PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - DI era globalisasi kesehatan, kemampuan berbahasa Inggris telah menjadi salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki mahasiswa fakultas ilmu kesehatan. Setiap mahasiswa dituntut untuk memahami literatur medis internasional, mengikuti perkembangan riset global, serta mampu berkomunikasi dengan pasien, tenaga medis, maupun institusi kesehatan dari berbagai negara. Namun, ada satu hal yang sering terabaikan dalam pembelajaran bahasa: bahwa komunikasi bukan hanya persoalan kata, tetapi juga budaya, nilai, dan etika.
Dalam konteks Provinsi Riau, kita memiliki sebuah warisan berharga yang tidak boleh hilang: kesantunan berbahasa Melayu Riau. Kesantunan ini bukan sekadar gaya bicara, melainkan sistem nilai yang mencerminkan penghormatan, kelembutan, dan kebijaksanaan dalam berinteraksi. Menariknya, nilai ini sangat relevan dengan profesi kesehatan, di mana setiap tenaga medis dituntut untuk tidak hanya memberikan layanan, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi pasien.
Oleh karena itu, integrasi pembelajaran Bahasa Inggris dengan kesantunan berbahasa Melayu Riau merupakan langkah strategis dan akademis untuk membangun kompetensi komunikasi yang utuh bagi mahasiswa kesehatan. Ini bukan romantisme budaya, melainkan kebutuhan profesional.
Baca Juga: Operasi Zebra Lancang Kuning 2025 Dimulai, Polresta Gelar Apel Pasukan
Keterampilan Global, Nilai Lokal
Dalam English for Specific Purposes (ESP), terutama bidang kesehatan, mahasiswa belajar tentang dialog medis, prosedur klinis, hingga komunikasi profesional. Namun demikian, penggunaan bahasa tanpa sentuhan nilai budaya dapat menghasilkan komunikasi yang terasa kaku, terlalu langsung, atau bahkan menyinggung perasaan pasien.
Di sini, kesantunan Melayu Riau berperan penting. Prinsip-prinsip seperti menjaga marwah, memilih kata yang sopan, berbicara dengan nada menenangkan, dan menghindari kalimat menggurui, sejatinya sejalan dengan prinsip etika medis internasional seperti patient-centered communication dan therapeutic interaction. Artinya, budaya lokal memiliki potensi besar untuk memperkuat standar komunikasi global.
Relevansi bagi Mahasiswa Fakultas Kesehatan
Mahasiswa yang berasal dari Fakultas Kesehatan adalah calon perawat, bidan, analis kesehatan, terapis, dan berbagai profesi lain yang akan berhadapan langsung dengan masyarakat. Dalam situasi nyata, komunikasi yang santun sering kali lebih menentukan keberhasilan penanganan dibanding kemampuan teknis semata. Misalnya: Menyampaikan diagnosis dalam Bahasa Inggris dengan nada empatik, bukan sekadar informatif; meminta izin pemeriksaan dengan pilihan kata yang halus dan menghargai privasi pasien; serta mengajukan pertanyaan medis sensitif dengan pendekatan nonkonfrontatif sebagaimana nilai Melayu mengajarkan.
Jika kesantunan Melayu diintegrasikan dalam pembelajaran, mahasiswa tidak hanya belajar apa yang harus dikatakan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.
Baca Juga: Rumah Bulatan dan Rumah Petak Permanen di Marpoyan Damai Ludes Terbakar, 6 Unit Mobil Damkar Dikerahkan Padamkan Api
Pembelajaran Bahasa Inggris berbasis budaya bukan hal baru dalam dunia akademik, namun penerapannya pada ranah kesehatan di Riau masih minim. Padahal, pendekatan ini memberi tiga manfaat sekaligus: pertama, memperkuat identitas lokal mahasiswa di tengah derasnya globalisasi; kedua, meningkatkan kualitas komunikasi profesional sesuai etika medis internasional; dan ketiga, menciptakan lulusan kesehatan yang berdaya saing tinggi namun tetap berakar pada karakter daerah.
Mengintegrasikan Bahasa Inggris dengan kesantunan Melayu bukan berarti menolak modernitas. Sebaliknya, ini adalah upaya menjembatani kekayaan budaya lokal dengan tuntutan dunia kesehatan internasional. Generasi mahasiswa kesehatan di Provinsi Riau tidak boleh kehilangan akar ketika terbang ke dunia global.
Jika sejak kuliah mereka telah dilatih berbicara santun, berbahasa halus, dan menghormati lawan bicara meskipun menggunakan bahasa Inggris, maka mereka akan tumbuh menjadi tenaga kesehatan yang bukan hanya kompeten secara akademik, tetapi juga berkarakter—sebuah kombinasi yang sangat dibutuhkan dunia kesehatan saat ini.
Pada akhirnya, pembelajaran Bahasa Inggris bagi mahasiswa kesehatan di Provinsi Riau harus bergerak menuju model yang lebih holistik: menguasai bahasa dunia, namun tetap menjaga marwah Melayu.***