PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Selama satu pekan terakhir, sejumlah ruas jalan Kota Pekanbaru, baik protokol maupun alternatif dikepung oleh gunungan sampah limbah rumah tangga. Sampah itu tak kunjung diangkut petugas pengangkutan sampah dari PT Ella Pratama Prakarsa (EPP). Pantauan Riau Pos, Sabtu (7/6) di sejumlah ruas jalan protokol dan alternatif di Kota Pekanbaru seperti Jalan Arifin Ahmad, Jalan Tengku Bey, Jalan Kaharudin Nasution, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Paus, dan Jalan Tuanku Tambusai, tumpukan sampah yang didominasi limbah rumah tangga dan kotoran dari hewan kurban dibuang sembarangan di pinggir jalan. Bahkan salah satu lokasi yang merupakan TPS illegal, tumpukan sampahnya mencapai lebih dari 20 meter yang hingga kini belum dilakukan pengangkutan oleh dinas terkait.
Alhasil, masyarakat sekitar dan juga pengendara yang melintas di ruas jalan tersebut mengeluhkan aroma busuk yang menyeruak ke permukaan akibat tumpukan sampah yang mulai mengalami proses pembusukan. Tak hanya itu, tumpukan sampah juga dikerubungi lalat hijau serta belatung yang mulai mengganggu kenyamanan pengendara dan masyarakat sekitar.
Seorang warga di Jalan Paus Nasrullah (52) mengungkapkan, tumpukan sampah di TPS yang berada di bawah jembatan Jalan Paus tersebut sudah selama 4 hingga 5 hari tak kunjung dilakukan pengangkutan oleh petugas pengangkut sampah yang biasa bertugas. Akibatnya tumpukan sampah bukan hanya melebar ke badan jalan, tetapi juga banyak yang berjatuhan ke saluran air.
Tak hanya itu, banyak masyarakat yang menggunakan mobil pick up serta beca motor yang membuang limbah kotoran hewan kurban ke TPS tersebut dan juga saluran air, sehingga mulai mengganggu kenyamanan masyarakat lantaran aroma busuk yang mulai menyeruak ke permukaan.
“Biasanya tumpukan sampah di lokasi tersebut kerap dilakukan pengangkutan. Namun sejak 4 hingga 5 hari terakhir, tumpukan sampah itu tidak pernah dilakukan pengangkutan sehingga melebar dari bawah jembatan hingga hampir menutupi sebagian badan Jalan Paus,” ucapnya.
Ia juga mengeluhkan aroma busuk yang mulai mengarah ke tempat usahanya yang membuat para pelanggannya merasa tidak nyaman dengan bau busuk itu.
“Terganggu sudah pasti. Kami jualan makanan juga di sekitar sini, selain usaha rental. Bau busuknya itu yang kadang mengarah ke sini karena terbawa angina. Belum lagi banyak warga yang buang jeroan sapi kurban di sekitar sini. Tentu jadi semakin resah kami kalau seperti ini. Semoga saja dalam waktu dekat bisa diangkut sampahnya,” katanya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Sri (48) seorang pedagang di Jalan Arifin Ahmad. Ia mengaku, tumpukan sampah yang dibuang di bahu Jalan Arifin Ahmad sudah tidak dilakukan pengangkutan selama hampir sepekan. Bahkan tumpukan sampah yang ada di bawah trotoar terjatuh ke badan jalan dan mengganggu kenyamanan pengendara, serta masyarakat yang berada di lokasi.
“Nggak tau juga kenapa tidak diangkut, yang pasti kami setiap bulan selalu bayar, biasanya Rp15.000/bulan. Ini malah dibiarkan menumpuk di atas trotoar,” jelasnya.
DLHK Ambil Alih
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Pekanbaru menegaskan bahwa pihaknya telah mengambil alih proses pengangkutan sampah di wilayah Kota Bertuah. Langkah ini diambil menyusul aksi mogok kerja yang dilakukan oleh para pekerja PT Ella Pratama Perkasa (EPP), perusahaan swasta yang menjadi mitra pengangkutan sampah.
Kepala DLHK Pekanbaru, Reza Aulia Putra, Jumat (6/6) membenarkan bahwa pengangkutan sampah di Kota Pekanbaru sempat mengalami gangguan. Meski demikian, DLHK segera turun tangan untuk mengambil alih tanggung jawab tersebut dan memastikan sampah yang menumpuk tetap terangkut.
“Para pekerja melakukan mogok kerja. Ini karena pihak ketiga urung melakukan pembayaran upah dan sewa truk pengangkut. Harusnya ini tidak terjadi, dan pihak ketiga jelas melanggar perjanjian kerja sama,” ujar Reza.
Reza menjelaskan bahwa saat ini Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru melalui DLHK telah mengerahkan personel serta armada milik dinas untuk menangani pengangkutan sampah. Terkait dengan pelanggaran yang dilakukan oleh PT EPP, Reza menyebutkan pihaknya tengah melakukan kajian untuk kemungkinan pemutusan kontrak.
“Ini jelas sangat merugikan Pemko Pekanbaru dan masyarakat. Kami tengah mengkaji bagaimana proses pemutusan kontrak. In sya Allah ke depan, kami akan lakukan pengelolaan langsung tanpa pihak ketiga,” sambung Reza.
Reza menambahkan bahwa permasalahan dalam pengangkutan sampah akibat kelalaian mitra swasta ini bukan kali pertama terjadi. Bahkan sebelumnya, Wali Kota (Wako) Pekanbaru Agung Nugroho sempat mengumpulkan seluruh armada serta pekerja dari PT EPP untuk mengevaluasi langsung.
“Tidak sekali ini saja. Bahkan kemarin Bapak Wali Kota sempat mengumpulkan seluruh armada dan pekerja dari PT Ella. Beliau cek langsung jumlah armada, jumlah pekerja, hingga trayek pengangkutan,” imbuhnya.
Reza menyebut, dalam kesempatan itu, PT EPP sempat menyampaikan komitmen kepada Wako Agung Nugroho untuk membayar gaji dan biaya sewa armada tepat waktu, agar proses pengangkutan tidak terganggu.
“Namun pada kenyataannya, mereka kembali tidak menepati perjanjian kerja. Sehingga para pekerja memilih untuk mogok. Imbasnya, pengangkutan sampah kembali mandek. Ini akan kami evaluasi total,” tutupnya.
PT EPP terpilih menjadi pemenang lelang jasa angkutan sampah Kota Pekanbaru mulai 1 Januari 2025 hingga 2 Juli 2025. Perusahaan ini berkewajiban mengangkut sampah berdasarkan pembagian zona kawasan. Yakni kawasan 1 terdiri dari Kecamatan Tuah Madani, Binawidya, Marpoyan Damai, Payung Sekaki, Senapelan, dan Sukajadi.
Kemudian kawasan 2 meliputi Kecamatan Sail, Limapuluh, Pekanbaru Kota, Bukit Raya, Tenayan Raya, dan Kulim. Sementara untuk kawasan 3 meliputi Kecamatan Rumbai, Rumbai Barat dan Rumbai Timur. Untuk kawasan 1 nilai kontraknya sebesar Rp16,8 miliar. Lalu kawasan 2 Rp11,8 miliar dan kawasan 3 Rp4,7 miliar. Sesuai dengan kontrak tersebut, PT EPP akan mengangkut sampah Kota Pekanbaru dari sumber hingga ke TPA.(ali/ayi/muh)
Editor : Bayu Saputra