KOTA (RIAUPOS.CO) - Ratusan warga Tionghoa di Kota Pekanbaru, akhir pekan lalu menjalani puncak peringatan ceng beng (qing ming) atau ziarah kubur di Pekanbaru yang berlokasi di Pemakaman Tionghoa Umban Sari, Jumat (4/4). Sembahyang bersama diikuti perwakilan ormas Tionghoa dan lembaga agama Buddha di Kota Pekanbaru dan Provinsi Riau.
Rangkaian prosesi sembahyang ceng beng khususnya ziarah ke makam yang tidak diketahui identitas dan ahli warisnya ini dipimpin oleh Ketua Yayasan Sosial Panca Bhakti Abadi Pekanbaru, Toni Sasana Surya.
Toni Sasana Surya, Ahad (6/4) katakan, setiap tahunnya Yayasan Sosial Panca Bhakti Abadi melaksanakan sembahyang bersama dan ziarah ke makam tanpa identitas dan tidak diketahui ahli warisnya. Termasuk ziarah ke makam-makam yang ahli warisnya tidak sempat datang.
”Ceng beng dilaksanakan selama 20 hari. Tahun ini, puncaknya jatuh pada tanggal 4 April. Warga Tionghoa sudah ziarah kubur 10 hari sebelum tanggal 4 April dan 10 hari setelahnya,” terangnya.
Diperkirakan sekitar 6.000 warga Tionghoa mendatangi Pemakaman Tionghoa Umban Sari Rumbai untuk memperingati ceng beng. Peziarah berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang datang dari luar negeri.
Saat ini, di Pemakaman Tionghoa Umban Sari terdapat sekitar 5.000 makam dan 1000 tempat abu jenazah, termasuk puluhan makam tanpa identitas dan tidak diketahui ahli warisnya.
Sementara itu, Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Pekanbaru, Herman Surya berharap tradisi ceng beng terus dipertahankan dan diperkenalkan kepada generasi muda. ”Tradisi sangat baik, karena salah satu bakti memuliakan leluhur yang harus dilakukan oleh umat Buddha dan warga tionghoa,” katanya.
”Setiap tahun kita melakukan ziarah dan berdoa di makam tanpa identitas serta tidak diketahui ahli warisnya, termasuk di makam-makam yang belum dikunjungi sanak keluarganya,” katanya.(ayi)
Editor : Arif Oktafian