PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar masih terjadi kelangkaan di Riau. Puluhan mobil bermesin diesel terpaksa mengantre sampai ke jalan raya hingga berjam-jam agar bisa mendapatkan BBM bersubsidi tersebut di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Kendaraan tampak mengantre di sejumlah pengisian solar di Pekanbaru seperti di SPBU di Simpang Lampu Merah Jalan Imam Munandar-Kelapa Sawit, SPBU Rawamangun, dan SPBU Jalan Arifin Achmad.
Puluhan mobil bermesin diesel terpaksa mengantre sampai ke jalan raya hingga berjam-jam. Pantauan Riau Pos, Ahad (9/11) pagi, di SPBU Simpang Lampu Merah Jalan Imam Munandar-Kelapa Sawit tampak mobil bermesin diesel terpaksa mengantre hingga ke luar pintu masuk SPBU.
Memang tidak terjadi kemacetan di lokasi tersebut karena mereka antre di sisi kiri badan jalan. Namun, toko yang berada di pinggir jalan tampak juga memasang imbauan agar kendaraan yang antre tidak menutup jalan masuk ke dalam toko mereka.Hampir 3 Pekan, Antre 2 Jam Lebih untuk Dapatkan Solar
Salah seorang sopir mobil truk angkutan pasir Kiwil mengatakan, memang saat ini masih terjadi kelangkaan solar. Ia harus mengantre di SPBU hingga 2 jam, bahkan lebih. Menurutnya, kondisi ini sudah terjadi sejak tiga pekan terakhir.
‘’Untuk mendapatkan BBM jenis solar, saya harus mengantre hingga 2 jam bahkan lebih. Ini memang sering terjadi apalagi menjelang akhir tahun. Tahun lalu juga menjelang akhir tahun juga terjadi kelangkaan seperti ini,” ujarnya kepada Riau Pos, Ahad (9/11).
Menurutnya, antrean panjang hingga ke jalan raya yang terjadi di beberapa SPBU mengganggu pengguna jalan lainnya. Masyarakat mengeluhkan keberadaan SPBU yang dianggap tidak mengindahkan keamanan dan kenyamanan pengendara lain.
Menurutnya juga, beberapa SPBU terlihat tidak mengatur antriEn yang menggunakan jalan umum sehingga menyebabkan kemacetan, apalagi kalau yang antrean itu kendaraan bertonase besar. “Kami juga meminta agar pihak SPBU bisa mengatur kendaraan yang mengantre agar tidak menggangu penggunaan jalan lain,” ujarnya.
Berbeda di SPBU Jalan Soekarno Hatta. Ahad (9/11), tampak antrean tidak terlalu panjang. Petugas SPBU mengatakan bahwa pasokan solar dari Pertamina sudah lancar. “Suplai solar sudah normal. Kalau kemarin sempat habis beberapa jam, sekarang stok aman,” ujar Reni salah seorang operator SPBU.
Kembalinya pasokan solar ini disambut lega oleh para sopir angkutan barang. Mereka mengaku kini bisa kembali beroperasi seperti biasa tanpa harus antre berjam-jam. “Dua hari lalu saya antre sampai satu jam, sekarang datang antre sebentar langsung isi. Semoga stabil terus,” kata Doni, sopir truk.
Sementara itu, BBM jenis pertamax dilaporkan masih tersedia dengan stok yang cukup di sejumla SPBU.
Antrean kendaraan di SPBU Jalan SM Amin dan Jalan Soebrantas sudah tidak lagi mengular panjang seperti sebelumnya. Sopir truk dan kendaraan diesel tampak bisa langsung mengisi bahan bakar tanpa menunggu lama.
“Sekarang sudah lancar, antre sebentar saja. Kemarin sempat susah dapat solar, tapi sekarang stok aman,” ujar Indra, sopir truk pengangkut barang.
Namun, antrean truk terjadi di SPBU perbatasan kota yakni SPBU Simpang Pandau Jalan Pasir Putih. Antrean di jalan yang dilintasi kendaraan angkutan barang jalur lintas timur ini kerap memicu kemacetan. Antrean masih terlihat sekitar pukul 15.30 WIB. Padahal pada jam ini SPBU di pintu masuk kota dari Pangkalankerinci itu sudah tidak melayani pengisian solar.
Menurut petugas, solar habis dan masih menunggu pengisian. Hanya saja, para sopir truk lintas provinsi masih bertahan antre di sepanjang pinggir Jalan Pasir Putih. Antrean truk-truk berat ini tidak hanya memicu kepadatan lalu lintas saat jam sibuk, tapi juga merusak permukaan tanah pinggir jalan.
Para pedagang kaki lima di sekitar lokasi bahkan meletakkan ban agar truk tak antre di depan warung dagangan mereka. ‘’Payah orang masuk kalau berhenti di depan (kedai). Itu di sana juga banyak tanah yang turun, akibat lamanya truk berhenti,’’ kata salah seorang pemilik warung.
Tak hanya di Pekanbaruk, pemandangan warga antrean mengisi BBM bersubsidi di SPBU juga terlihat di Bagansiapiapi, Rokan Hilir dalam sepekan ini. Terdapat dua SPBU yang beroperasi di ibukota Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) ini yakni di Batu Empat yang merupakan SPBU milik Pemkab Rohil dan di jalan Bintang Kepenghuluan Bagan Jawa.
Dari pantauan, aktivitas pelayanan pengisian BBM di dua SPBU tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif berbeda. SPBU Batu Empat biasanya melayani pengisian BBM baik pertalite maupun solar dan pertamax berlangsung pada pagi hari dan tutup pada sore.
Manajer SPBU Bagansiapiapi Adharsam mengungkapkan hal itu terjadi karena pasokan BBM yang terbatas. “Jadi untuk pengisian BBM berlangsung cukup singkat,” katanya.
Ia menuturkan untuk pemenuhan BBM dilakukan jika BBM dipesan terlebih dahulu sehari sebelumnya. Jika sudah, selanjutnya BBM didatangkan ke SPBU dengan durasi waktu pengisian yang biasanya berlangsung setengah hari karena meningkatnya pengisian sehingga dalam setengah hari saja sudah habis lagi.
Dari pantauan, pengisian solar atau pertamax di SPBU ini terjadi antrean mobil pribadi dan truk lebih sering terlihat dibandingkan pengisian kendaraan roda dua.
Sementara di SPBU Bintang, menjelang sore, Ahad (9/11) kemarin terlihat antrean kendaraan didominasi berupa kendaraan roda dua atau sepeda motor. Sementara untuk stasiun pompa yang berisikan pertamax dalam keadaan kosong dan tidak melayani pengisian.
Dari empat pompa, hanya terlihat satu yang melayani pengisian. Sementara antrian kendaraan cukup panjang. Warga konsumen mengeluhkan terus terjadinya antrean pada saat pengisian BBM terutama untuk pengisian jenis pertalite.
Di Telukkuantan, Kuantan Singingi (Kuansing), sulitnya mendapatkan solar dan pertamax masih berlangsung. Di SPBU Sungai Jering, antrean kendaraan terlihat mulai dari simpang bundaran SMAN Pintar hingga simpang MR DIY. Untuk mendapatkan solar itu, para sopir harus bersedia antre hingga2-3 jam bahkan ada yang lebih.
Pengelola SPBU Sungai Jering, Masran mengatakan, kelangkaan solar maupun pertamax ini disebabkan kuota yang di-drop dari Pertamina tidak tetap. Padahal, kuota di SPBU mereka, 16 KL per Hari. Tetapi terkadang hanya dikirim 16 KL dan 8 KL per hari. “Kalau cuma 8 KL yang dipasok, alamat seperti ini. Minyak habis, kalau ada pun akan antrean panjang,” kata Masran, Ahad (9/11/2025) malam.
Sekarang, pertamax justru terkadang hanya masuk sekali dua hari. Dalam jangka waktu itu, kuota yang dikirim tidak tetap. Ada yang dikirim 16 KL dan ada yang dikirim 8 KL. Kondisi ini, kata Masran, sering terjadi pada menjelang akhir tahun. “Dan kami tidak tau persis apa penyebabnya,” ujarnya.
Pihak pertamina, lanjut Masran hanya menyampaikan kalau itu dilakukan untuk menjaga kuota setiap SPBU tidak melebihi kuota per tahunnya. “Memang SPBU ini kuotanya per tahun. Makanya, Pertamina melihat kalau kuota SPBU sudah mendekati penuh, akan dilakukan pengurangan,” papar Masran.
Terkait realisasi permintaan penambahan kuota biosolar dari daerah-daerah di Riau serta stok pertamax yang sulit dicari, Pertamina Patra Niaga Sumbagut belum memberikan keterangan resmi. Saat dihubungi Riau Pos, Humas Pertamina Patra Niaga Sumbagut belum memberikan konfirmasi terkait hal tersebut.(dof/end/fad/dac)
Editor : Rindra Yasin