan berkurangnya RTH.
Fenomena Urban Heat Island Effect ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat di Kota Pekanbaru. Dampak yang ditimbulkan akan memperburuk kondisi kesehatan masyarakat seperti kanker kulit, tambahan biaya hidup akibat penambahan pendingin ruangan dan kualitas udara yang semakin buruk.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Geografi Universitas Negeri Padang (UNP) pada tahun 2020 menyatakan, Kota Pekanbaru mengalami peningkatan suhu udara 3-5 derajat Celcius hanya dalam kurun waktu 18 tahun belakangan.
Kajian tersebut juga mengungkap kondisi fenomena Urban Heat Island Effect akan semakin buruk beberapa tahun ke depan. ‘’Solusinya mesti ada perencanaan tata guna tanah yang ramah lingkungan dan memastikan kecukupan bagi lahan RTH yaitu minimal 30 persen dari luasan Kota Pekanbaru,’’ ujarnya.
Selain itu, diperlukan juga pengendalian pencemaran udara yang intensif. Penelitian yang komprehensif juga diperlukan untuk memetakan masalah masalah yang timbul akan timbul akibat dari fenomena ini. Peningkatan kesadaran masyarakat akan krisis iklim juga menjadi satu urgensi yang mesti dilakukan agar berperan aktif sebagai praktisi lingkungan hidup.
Suasana panas ini juga berdampak bagi para pekerja yang beraktivitas di luar ruangan. Eko, driver ojek online di Kota Pekanbaru mengaku fenomena peningkatan suhu udara di Kota Pekanbaru sangat terasa. Apalagi ia yang sehari-hari berada di bawah terik matahari. “Kita jadinya takut mengantar orderan Pak, orderan (penumpang) pun sepi sekarang, banyak orderan makanan,’’ ungkap Eko yang berbincang dengan Riau Pos pada Kamis (31/10) lalu.
Setiap harinya, Eko yang sudah menjalani profesi itu selama 5 tahun terakhir akan mengaktifkan aplikasi daringnya mulai pukul 06.00 WIB sembari menunggu orderan. Namun dalam kurun waktu 10 hari belakangan, sebelum pukul 11.00 WIB, dirinya terpaksa berhenti dan memilih berteduh ketimbang berkelana mencari penumpang.
Terkadang Eko memilih untuk ‘ngalong’ untuk menghindari panas Kota Pekanbaru sembari menambah penghasilan. “Terik begini kadang suka pusing kepala, nggak tahan,” keluhnya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Ari rekan gojek Eko. Ia mengaku sering merasakan pusing saat mengemudi. Ari juga mengeluh dengan debu yang semakin banyak kala memasuki musim kemarau seperti sekarang. ‘’Pusing, sakit kepala sudah pasti, debu juga,’’ ujar Ari yang mengaku resah.
Yoga, mahasiswa Universitas Riau turut mengeluhkan temperatur udara Kota Pekanbaru yang ekstrem. Ia terpaksa mengurangi rutinitas di siang hari untuk menghindari paparan sinar UV (Ultraviolet) yang sudah mencapai level ekstrem di Kota Pekanbaru. ‘’Kebanyakan di rumah beberapa hari ini, takut sakit kalau keluar,’’ ungkapnya.(ayi/end)
Editor : Rindra Yasin